Kampus seharusnya menjadi tempat diskusi. Umumnya seputar hal ilmiah. Namun tidak menutup kemungkinan untuk menjadi aktivitas lainnya. Mulai dari kegiatan spiritual hingga hiburan. Spiritual misalkan. Masjid kampus menjadi tempat utama untuk pelaksanaan ibadah bersama seperti tabligh akbar. Pada acara tertentu seperti bazar, terjadi transaksi ekonomi yang bukan hanya dihadiri oleh mahasiswa, tapi warga sekitar.
Bagaimana dengan kegiatan hiburan? Biasanya diadakan di auditorium kampus. Acara seperti konser, pentas seni, hingga stand up comedy. Acara yang lebih disukai oleh mahasiswa dibandingkan kegiatan ilmiah seperti seminar, workshop atau simposium.
Tentu, masih banyak aktivitas lainnya yang diperbolehkan dengan aturan yang berlaku. Ada juga kegiatan terlarang seperti sosialisasi LGBTQ dengan beragam pendekatan. Namun bagi segelintir orang yang mengaku open minded, ada-ada saja pembenaran yang dilakukan. Mereka punya jutaan cara dan narasi untuk melegalisasi penyimpangan ini.
Selain penyebaran pemikiran menyimpang, kampus seharusnya tidak menjadi pendukung politik praktis seperti kampanye politisi. Namun sayangnya, tidak jarang kampus yang obral guru besar untuk para politisi yang rekam jejaknya diragukan. Kenapa? Karena transaksi tersebut sedikit banyaknya pasti menguntungkan bagi kampus. Pertanyaannya adalah, apakah etis?
Perihal etika belakangan ini semakin menjadi-jadi. Orang yang menjadikan etika sebagai standar tertinggi kerapkali dikucilkan dengan dalih sok suci. Sebaliknya, orang yang menjual idealismenya dianggap sebagai pahlawan. Karena tidak ada yang suci. Yang terpenting adalah berada di posisi tertinggi, barulah bisa mengubah segalanya. Pernyataan yang sebenarnya tidak bisa dibuktikan. Sebatas janji yang belum tentu bisa ditepati.
Selain obral guru besar, setidaknya ada satu lagi yang tidak etis untuk diadakan di kampus. Apa itu? Dangdutan.
Beberapa tahun belakangan, viral video rekaman mahasiswa yang berjoget di masjid. Mirisnya, kampus tersebut adalah kampus Islam. Kok bisa? Silakan cari saja beritanya. Namun pasti saja ada pembenarannya.
Di lain tempat, dan saya yakin pasti banyak, kampus yang menjadikan joget bersama sebagai kegiatan hiburan. Pilihan lagunya mulai dari dangdutan hingga ajib-ajib yang entah apa genrenya. Pertanyaannya sederhana, etiskah?
Bukan hanya gerakan dan pilihan hiburannya. Karena tidak jarang lagu-lagu yang dibawakan tidak sepantasnya diputar di kampus sebagai tempat mendidik generasi masa depan bangsa. Sebagaimana acara pernikahan yang membawakan lagu kesedihan‒padahal harusnya lagu berbahagia sebagai pilihan‒begitu pula dengan dangdutan di kegiatan kampus. Tidak cocok rasanya. Salah tempat.
Dangdutan, lirik lagu yang tidak sesuai, hingga pertunjukan dari sang pemegang mic. Di sebuah kegiatan hiburan kampus, seorang dosen yang memegang mic berkata,
“Ayo ikutan semuanya. Yang nggak ikutan, saya kasih nilai C. Yang ikutan nyawer dikasih niai A.”
Saya tentu saja beranggapan bahwa itu hanya bercanda. Namun saya belum bisa menerima jika hal tersebut dinormalisasi oleh civitas akademika. Walaupun hanya sebatas hiburan, tapi apakah pantas?
“Kok kamu kaku banget sih seperti kanebo kering. Santai ajalah. Kan enggak mengganggu hidupmu.”
Pasti saja ada yang berpikir demikian, dan saya hanya bisa mengelus dada. Barangkali saya memang terlalu berekspektasi tinggi pada kampus. Sebab, jangankan di kampus, di istana saja pernah mengadakan joget dangdut usai upacara kemerdekaan. Lantas, apa salahnya jika kampus menirunya?
Namun hingga kini saya masih bertanya-tanya: mengapa harus ada joget bersama setelah upacara yang seharusnya sakral? Apakah hiburan begitu penting dalam momen peringatan kemerdekaan? Bukankah Indonesia kaya dengan budaya lain yang lebih bermakna? Atau justru joget dangdut dianggap budaya yang wajib dilestarikan, meski ironisnya dilakukan di istana?
Sungguh miris, ketika rakyat jelata merayakan kemerdekaan dengan iuran seadanya, sementara pejabat merayakannya dengan hiburan dari uang negara. Pada akhirnya, apakah peringatan kemerdekaan ini benar-benar bermakna, atau hanya sekadar seremonial belaka?
Baca juga:
Media Idealis: Ekspektasi yang Terlalu Tinggi dan Tidak Realistis?
Ketika Akademisi Tidak Lagi Didengar: Matinya Kepakaran di Indonesia
Refleksi Keteladanan: Tokoh Publik Kencing Berdiri, Rakyat Kencing Berlari