Saya bukanlah seorang santri dari pondok pesantren. Pun jika pernah menjadi santri, itu hanya pesantren kilat. Maka tulisan ini bukanlah mewakilli santri seutuhnya. Tidak juga bisa memberikan penilaian yang utuh terhadap pondok pesantren. Tulisan ini pastinya ada subjektivitas. Karena ini adalah opini, bukan klarifikasi.
Saya memang bukan seorang santri. Namun jika saya diberikan kesempatan kembali ke masa lalu, menjadi santri mungkin pilihan yang akan saya ambil. Tentu santri di pondok pesantren yang lurus. Bukan pondok pesantren yang melenceng sebagaimana yang diberitakan keliru oleh media. Atau jika bukan pondok, setidaknya sekolah berbasis agama. Karena saya meyakini bahwa belajar agama itu penting. Apalagi di masa-masa remaja. Sebagai informasi, saya dulunya menempuh pendidikan di sekolah asrama semi militer.
Saya memang bukan seorang santri. Namun apakah karena bukan santri maka saya tidak boleh memberi opini tentang pondok pesantren? Rasanya sah-sah saja. Karena banyak orang yang mengkritik pondok pesantren malah diserang karena bukan santri.
“Emangnya pernah pondok?”
“Emangnya bisa baca kitab kuning?”
“Emangnya udah tamat baca abcxyz?”
Bukannya membantah substansi, malah menyerang pribadi. Dalam logical fallacy itu disebut dengan ad hominem.
Pesantren adalah “Dunia” yang Berbeda
Katanya sih, pondok pesantren itu punya “dunia” sendiri. Ada perbedaan pandangan yang tidak bisa dipahami dengan mudah. Contohnya tentang mengabdi kepada kiai dan pondok. Bagi orang luar itu adalah perbudakan. Namun bagi santri, itu adalah pengabdian. Itu baru satu aspek, belum aspek yang lain. Salah satu tulisan singkat yang menarik tentang ini berjudul “DNA Anak Pesantren Itu Beda.”
Salah satu poin yang banyak diangkat dan dikritik adalah tentang feodalisme. Satu kata yang mempunyai banyak makna. Definisi sempit yang umum digunakan adalah tentang perbudakan. Padahal apakah hanya itu definisinya? Tidak juga. Maka atas definisi sempit itulah ketika santri yang mengabdi disebut feodal. Termasuk santri yang memberikan rasa hormat dalam banyak cara kepada gurunya.
Narasi membentuk persepsi. Itulah bahayanya menyematkan feodalisme dalam budaya pesantren. Padahal tidak bisa disimpulkan seperti itu.
Apa definisi feodalisme? Ada banyak, tentu saja. Saya sempat mencari beberapa di internet, dan salah satu definisi dari ilmu sosial menyebut:
“Feodalisme adalah sistem hierarkis di mana individu tunduk kepada pihak yang memiliki kekuasaan lebih tinggi karena faktor status, keturunan, atau kekayaan. Ciri khasnya adalah kultus individu, kepatuhan tanpa kritik, dan relasi patron–klien (yang kuat melindungi yang lemah, tapi menuntut loyalitas penuh).”
Dari definisi itu, apakah pesantren membangun budaya feodalisme? Belum tentu. Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, pesantren memiliki “dunia” sendiri. Yang bagi orang luar tampak feodal, tapi bagi santri itu adalah adab.
Persoalan ini memang pelik, karena apa yang tampak tunduk di mata orang lain, justru bisa berarti hormat di mata santri. Bagi yang tidak paham, membungkuk dianggap tunduk. Sedangkan bagi santri, itu adab. Bedanya tipis, tapi maknanya jauh.
Anomali Pondok Pesantren
Menjelang peringatan hari santri, netizen dihebohkan dengan pemberitaan miring tentang pondok pesantren dari salah satu tv swasta. Apa kesalahan fatal yang dilakukannya? Salah dalam memilih pesantren yang diliput, dan tentu saja narasi yang menyesatkan. Jelas-jelas pesantren tersebut adalah salah satu pesantren tertua di Indonesia dan yang dihormati. Apakah kiai di pondok tersebut memperkaya diri? Keliru.
Kesalahannya adalah salah dalam memilih objek liputan. Coba saja yang diliput pondok pesantren yang benar-benar problematik. Entah di dalam pondoknya atau para pimpinannya. Misalkan saja, Gus-Gus yang dulu menghina penjual es teh. Atau pesantren lain yang pimpinannya bisa berbicara dengan semut dan jin. Atau pesantren problematik lainnya. Saya yakin tidak akan bermasalah seperti ini.
“Kesalahan terbesar media tersebut bukan hanya pada pilihan pesantren yang diliput, tapi pada cara narasi dibangun. Mereka lupa bahwa pesantren punya banyak wajah, dan satu potret keliru bisa merusak persepsi publik terhadap ribuan yang lain. Apakah semua pesantren seperti itu? Tentu tidak.”
Kita tidak bisa memungkiri bahwa yang aneh itu pasti ada. Entah budaya dalam pesantrennya atau pimpinannya. Apa contoh ekstrim yang ada di pondok pesantren? Merokok, perundungan, pelecahan seksual, bahkan LGBT. Semua itu bisa jadi ada. Namun semua itu bukanlah mayoritas. Itulah yang dinamakan oknum dan anomali.
Oknum itu ada di mana saja. Bukan hanya pondok pesantren. Mulai dari pendidikan umum, pemerintahan, kepolisian, militer, politik, dan banyak lagi. Maka tidak bijak rasanya menggeneralisi oknum di pondok pesantren sebagai gambaran keseluruhan pesantren. Apalagi antara satu pesantren dengan pesantren lain itu sifatnya tidak hierarkis sebagaimana instansi lain. Apa yang terjadi pesantren A tidak mencerminkan pesantren B.
Aneh bukan? Kenapa di pondok pesantren bisa menyimpang seperti itu. Daripada menyalahkan sepenuhnya kepada pondok pesantren, tentu kita layak untuk merenung. Kenapa banyak yang menjadikan pondok pesantren sebagai tempat rehabilitasi? Anak yang bermasalah disekolahkan di pondok pesantren dengan harapan bisa diperbaiki. Alih-alih memperbaiki di rumah dan sekitar, tapi malah mengharapkan pihak lain yang mengubah. Lantas ketika di pondok, bukannya berubah baik, tapi malah mempengaruhi keburukan kepada yang lain.
Namun kritik yang muncul tak berhenti pada pesantren semata. Ia merembet ke ormas yang dianggap menaunginya
Pondok Pesantren Bukan Cerminan Langsung Ormas
Dari berbagai komentar miring yang beredar atas tayangan televisi tersebut, setidaknya saya menemukan ada beberapa tipe pengkritik:
- Benci kepada Islam dan pondok pesantren
- Anti kepada budaya yang dianggap feodal di pondok pesantren
- Memanfaatkan kesempatan untuk meninggikan kelompoknya
- Gerah dengan penyimpangan yang terjadi di ormas tertentu
Pondok pesantren kerapkali diidentikkan dengan ormas tertentu. Tentu saja kesimpulan ini keliru. Karena ormas Islam di Indonesia baru berdiri pada awal tahun 1900-an. Sedangkan tradisi pesantren sudah ada jauh sebelum itu. Jadi, bukan pesantren berasal dari ormas tersebut, tapi ormas tersebut lahir dari rahim budaya pesantren.
Memang tidak bisa dimungkiri bahwa ormas tersebut tumbuh dan mengembangkan banyak pondok pesantren. Namun harus diperjelas bahwa tidak semua pondok pesantren terafiliasi dengan ormas tersebut. Ada yang terafilisasi ke ormas lain, ada juga yang netral.
Dari pemahaman umum yang simplistik menghubungkan antara pondok pesantren dengan ormas tersebut, maka meletuslah kemarahan masyarakat. Kok ormas itu lagi yang berulah?
Menteri agama yang korupsi haji, dari ormas mana?
Ormas yang dapat izin dan membela tambang, dari ormas mana?
Orang-orang yang bertemu dengan zionis, dari ormas mana?
Kelompok yang suka membubarkan kajian, dari ormas mana?
Yang suka mengadakan pengajian dicampur dangdutan, dari ormas mana?
Jawabannya sama. Kemarahan tersebut terakumulasi dan pecah karena pemicu yang sebenarnya keliru dari media televisi tersebut.
Pembelaan besar-besaran pun terjadi. Mulai dari yang objektif, hingga yang merusak. Yang memberitakan media televisi, tapi yang digeruduk malah supermarket. Ditambah lagi ketua ormas sayapnya (sekaligus komisaris BUMD di Jakarta) yang dalam orasinya mengatakan kader ormas tersebut akan menggorok leher pekerja di perusahaan media tersebut.
Aneh. Sungguh aneh. Saat ada yang mengkritik ke dalam, mereka marah. Namun saat ada penyimpangan dalam tubuh ormas tersebut, mereka malah membiarkan.
Baca juga:
Oknum Perusak Instansi atau Instansi yang Sengaja Merusak Diri?
Wajah Pesantren yang Terlupakan
Sekali lagi, oknum itu di mana saja pasti ada. Namun tidak bisa kita menggeneralisir bahwa semua pondok pesantren seperti itu. Toh buktinya banyak kok pondok pesantren yang melahirkan lulusan yang berkualitas. Akhlaknya baik. Tidak menormalisasi penyimpangan. Kepada para guru pun sopan. Mencium tangan dan membungkuk yang proporsional tentu bisa dimaklumi.
“Tapi, tapi tapi, pondok pesantren kan harusnya begini begitu dan seterusnya.”
Kita harus mengetahui bahwa pondok pesantren itu punya banyak ragam. Ada yang dijalankan secara pendidikan formal, ada juga yang nonformal. Contohnya, pesantren mahasiswa. Ada juga salah satu yang layak menjadi teladan, yaitu Pondok Pesantren Masyarakat Merbabu. Kalau kita berniat mencari pondok pesantren yang berkualitas pasti ketemu kok. Cari saja.
Selain itu, fakta yang mungkin enggan orang ketahui adalah banyak pondok pesantren yang gratis atau setidaknya berbiaya rendah. Siapa yang membiayainya? Para pengasuhnya. Termasuk pimpinan pondok yang kerap dituduh memperkaya diri. Oknum pasti ada. Namun jika semua pengasuh pondok dinilai sama dengan oknum, tentu saja keliru.
Jika ada yang salah dalam pondok pesantren, tentunya kita harus bertanya juga. Kenapa menjadikan pondok pesantren sebagai tempat rehabilitasi? Padahal sejatinya pendidikan yang awal dan utama itu ada di keluarga. Apalagi pendidikan agama.
Kita sama-sama tahu bagaimana peran santri dalam sejarah pendirian negara ini. Banyak kontribusi santri. Maka sudah sewajarnya kita tidak menyalah-nyalahkan seluruh pondok pesantren jika ada yang keliru. Tidak bijak juga jika terjebak di euforia masa lalu.
Apalagi ada influencer yang mengatakan bahwa pondok pesantren akan punah. Influencer ini pun problematik. Memakai embel guru, tapi jejak pendidikan dan sanad keilmuannya tidak jelas. Mengajar tidak tahu di mana. Referensi entah dari mana. Bahkan menulis buku sejarah tanpa referensi. Ketika diajak debat, malah nyari-nyari alasan ke sana ke mari dibuat-buat. Inilah bahayanya zaman sekarang. Kepakaran dikalahkan gara-gara influencer.
Kepada para santri, terima kasih sudah menempuh jalan yang mulia ini. Namun sadarilah bahwa dunia itu tidak sebatas pondok pesantren. Cepat atau lambat, santri akan berhadapan dengan dunia nyata. Lagipula tidak ada keharusan bahwa santri kelak harus menjadi pemuka agama. Santri bisa menjadi apa saja dengan fondasi iman yang kuat.
Maka kepada para santri, bersikaplah terbuka. Jangan menyapu kesalahan dengan pembenaran. Jangan tunduk jika ada penyimpangan.
Kepada para santri, sungguh pilihanmu mulia sebagaimana para pejuang terdahulu. Namun santri bukan sekadar simbol masa lalu, tapi ruh peradaban yang menuntun masa depan. Maka tugas santri bukan hanya menjaga nama baik pesantren, tapi menjaga nilai-nilainya: ilmu, adab, dan keteladanan.
“Pesantren berjalan karena niat ikhlas individu pejuang di dalamnya. Setiap orang menjaga semua niat agar hanya untuk Allah. Mereka bahkan tidak pernah berniat untuk berbuat baik agar diteladani. Teladan akan lahir sendiri, maka berniatlah hanya untuk Allah.”
(Dikutip dari website gontor.ac.id dalam tulisan berjudul Ulama dan Pesantren”)