Menjadi Aktif dan Aktivis
Bagaimana rasanya menjadi seorang yang prestastif bahkan idealis di kampus, tapi harus bekerja untuk membela dan menyapu kebijakan penguasa dengan berbagai dalihnya?
Bukan. Ini bukan tentang mereka yang memilih bekerja sebagai ASN atau kementerian. Tidak ada yang salah dengan bekerja di pemerintahan. Justru itu bagus jika niatnya baik. Mencari kestabilan adalah alasan yang paling umum. Atau alasan yang “idealis”, ingin memperbaiki dari dalam.
Alasan idealis seperti memberikan perubahan dan perbaikan biasanya hadir dari mereka yang dulunya pernah ditempa di organisasi kemahasiswaan. Tentu organisasi kemahasiswaan bukan satu-satunya wadah untuk menempa diri. Banyak juga yang memilih jalan lain seperti komunitas, relawan, atau usaha sendiri. Setiap pilihan pastinya memberikan pengalaman dan pelajaran tersendiri.
Menjadi aktivis. Terdengar keren, berani, dan mulia. Namun siapa yang bisa dikatakan aktivis? Apakah mereka yang berproses di organisasi kemahasiswaan, organisasi masyarakat, atau LSM? Saya rasa tidak bisa sesempit itu memaknainya.
Aktivis berasal dari kata aktif. Aktif terhadap apa? Keyakinan atau tindakan aktif untuk memperjuangkan perubahan sosial atau politik.
Aktivisme adalah sikap dan tindakan moral, bukan sekadar status organisasi. Lebih jauh lagi, aktivis bukan sekadar pelaku aksi, tapi membangun kesadaran sosial. Maka, dari poin-poin tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa aktivis bukan hanya tentang terlibat aktif di organisasi, tapi terlibat dalam menjaga dan memperjuangkan nilai.
Tentu tidak bisa dimungkiri ada banyak pelajaran yang didapat saat berproses di organisasi dibandingkan bergerak secara mandiri. Entah itu individu atau komunitas dengan skala kecil. Saya pribadi pernah terlibat dalam dua hal tersebut. Di kampus saya terlibat di legislatif. Di luar kampus, saya terlibat di berbagai komunitas, forum, atau bergerak secara mandiri.
Saya memang terlibat di organisasi semasa mahasiswa. Namun tidak terlibat di organisasi kemahasiswaan yang me-nasional. Sebutkan saja satu per satu, saya tidak pernah. Ada banyak alasan. Salah satunya karena di kampus saya tidak terpapar dengan organisasi tersebut. Mencari mandiri keluar rasanya tidak menjadi prioritas.
Jujur saja, melihat misi yang diperjuangkan dan dampak yang diberikan dari mereka yang aktif di organisasi membuat saya hormat. Awalnya saya mengira pilihan hidup sebagai aktivis adalah pilihan yang mulia. Namun saat saya mengkritisi kembali, ternyata tidak juga. Karena yang terpenting bukan tentang menjadi aktivis, tapi apa yang dilakukannya saat mengemban status sebagai aktivis.
Paradoks Aktivis
Tidak sedikit yang katanya aktivis tapi ternyata tukang olah. Bukannya idealis, tapi malah pragmatis.
“Sudahlah, jangan terlalu idealis di organisasi. Ini namanya strategi untuk mencapai tujuan yang lebih besar.”
“Kamu berpikir idealis karena belum berhadapan dengan pilihan yang sulit.”
“Idealis tidak bisa membuatmu kenyang.”
Berbagai pernyataan di atas sangat mungkin disampaikan oleh mereka yang katanya sedang “berjuang”. Apalagi saat usia dan pengalaman semakin bertambah, amanah pun semakin bertambah. Maka menurut saya yang terpenting itu tidak usah muluk-muluk menjaga idealisme, tapi menjaga nilai-nilai. Atau setidaknya menjaga hati nurani.
Idealisme, nilai-nilai, nurani memang terdengar abstrak. Bagaimana caranya bisa menilai bahwa kita tetap berpegang pada idealisme, nilai-nilai, dan hati nurani?
Semua itu bisa dijawab dengan kejujuran pada diri sendiri. Namun sebagai panduan dasar, lihatlah hal berikut: idealisme adalah arah, nilai adalah cara, dan nurani adalah pengingat.
Jadikan idealisme sebagai arah kita bergerak. Maka apabila mulai melenceng, kita sadar dan harus kembali menuju arah yang benar.
Jadikan nilai-nilai sebagai cara kita dalam bersikap dan berpihak. Maka apabila cara yang kita lakukan mulai tidak elok, kita sadar dan kembali memegang nilai.
Jadikan nurani sebagai pengingat sepanjang hayat. Maka apabila nurani mulai terusik, jangan tutupi dengan mencari pembenaran.
Menjaga nilai memang sangat penting. Bukan hanya bagi kalangan aktivis, tapi bagi siapa saja.
Namun dalam praktiknya, tidak semua orang mampu menjaga idealisme, nilai, dan nurani di tengah tekanan realitas. Di sinilah persoalannya muncul. Ketika berhadapan dengan “kenyataan”, menjilat menjadi terpaksa lalu perlahan menjadi budaya.
Budaya aktivis yang menjilat bukan hanya terjadi di internal kampus saja. Hal tersebut juga terjadi antara aktivis dengan penguasa. Atau yang paling umum adalah junior terhadap seniornya yang kini sudah punya “sesuatu”. Hubungannya tentu saja simbiosis mutualisme. Urusan senior bisa dimuluskan sedangkan junior bisa mendapatkan akses ke pihak tertentu. Jika sama-sama menguntungkan, apa salahnya? Begitulah dalihnya.
Dilatih dari organisasi kemahasiswaan agar bisa menghadapi kerasnya kehidupan. Kemudian dilanjutkan dengan masuk partai yang katanya agar bisa memperbaiki dari dalam. Bisakah kita mempercayainya?
Fenomena jilat menjilat bukan hanya dari kalangan aktivis sebenarnya. Hal tersebut terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Namun budaya menjilat di kalangan elit akan lebih terlihat karena media memperhatikan mereka. Dan benar itu terbukti. Banyak penjilat mendapatkan jabatan. Tak perlu disebutkan namanya, kita sudah tahu siapa saja mereka.
Baik yang menjilat itu aktivis atau orang biasa tentu saja tidak elok. Namun ada standar moral berbeda yang dimiliki oleh aktivis. Karena sekali lagi, aktivis berbicara mengenai nilai, arah, perjuangan, dan kesadaran sosial. Bukan sebatas terlibat di organisasi tertentu untuk meraih tujuan tertentu. Kalaulah aktivis sudah terbiasa menjilat, maka jangan heran jika masyarakat akan menganggap sebelah peran aktivis. Padahal sebenarnya, aktivis punya peran yang mulia.
Masihkah Idealisme Layak Diperjuangkan?
Kembali lagi ke pertanyaan awal. Bagaimana rasanya menjadi seorang yang prestastif bahkan idealis di kampus, tapi harus bekerja untuk membela dan menyapu kebijakan penguasa dengan berbagai dalihnya? Nuranilah yang bisa menjawab.
Kita tidak sedang berbicara mengenai idealisme buta. Kita sedang berusaha untuk menjaga nilai-nilai.
Benar. Idealisme memang tidak membuat kenyang. Tapi tanpa idealisme, manusia bisa kehilangan alasan untuk makan. Idealisme memang tidak bikin kenyang. Tapi menjilat pun tidak selalu bikin sejahtera, kadang malah bikin mual.
Idealisme itu seperti kompas. Ia tidak memberi roti, tapi menuntun ke arah yang benar agar kita tidak kehilangan kemanusiaan saat mencarinya. Kita memang butuh makan untuk hidup, tapi kita juga butuh idealisme agar hidup kita pantas dijalani.
Kita bisa melihat aktivis yang dulunya lantang mengkritik penguasa, tapi kini menjilat penguasa. Kita juga bisa melihat pemuda yang dulunya prestatif, tapi kini bekerja menyapu kebijakan penguasa dengan berbagai dalihnya.
Namun percayalah, kita bisa menemukan aktivis dan pemuda yang hingga kini bisa menjaga nilai-nilai perjuangan. Sebagian mungkin viral, sebagian lain tidak dikenal. Tapi idealisme bukan tentang viralitas, melainkan keberpihakan. Semoga kita bisa menjaganya, dengan sebaik-baiknya.
Tulisan ini saya rilis tepat pada 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari yang sekaligus mengumumkan 10 pahlawan nasional terbaru.
Namun ini bukan tentang mereka yang dikukuhkan sebagai pahlawan. Ini adalah tentang kita yang masih bisa berjuang. Karena kita tidak perlu menjadi pahlawan nasional untuk dikenang. Kita bisa menjadi pahlawan kecil yang menjaga nilai-nilai, tanpa ikut arus budaya menjilat.
Baca juga:
Refleksi Keteladanan: Tokoh Publik Kencing Berdiri, Rakyat Kencing Berlari
Mendapatkan Penghargaan Belum Tentu Prestasi Sungguhan
Media Idealis: Ekspektasi yang Terlalu Tinggi dan Tidak Realistis?