7 Inspirasi Menulis yang Saya Dapatkan dari JS Khairen

Untuk keempat kalinya, saya bertemu dengan JS Khairen. Statusnya berbeda-beda. Saat masih single, setelah menikah, hingga sudah punya anak. Mulai dari Tangerang, Jakarta, dan Pekanbaru. Insight dari pertemuan di Jakarta pernah saya tuliskan di blog dengan judul “Berkaryawan atau Berkarya”.  Persamaan di antara semuanya adalah selalu ada inspirasi menulis yang didapat.

Pertemuan terbaru di Student Centre UNRI yang diadakan oleh perpustakaan UNRI. Kalau mau nonton, cari saja di Youtube “UNRI TV”.

Ada banyak inspirasi yang saya dapatkan. Agar tidak hanya tersimpan di catatan, berikut saya bagikan. Semoga bisa jadi manfaat.

  1. Membumikan teori dalam narasi

Pertanyaan pembuka dari moderator ke narasumber. Apa yang membuat alumni FE UI menjadi penulis? Ada dua jawaban utama.

Pertama, karena pengalamannya dulu di kampus saat berorganisasi di Lembaga Pers Mahasiswa. Wadah yang sama tempat Tere Liye menempa diri.

Kedua, karena dengan menulis bisa memperluas manfaat. Jika menulis dalam bentuk jurnal ilmiah yang merasakan manfaat hanya kalangan akademisi. Namun jika teori dibumikan dalam narasi seperti novel, manfaatnya meluas dari berbagai kalangan usia

Ucapannya ini terbukti di banyak karyanya. Contohnya novel “Melangkah”. Banyak teori ekonomi dalam buku itu yang dinarasikan sehingga lebih mudah dipahami. Cek saja buku lainnya.

  1. Motivasi eksternal vs internal dalam berkarya

Nyaris semua karya novelnya punya motivasi utama yang sifatnya eksternal. Misalkan, serial Kami Bukan (Sarjana Kertas). Motivasinya adalah ingin menyuarakan bahwa lulusan kampus itu tidak serta merta menjadi “seseorang”. Ada masanya berproses. Bahkan ada juga yang hanya menjadi sarjana kertas. Hanya mengandalkan ijazah.

Satu-satunya karya yang berasal dari motivasi internal adalah Dompet Ayah Sepatu Ibu. Sudah menulis belasan novel tapi kok tidak ada tentang orang tua?

Bukan hanya karya. Novel itu juga menjadi hadiah bagi ayah dan ibunya. Tahun novel itu terbit berbarengan dengan tahun orang tuanya pensiun. Dan siapa sangka, buku itu pula yang meraih mega best seller. Sudah menyentuh cetakan ke-38!

  1. Dampak nyata dari terus menulis

Banyak orang hanya melihat kejayaan seseorang, bukan masa susah payah saat berjuang. Banyak yang tidak tahu bahwa novelnya yang ke 1-7 tidak laku. Hal yang sama juga dialami dengan Tere Liye, baru dikenal di karya ke-8. Raditya Dika pun begitu. Orang pertama yang membeli buku Raditya adalah ibunya yang kemudian dibagi-bagikan ke orang.

Kegagalan atau lebih tepatnya selama 6 tahun berproses (2013-2018) adalah masa baginya untuk membangun fondasi. Mengikuti berbagai kelas, baca buku best seller dari dalam dan luar negeri, mencari kelemahan karyanya, dan tentu saja terus menulis. 6 tahun adalah masa yang lebih lama dibandingkan dirinya kuliah S1. Dia meracik SKS sendiri dalam menulis.

Maka jika saat ini ditanya, apa kesulitannya dalam menulis? Jawabannya adalah kesulitan berhenti menulis. Setiap hari menulis. Dan apa yang dirasakannya hari ini adalah akumulasi hasil dari disiplin menulis.

  1. Efek bola salju dari membaca

Setiap awal bulan di media sosial dia selalu mengampanyekan.

“Ayo bulan ini kita membaca 1 buku nonfiksi dan 1 buku fiksi. Buku nonfiksi untuk otak dan buku fiksi untuk hati.”

Maka jika ada yang meremehkan orang membaca fiksi, dia hanya belum tahu manfaatnya. Karena berbagai penelitian membuktikan bahwa buku fiksi itu bisa mengasah empati, memperkuat analisis, dan banyak lagi.

Membaca itu punya efek seperti bola salju. Termasuk karya fiksi. Karena “Laskar Pelangi”, orang tahu dengan Belitung. Karena “5 cm”, orang jadi suka naik gunung. Karena “Filosofi Kopi”, tren ngopi menjamur di mana-mana. Tentu novel itu bukanlah faktor tunggal. Namun begitulah manfaat buku, meluas dan membesar seperti bola salju.

  1. Writer’s block akan hilang jika kamu terus menulis

Dari sekian banyak orang yang bertanya di sesi tanya jawab, pertanyaan yang sering ditanyakan adalah seputar ide dan writer’s block. JS Khairen tidak menjawab dengan kalimat, tapi dengan simulasi.

“Siapa di sini yang punya masalah yang sama? Coba berdiri, lalu semuanya ngumpul di sudut kanan sana. Selama 10 menit sesi tanya jawab nanti, kalian bebas menulis apa saja. Tidak boleh berhenti. Jeda hanya 1 detik. Dimulai dari sekarang. Saya lanjutkan sesi tanya jawab dengan yang lain.”

Sekitar 10 menit kemudian, dia menyapa kembali kelompok orang di sudut kanan. Mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Bahwa solusi dari writer’s block adalah menulis. Dan writer’s block itu terjadi karena kita tidak menjadikan menulis sebagai rutinitas harian.

  1. Cara mengatasi malu? Ini caranya!

Kenapa harus malu? Kenapa harus menjadi hakim atas tulisan sendiri? Publikasikan saja dan biarkan pembaca yang menilai.

Jika saat ini orang lain tidak mendukung impianmu, maka yang diganti bukanlah mimpimu, tapi orang di sekitarmu. Teruslah menulis dan kelak kamu akan menemukan nadamu. Dan jangan lupa “stay relevant” dengan perubahan zaman.

Sebenarnya ada dua pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, hit and run jika memang tidak ingin melihat komentar orang lain. Setidaknya tulisan sudah dipublikasikan. Kedua, wait and see. Lihatlah komentar orang lain agar tahu apa yang sudah baik dan perlu diperbaiki dari tulisanmu.

  1. Magic 10 years vision

Tahun lalu, JS Khairen mendapatkan juara Liga Champions dan Ballon d’or versi penulis. Maksudnya? Tahun lalu, dirinya meraih penghargaan Writer Of The Year dari IKAPI Award dan Book of The Year dari Islamic Book Fair kategori novel remaja untuk bukunya Kado Terbaik.

Prestasi yang membanggakan tentunya. Selain atas izin Allah dan latihannya untuk terus menulis, ada satu cara unik yang dilakukannya. Apa itu?

Apa yang diraihnya sekarang sudah bisa dilihatnya dari 10 tahun lalu. Maksudnya? Ya, inilah kekuatan impian. Bukan hanya mimpi, tapi diusahakan dengan berbagai cara. Termasuk belajar dari banyak penulis. Untuk siapa saja saat ini, lihatlah dirimu 10 tahun ke depan. Akan dan sudah menjadi apa?

Apa harapan dan impiannya untuk masa depan? Setiap keluarga punya satu perpustakaan kecil di rumahnya. Maka carilah pasangan yang suka membaca buku. Lalu dirinya berdiri, menghadap ke depan panggung dan mendongak ke atas sembari melihat foto yang terpampang tinggi di atas.

“Lahirkanlah keluarga yang rajin baca buku. Supaya anak-anaknya nanti kalau kerja suka baca buku.”

***

Talkshow selesai dan dilanjutkan dengan sesi tanda tangan. Saya antre di barisan akhir. Dia kembali menyapa saya. Setelah sesi tanda tangan berakhir, dia kembali memanggil saya untuk bertemu di pintu keluar panggung belakang. Bercakap singkat sembari berpesan, “Keep going, ya.”

Ya, dia tahu saya penulis sejak lama. Satu kalimat yang menyemangatkan. Kelak di pertemuan berikutnya yang entah kapan, akan saya bawakan novel saya yang disampaikan di sesi tanya jawab. Insya Allah.

Baca juga:
Menulis Buku Minimal Harus Berapa Halaman?
Mampukan Sebuah Tulisan Mengubah Masyarakat?
Haruskah Menerbitkan Buku dengan ISBN?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *