Sabtu, 14 Desember 2024. Sebuah grup Whatsapp terbentuk secara impulsif. Pemicunya adalah angin segar yang didapatkan di rapat alumni lintas generasi. Apa angin segarnya? Tawarkan saja proposal program, nanti dananya akan diberikan. Lebih kurang seperti itu. Saya diundang masuk grup berhubung saya adalah pengurus IKA SMAN Plus Riau.
Angin segar ini tentu saja menjadi harapan baru. Kenapa? Karena uang kas organisasi saat itu menipis dan banyak generasi yang belum membayar uang kas. Ohya, sebagai informasi penting bahwa generasi yang dimaksud adalah angkatan di sekolah pada umumnya.
Mau buat program tertentu, tentu saja menjadi kendala. Namun gara-gara angin segar ini, pengurus dan alumni lain pun tergerak. Bukan hanya untuk buat program biasa. Namun program besar yang belum pernah diadakan. Bahkan mungkin baru pertama kali diadakan oleh alumni sekolah ataupun universitas di Riau. Apa itu? Reuni dalam kegiatan lari. Kami pun menamakannya IKA Plus Run 2025.
Salah satu alumni yang menginisiasi ide ini adalah seorang dokter dari generasi 1. Beliau dari dulu memang sudah sering mengadakan acara lari. Bahkan mungkin beliau pula inisiator awal acara lari di Pekanbaru. Maka dengan adanya pengalaman tersebut, apa salahnya jika mengajak alumni SMA mengadakan hal serupa. Timnya yang sudah terbiasa mengadakan acara lari pun diajak untuk terlibat membantu alumni untuk menyukseskan acara ini.
Siapa panitianya? Alumni, bukan EO. Tentu ada peran dari pihak eksternal yang membantu. Tak mungkin semuanya bisa dipegang oleh alumni. Seperti yang memasang tenda, panggung, gerbang, dan lain-lain. Tentu memilih vendor adalah cara yang paling tepat. Namun tetap, yang menjadi penanggungjawab divisi tersebut adalah alumni.
Kenapa harus alumni? Kenapa bukan EO? Beberapa alasannya adalah agar bisa saling mengenal alumni lintas generasi dan belajar hal baru. Bagi yang belum pernah mengelola acara, tentu saja ini pengalaman berharga. Dan esensi dari tujuan ini sudah kami dapatkan terlebih dahulu sebagai panitia: reuni dan berkolaborasi sesama alumni.
Mari kembali ke sejarah sejenak.
SMAN Plus menerima siswa pertama pada tahun 1998 dan meluluskan angkatan perdana pada tahun 2001. Maka cukup mudah bagi alumni untuk memperkenalkan diri. Jika dia lulus tahun 2001, maka generasi 1. Jika lulus tahun 2010, maka generasi 10. Dan jika lulus 2025, maka generasi 25. Saya sendiri adalah generasi 12. Tepat tahun ini, SMAN Plus sudah meluluskan 25 angkatan dengan total alumni lebih dari 2500 yang berkarier di lintas profesi. Momen yang pas pula untuk mengangkat momen reuni. Merayakan kelulusan 25 generasi.
Beragamnya usia dan profesi alumni membuat kerja sama ini berjalan dengan baik dan saling melengkapi. Tentu tidak semua berjalan lancar. Apalagi ini adalah pengalaman pertama mengadakan acara lari dengan orang-orang yang pemula pula. Namun yang jelas, semua panitia berusaha memaksimalkan perannya. Ada yang berkorban dana, waktu, dan pastinya tenaga. Ada juga yang mengambil cuti, atau cuti terjadwalnya dihabiskan untuk aktif di kepanitiaan.
Bukan hanya panitia. Alumni lintas generasi pun turut berperan aktif dengan caranya masing-masing. Ada yang berperan sebagai sponsor, peserta, jejaring, dan tentu saja doa.
Jangan kira kami bekerja dengan danat berlimpah. Angin segar yang disebutkan di awal ternyata hanya angin saja. Tidak ada realisasi nyata. Panitia pun berupaya untuk memenuhi kekurangan dana ke sana ke mari. Dan alhamdulllah, satu per satu pun terpenuhi. Lagi-lagi, jejaring alumni. Total peserta pun mencapai batas maksimal. Total 1250 yang terdiri dari alumni dan umum.
***
Sabtu, 17 Mei 2025. Sehari menjelang IKA Plus Run, panitia berkumpul untuk melakukan koordinasi agar besok berjalan sesuai dengan ekspektasi. Namun tantangan demi tantangan pun tiba. Mulai dari birokrasi hingga perizinan di lokasi.
Kondisinya seperti ini. Panitia sudah merencanakan bahwa perlengkapan sudah mulai bisa diturunkan di lokasi car free day pukul 3 sore. Namun ternyata barang-barang belum bisa turun karena ada PKL yang berjualan. PKL belum terinformasikan oleh pihak yang berwajib. Entahlah ini tanggung jawab di pihak mana.
Niatnya diundur sampai pukul 10 malam, belum bisa juga. Sampai pukul 12 malam, jalanan masih ramai dengan kendaraaan yang parkir. Hingga akhirnya barang dan perlengkapan baru bisa turun sekitar pukul 3 dini hari. Dengan durasi 2-3 jam. Apakah memungkinkan?
Panitia dan vendor memang bekerja dengan cepat. Sangat cepat. Sekitar pukul 5.30, semua perlengkapan sudah terpasang. Sebenarnya hal yang membuat khawatir bukan hanya karena waktu yang terbatas. Saat dini hari itu turun hujan. Tentu saja membuat suasana semakin dag dig dug. Namun alhamdulillah, saat acara berlangsung tidak terjadi hujan. Hujan terjadi persis setelah acara selesai. Benar-benar ditutup dengan hujan.
Singkat cerita, acara pun dimulai. Semua peserta, terutama yang mengikuti kategori 10K berkumpul di gerbang garis start. Diawali dengan kata sambutan dari Wali Kota Pekanbaru, peserta mulai berlari. Disusul dengan kategori 5K dan 3K. Saya sendiri mengikuti kategori 10K untuk pengalaman yang ketiga. Memaksa diri untuk mencapai garis akhir. Tidak ada target muluk-muluk dengan angka, yang penting sampai garis akhir. Dan benar saja, tercapai. Alhamdulillah.
Memasuki garis akhir, semua peserta pun antre untuk mengambil medali. Sedangkan di panggung utama, disampaikanlah berbagai kata sambutan. Mulai dari ketua panitia, ketua alumni, hingga pesan dari pendiri sekolah. Bapak Saleh Djasit, Gubernur Riau pada masanya.
Saya sengaja untuk menyimak apa pesan beliau. Berusaha untuk mencatat, apa pesan yang bisa diingat. Dan salah satu pesannya adalah,
“Lulusan SMAN Plus harus jadi pionir untuk membangkitkan ketertinggalan Riau.”
Kenapa beliau bisa memasang target sebesar itu? Karena memang dari awal SMAN Plus berdiri punya misi yang besar. Setiap tahunnya hanya menerima 100 siswa yang berasal dari seluruh kota dan kabupaten di Provinsi Riau. Dulu masih tergabung Kepulauan Riau. Dan kini, jumlahnya tidak lagi 100 per angkatan. Bertambah seiring perjalanan waktu.
Beragamnya asal daerah siswa membuat siswa bisa saling mengenal dari masing-masing daerah. Apalagi dengan tinggal di asrama secara gratis, pengalamannya akan semakin berkesan, yang dibarengi dengan utang untuk berkontribusi bagi Riau. Ya, begitulah tinggi ekspektasinya. Dan itu yang sedang diperjuangkan oleh alumni. Semoga.
Melihat suasana ini, saya terharu dan bangga. Panitia bisa menyatukan alumni, guru, pendiri, termasuk siswa dalam satu forum. Bukan dengan jumlah puluhan, tapi ratusan. Acara terbesar yang pernah IKA SMAN Plus adakan. Tidak mudah melakukan hal tersebut. Dan karena kontribusi alumni dan berbagai pihak, agenda ini terlaksana dengan baik. Ada yang menjadi sponsor kegiatan, memberikan jersey gratis untuk guru, transportasi pergi pulang dari sekolah menuju lokasi, dan banyak kontribusi lainnya.
Sebagai acara perdana tentu semuanya tidak berjalan dengan sempurna. Banyak perbaikan sana sini. Namun yang pasti, kami sudah bergerak. Jika tahun depan diadakan lagi, kami sudah tahu apa yang perlu diperbaiki.
Seperti yang disebutkan di awal bahwa tujuan utama acara ini adalah reuni, bukan lomba lari. Mengundang peserta umum adalah hal yang wajar untuk diambil sebagaimana acara lari pada umumnya. Harapannya, IKA Plus Run bisa menjadi pionir lahirnya kegiatan serupa yang diadakan oleh alumni sekolah/universitas lain. Alumni yang mengadakan reuni bukan hanya sebatas dialog dan diskusi, tapi juga olahraga bersama. Karena percaya atau tidak, olahraga bisa menghadirkan lebih banyak massa. Namun bukan berarti dialog dan diskusi tidak penting. Kita hanya butuh berbagai pendekatan saja untuk mengumpulkan lebih banyak alumni. Lalu perlahan tapi pasti kita berkolaborasi dan berkontribusi.
Baca juga:
8 Ide Alumni yang Layak Diduplikasi oleh Siapapun
Pulang Kampung atau Pulang (dan bangun) Kampung
Terima kasih seluruh panitia, alumni, dan sponsor yang terlibat. Kita sudah melakukannya dengan sebaik-baiknya. Semoga menjadi tabungan amal ibadah.
Dan terakhir, terima kasih kepada sang istri dan anak yang setia mendampingi. Jauh-jauh hari sebelum ini, banyak waktu di rumah yang difokuskan untuk IKA Plus Run. Bahkan di hari H, mereka bersedia untuk berangkat pagi-pagi setelah salat Subuh menuju lokasi. Tidak mudah bagi ibu menyusui dan anak yang masih berumur 7,5 bulan bergerak sepagi itu. Sekali lagi, terima kasih banyak. Semoga kita bisa saling mendukung satu sama lain.
Dan juga, terima kasih atas saran tagline di panggung utama.
“25 Tahun Alumni: Menyebar untuk Membangun Negeri.”
Ya. Kalimat itu datang dari istri saya, Lucy Maryeni. Penulis buku Teropong Waktu.