Nyiyiran yang Melemahkan
Pertanyaan yang paling sering datang tanpa diminta, tanpa solusi, dan seringkali tanpa empati: “Jadi, kapan nikah?”
Bagi yang belum menikah, pertanyaan seperti ini mungkin akan menjengkelkan. Pertanyaan yang berulang kali disampaikan yang entah apa niatnya. Sebagian besar hanya nyiyir. Atau mungkin basa basi yang lebih banyak basinya. Namun hanya sedikit yang bertanya dengan ikhtiar untuk membantu. Bukan hanya membantu dengan nasihat yang menggurui, tapi memberi solusi dengan ikhtiar mempertemukan.
Saya dulunya juga cukup jengkel dengan pertanyaan serupa. Ditambah lagi dengan embel-embel menggurui hanya karena si penanya yang lebih berpengalaman.
“Kok belum nikah sih? Umurnya udah berapa? Udahlah, jangan pemilih.”
Sesekali, saya bisa saja melawan dengan pedas. Namun saya cenderung lebih bisa menahan diri. Karena bagaimanapun, kita tidak bisa mengontrol apa yang di luar kendali diri. Yang bisa kita kontrol hanyalah respon dalam diri. Kita tidak bisa memastikan orang lain tidak bertanya terus menerus. Toh, kendalinya ada di diri mereka. Namun yang pasti, kita bisa mengontrol diri sendiri. Tidak mudah, tapi itulah yang bisa kita kendalikan.
Bagi yang selalu ditanya dan mulai jengkel, bisa jadi akan muncul bisikan dalam diri. Untuk apa sih menikah? Jika diri masih dikuasai dengan pikiran dan lingkungan yang baik, berbagai nasihat dan penyemangat akan menguatkan. Namun jika diri sudah futur ditambah lagi lingkungan yang tidak mendukung, berbagai kesimpulan liar akan muncul. Prasangka buruk semakin kuat. Hingga kekhawatiran berlebih dan berbagai penghakiman kepada yang sudah menikah.
“Untuk apa nikah jika ujungnya bercerai.”
“Menikah tidak akan membuat bahagia.”
“Kenapa harus terikat jika bisa bergaul dengan bebas?”
Saya berdoa, semoga prasangka buruk yang ada bisa terhapus dan kemudian diperlihatkan dengan kebaikan yang lebih banyak terjadi dari ikatan pernikahan.
Berprasangka Baik dalam Penantian
Saya menikah memang tidak di usia yang relatif muda. Dari target menikah usia 24 tahun, ternyata baru terealisasi di usia 29 tahun. Harus menunggu 5 tahun dengan berbagai lika liku perjalanan. Bagi yang tidak mengetahui bagaimana kisah perjalanan ini, mungkin mereka akan mengambil berbagai kesimpulan yang keliru. Namun saya tak terlalu memusingkan. Saya punya jawaban dari setiap pertanyaan. Dari setiap perjalanan itu pula lahir banyak karya. Mulai dari Opini Hati, Kita dalam Kata, Kita Bercerita, hingga Teropong Waktu yang ditulis bersama istri. Dan yang paling saya yakini, takdir Allah pasti yang terbaik. Jika Allah menakdirkan baru menikah di usia 29 tahun, kenapa harus memaksa di usia 24 tahun? Semua karya tersebut ada versi ebooknya. Kamu bisa baca di lynk.id/rezkypassionwriter
Berbicara tentang takdir, mungkin banyak orang yang keliru dalam memahaminya. Menganggap takdir adalah hasil tanpa ikhtiar. Apa yang terjadi, ya terjadilah. Padahal tidak sesederhana itu. Menerima takdir bukan sebatas berpasrah tanpa ikhtiar.
Menjaga prasangka baik pada Allah memang menjadi PR tersendiri bagi siapa saja. Termasuk bagi yang ingin menikah karena tuntutan usia dan orang sekitar. Segala hal yang dibutuhkan sudah siap. Namun, orangnya mana?
Tapi tunggu, apa indikator siap? Tabungan puluhan bahkan ratusan juta untuk resepsi pernikahan? Rumah sendiri yang nyaman tinggal bersama keluarga baru? Gaji dengan nominal dua digit? Bisa jadi semua itu dibutuhkan. Namun percayalah, bukan itu yang paling penting. Pendidikan pranikah sudah membahas banyak tentang hal itu. Saya tak perlu lagi membahasnya.
Lagi-lagi, menjaga prasangka baik pada Allah. Tidak mudah. Sungguh. Apalagi jika diri ini sudah berupaya dengan maksimal, tetap menjaga diri, tapi orangnya juga belum ditemukan. Sedangkan orang lain yang mungkin kamu kenali sudah dipertemukan dengan berbagai dinamikanya. Lalu diri berbisik,
“Kenapa mereka yang ibadahnya biasa-biasa saja Allah pertemukan cepat? Sedangkan aku sudah beribadah dan berupaya tetap menjaga, tapi kenapa belum Allah pertemukan? Apakah Allah tidak seadil itu?”
Prasangka baik mulai sirna. Mulailah diri berpikir liar,
“Melenceng sedikit apa salahnya? Toh yang lain aman-aman saja.”
Satu per satu kelalaian kecil dinormalisasi. Yang biasanya mendatangi kajian, kini mencari kesenangan di luar kajian. Yang biasanya mendiskusikan keumatan, mulailah membahas hubungan spesial. Yang biasanya begitu terjaga, kini mulai pergi pulang berboncengan. Apa salahnya? Toh, kan enggak aneh-aneh. Begitu dalihnya.
Niat baik pun terungkapkan. Kelak hubungan yang sudah mulai akan berlanjut ke pernikahan. Namun tahun depan ketika dirasa sudah mapan. Tahun ini, diikat terlebih dahulu dengan tunangan.
Dua keluarga pun dipertemukan. Bertukar cincin menjadi simbolis. Engkau yang begitu menghindar saat berpegangan tangan, kini mulai menurunkan standar. Tidak ketinggalan foto berdua dengan dekorasi yang indah untuk kebutuhan dokumentasi pre wedding. Jika dirasa kurang, nanti bisa foto kembali ke studio dengan baju yang beragam. Orang tuamu tersenyum. Namun ada yang mengganjal dalam hati. Apa itu? Entahlah. Engkau mengabaikannya begitu saja.
Setelah tunangan, hubunganmu pun semakin spesial. Sosok yang kelak kamu yakini sebagai pendamping menuju surga semakin dikenali. Pergi berdua ke sana ke mari. Sesekali pergi bersama yang lain, tapi lebih sering pergi berdua saja. Tidak lupa dengan foto bersama yang diposting di media sosial. Toh, apa salahnya. Bukankah ini masa saling mengenali? Lagipula, tidak ada yang aneh dilakukan bersama. Hanya sekadar menemani perjalanan.
Pelan tapi pasti, perasaanmu semakin jelas. Ada rasa kecenderungan yang semakin kuat. Namun tidak sedikit penurunan. Jangankan merutinkan ibadah sunnah, ibadah wajib saja pas-pasan. Ibadah hanya semangat jika diingatkan oleh pasangan. Jika tidak, ah biarkan saja. Toh nanti setelah menikah akan dibimbing.
Tentu tidak ada perjalanan yang lancar-lancar saja. Rintangan itu pasti ada. Namun bagi yang sudah jatuh cinta, tentu sulit mendahulukan logika. Satu per satu aib mulai terlihat. Namun mata ini sengaja tak melihat. Telinga sengaja tak mendengar. Semua itu pasti salah sangka.
Fakta tak bisa lagi ditutupi. Saat engkau mempersiapkan ini itu, sang pasangan mulai berbelok. Mencari pelampiasan dengan orang lain. Menemani untuk mengerjakan tugas, membantu bisnis, atau hanya jalan-jalan biasa saja dengan lawan jenis. Bahkan mulai berjanji manis dan curhat yang tak penting. Teman dekatmu memberi tahu semua itu. Tapi kamu tetap menolak fakta itu. Lalu dalam hati dirimu berkata,
“Ini pasti ujian menjelang hari H. Bukankah sebelum hadirnya pelangi ada hujan badai?”
Dirimu menghibur diri dengan berbagai pembenaran. Sesuatu yang sebenarnya petunjuk dari Allah, tapi terlihat sebagai ujian menjelang pernikahan.
Semuanya berjalan begitu saja. Entah sampai atau tidak menuju hari H bersamanya. Entah kelak bahagia atau tidak. Namun yang jelas, hubungan ini sudah terlanjur berjalan. Jika dihentikan, bukankah malu rasanya?
Ketika Ikatan Suci Mulai Terkikis
Ikatan suci. Inilah yang biasanya disebutkan oleh banyak orang. Namun banyak yang lupa untuk menjaga ikatan suci untuk tetap suci. Banyak hal di luar batas yang dilakukan menjelang hari H. Berbagai pembenaran dilakukan untuk menganggap bahwa itu tidak apa-apa. Sebagai dalih, toh, sebentar lagi akan halal juga. Toh, orang tua sudah merestui hubungan kita. Toh, kedua keluarga besar sudah berjumpa. Toh, tujuannya untuk saling menjaga. Benarkah?
Jawabannya hanya satu. Jujurlah pada dirimu sendiri. Tidakkah ada yang mengganjal dalam hati? Jika ada, bersyukurlah. Itu tanda bahwa Allah begitu mencintaimu.
Dan untukmu yang kini sedang mencari, jagalah prasangka baik pada Allah. Bagi-Nya, segala hal begitu mudah. Apalagi hanya mempertemukanmu dengan sosok yang akan membawamu menuju surga bersama. Berdoalah, berikhtiarlah dengan berbagai cara yang halal, dan jaga prasangka baik pada Allah. Karena percayalah, Allah tak akan menyia-nyiakan seorang hamba yang menjaga dirinya. Percayalah. Doa terbaik akan menyertaimu, insya Allah.
Baca juga:
Kenapa Menjadi Biro Jodoh?
Sebulan Menikah, Sudah Belajar Apa?
Mengingat Perjalanan Berkesan, Cerita Lahirnya Aksara