Belajar Jadi Suami, Sudah Belajar Apa?

Belajar Jadi Suami, Sudah Belajar Apa

Sebulan yang lalu, tepatnya 8 Oktober 2025, usia pernikahan kami genap 2 tahun. Tulisan ini harusnya sudah rilis sebulan yang lalu. Namun karena berbagai alasan, saya menunda-nunda. Namun apakah karena sudah terlewat tidak jadi diselesaikan? Jangan dong. Selesai walaupun telat lebih baik daripada tidak selesai sama sekali.

Tepat hari ini, 2 tahun 1 bulan sudah saya jadi suami. Apa yang saya pelajari dari proses menjadi suami akan dituliskan di sini. Namun disclaimer terlebih dahulu bahwa tulisan ini bukanlah tips menjadi suami yang baik. Saya belum layak rasanya untuk memberi nasihat seputar itu. Tulisan ini saya niatkan untuk memaknai proses belajar. Dan semoga karena dipublikasikan bisa jadi pelajaran bagi yang membaca.

Mari kita mulai.

  1. Maklumi hal-hal remeh yang tidak merusak

Saya orang yang jauh dari kata perfeksionis. Istri saya lumayan perfeksionis. Perbedaan ini membuat cara pandang kami berbeda dalam melihat proses. Satu langkah kecil bagi saya amat sangat layak diapresiasi. Berbeda dengan istri saya yang kerapkali harus sempurna‒atau setidaknya punya standar kualitas yang tinggi. Cara pandang itu pula yang membuatnya sering overthinking. Benar-benar berbeda dari saya. Perlahan, saya pun mempengaruhinya agar apresiatif terhadap progres kecil.

Di momen lain, dan saya yakin relevan dengan banyak pasangan. Sebagaimana banyak perempuan lain, pasti ada-ada saja pertanyaan yang tidak terlalu penting bagi suami, tapi sangat penting bagi istri. Apa itu?

“Kamu sayang sama aku?”

Entah berapa kali istri saya bertanya seperti ini. Banyak sekali. Nyaris tiap hari. Awalnya jujur saja saya risih. Soalnya aneh, kok masih nanya. Saya bisa saja menjawab dengan sewot. Namun jawaban itu justru bisa memperumit masalah. Jawab saja,

“Sayang dong.”

Namun tunggu, jawaban ini tidak akan cukup. Pasti ada pertanyaan lain.

“Apa buktinya?”

Nah, perihal ini pandai-pandailah menjawab karena saya sudah punya banyak stok jawaban. Bukan karena saya suami yang romantis. Cukup kami berdua yang tahu.

Intinya, jangan pernah bosan dengan hal-hal remeh yang tidak merusak. Maklumi saja karena itulah warna dalam hidup berpasangan. Kadang cinta bukan tentang menemukan kesempurnaan, tapi memaklumi kekurangan tanpa kehilangan rasa hormat.

  1. Belajar bicara dari hati ke hati

Salah satu kriteria saya dalam mencari pasangan adalah komunikatif. Komunikatif di sini bukan tentang ahli dalam public speaking ya. Komunikatif tidak bisa diartikan sesempit itu. Komunikatif yang saya maksud di sini sederhananya adalah, ya komunikatif. Hmm, gimana ya menjelaskannya.

Bagi yang pernah berinteraksi dengan istri saya pasti bisa memahaminya. Namun jangan menilai dirinya saat public speaking. Namun nilailah dirinya saat bicara dalam kehidupan sehari-hari. Atau begini saja. Saya berikan contoh agar mudah memahaminya.

Saya adalah orang yang aktif berbicara. Bukan cerewet ya, tapi ya memang aktif saja. Berani bersuara. Karena saya meyakini bahwa diam dengan harapan orang lain memahami adalah sebuah ilusi. Maka sampaikanlah, sebaik-baiknya.

Kami dalam menghadapi konflik rumah tangga mengedepankan komunikasi terbuka sebagai solusi utama. Kami mengusahakan untuk menyelesaikannya sebelum tidur.

“Mau bicara malam ini atau besok.”

Atas pertanyaan ini, kami mengusahakannya selesai pada malam itu.

Apakah mudah? Tentu saja tidak. Sering kali tangisan akan tumpah di sini. Saya sebagai suami sering kali merasa bersalah pada momen ini. Namun inilah yang kami syukuri dari proses komunikasi terbuka. Kami mendengar satu sama lain, berani berbicara, saling memaafkan dan berusaha untuk memperbaikinya pelan-pelan.

Saya berikan contoh lebih spesifik. Dalam four attachment style, saya dan istri sama-sama berada di kategori secure. Namun bedanya istri saya kemelakatannya lebih kuat dibandingkan saya yang lebih cuek.

Apalagi perbedaan bahasa cinta. Dengan perbedaan tipe tersebut  akan sering terjadi gesekan. Namun dengan komunikasi terbuka, gesekan tersebut pelan-pelan bisa teratasi. Gesekan yang bukan menjadi api konflik, tapi semoga bisa menjadi kehangatan dalam rumah tangga.

  1. Jangan tanyakan kenapa turun, tanyakan bagaimana memperbaikinya

Bagi yang menganggap bahwa pernikahan seindah yang dipublikasi di media sosial, siap-siaplah kecewa. Namun pernikahan juga tidak semengerikan yang ada di media sosial. Intinya sih, jangan jadikan media sosial ataupun influencer sebagai standar dan panutan.

Jujur saja, sebelum menikah saya berharap aspek tertentu dalam kehidupan saya bisa melesat naik. Atau setidaknya, kelamahan saya bisa teratasi dengan hadirnya sang istri. Namun ternyata, tidak seindah itu.

Banyak aspek dalam kehidupan saya yang turun. Saya bisa saja menyalahkan istri karena faktanya dia juga lemah dalam hal tersebut. Contoh sederhana, kerapian. Sebenarnya saya tidak rapi-rapi banget. Namun dibandingkan istri, saya sedikit lebih rapi. Dengan standar rapi yang rendah, maka yang terjadi, ya begitulah. Kami memaklumi ketidakrapian. Namun rumah kami tidak seperti kapal pecah juga. Walaupun ada bayi yang aktif merangkak dan belajar berjalan. Proyeknya ada di mana-mana.

Ini baru satu aspek. Belum lagi aspek lain. Namun pelajarannya tetap sama.

Jika ada satu aspek dalam kehidupan berpasangan yang turun, jangan salahkan pasangan. Tidak bisa juga berhenti hanya menyalahkan diri sendiri. Yang seharusnya kita lakukan adalah bagaimana caranya memperbaiki bersama-sama.

Pasangan hadir bukan sebagai pembenaran atas kelalaian, tapi berkomitmen untuk melakukan peningkatan bersama. Karena pernikahan bukan tentang menjaga grafik selalu naik, tapi tentang belajar memperbaiki garis yang turun bersama.

  1. Lihat banyak kebaikan pasangan, jangan tutup mata dengan kelemahan

Untuk hal ini, saya orang yang cukup logis. Saya tak ingin terbuai dalam hubungan yang melalaikan, atau setidaknya menormalisasi suatu hal yang kurang baik.

Istri saya tidak sempurna. Kelemahannya pasti ada. Namun kebaikannya lebih banyak. Tanpa membuat daftar, saya tahu dan sudah melihat kebaikannya lebih banyak daripada kelemahannya.

Saya tak ingin menutup mata dengan kelemahan istri. Karena justru di sanalah adanya peluang perbaikan. Baik yang dia sadari dan harus perbaiki secara mandiri atau yang perlu dibantu oleh suaminya.

Pasanganmu tidak sempurna. Pun begitu dirimu tidak sempurna. Maka daripada menutup mata dengan kelemahan, ada baiknya bersama-sama memperbaiki diri.

  1. Jangan pernah lelah mendukung

Satu dari sekian banyak yang saya syukuri adalah kehadiran istri sebagai sosok yang selalu mendukung. Apalagi dengan karier saya sebagai penulis yang tidak punya rute sebagaimana profesi pada umumnya. Rute yang harus dilalui terlihat samar untuk ditempuh. Mencoba sana sini agar tetap bertahan dan bertumbuh. Sembari memperluas potensi rezeki yang baru.

“Kapan nulis lagi? Udah  lama enggak nulis.”

Salah satu pernyataan yang paling sering dilontarkan jika saya sudah jarang menulis yang dipublikasi. Pertanyaan itu pula yang membuat saya tidak berlama-lama untuk jeda. Kehadirannya kini sebagai pembaca pertama saya. Sebelum publikasi tulisan, biasanya saya akan meminta tanggapan darinya agar tahu mana yang sudah bagus dan mana yang perlu diperbaiki. Istri saya adalah pembaca pertama dan selalu mendukung pilihan saya.

Pun begitu keharusan saya untuknya. Atas banyak hal yang dicobanya, dia selalu berkata,

“Jangan bosan dukung Lucy ya.”

Saya tak pernah bosan. Tak akan bosan. Walaupun tentu bentuk dukungan beragam. Tidak selalu dengan cara yang menyenangkan. Kadang dengan cara yang menyentil. Namun justru itulah yang membuatnya tidak terbuai.

  1. Jangan pernah merasa paling berkorban

Salah satu pemikiran sebagai pasangan yang menurut saya berbahaya adalah “Aku sudah berkorban banyak untuknya.” Karena pemikiran itu membuat diri kita sebagai pasangan merasa paling berjasa. Seolah-olah pasangan kita minim kontribusi dalam keluarga.

Sebagai konteks. Istri saya adalah lulusan SMK Farmasi dan meraih beasiswa. Begitu pula dengan kuliah S1 dan S2, beasiswa juga. Namun jurusannya di kuliah bukan farmasi, tapi pendidikan matematika. Sembari kuliah dulu, dia sudah bekerja di banyak tempat. Pernah di apotek (bukan sebagai apoteker), mengajar bimbel, hingga terakhir menjadi wakil kepala sekolah di salah satu islamic boarding school.

Pertengahan 2024 istri saya resign dari pekerjaannya. Salah satu pertimbangannya adalah karena sudah hamil cukup besar dan aturan di sekolahnya hanya cuti sekian bulan. Jika mau mengajar kembali, kontraknya hitungan tahun, bukan bulan. Itulah pekerjaan WFO yang dia lakukan terakhir kali.

Sebenarnya ada pertimbangan lain. Sewaktu saya mengajukan proposal pernikahan, saya memberikan syarat agar anak kami nanti dirawat oleh ibu dan tentu ayahnya. Bukan dititip ke orang tua. Atas dasar tersebut, pekerjaan yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah yang mengutamakan WFH.

Berbagai pekerjaan WFH pun dicobanya. Pernah menjadi mentor beasiswa, tutor bimbel, penyusun kurikulum materi ajar, jualan produk, hingga merintis karier sebagai content creator yang tidak mudah. Berkali-kali dia mengatakan lelah untuk mencoba pekerjaan WFH. Terutama content creator yang menurutnya bukan bakatnya. Lelah saat harus edit ini dan itu. Saat itu niche yang dipilihnya adalah self growth bagi perempuan.

Namun siapa sangka content creator-lah yang kini diseriusinya sembari menjalani pekerjaan utama sebagai trader saham syariah. Dia berganti niche dan menyematkan personal branding sebagai “Bunda Trader Syariah”. Membantu agar ibu-ibu bisa bekerja dari rumah melalui trading. Silakan follow @tumbuhbarenglucy Proses pertumbuhan akunnya sangat kencang.

Istri saya sudah banyak berkorban. Menurut saya, inilah cara pandang yang bijak agar sebagai pasangan kita tidak merasa paling berjasa. Karena bagaimanapun, pernikahan adalah hubungan interaksi, bukan satu arah. Bukan hanya memberi, bukan hanya meminta. Pernikahan adalah tentang dua orang yang saling menanggung, bukan menagih.

  1. Belajar sepanjang hayat

Saya sudah belajar ilmu pernikahan sejak lama. Sejak kuliah semester awal-awal bahkan. Termasuk belajar parenting sudah lama. Baik di seminar, tontonan, atau bacaan. Dari berbagai pelajaran itu pula yang membuat saya yakin sudah siap menjadi suami dan ayah. Namun ternyata yang saya rasakan berbeda.

Siap adalah satu hal. Namun proses setelah itu harus terus berjalan. Apakah ilmu saya sebagai suami dan ayah sudah cukup? Tentu saja tidak. Saya justru merasa banyak kurang. Saya akan dan ingin terus belajar. Dan dari sinilah saya sadari makna dari sebuah program pendidikan keluarga, “Belajar Jadi Suami” dan “Belajar  Jadi Istri”.

Belajar jadi pasangan itu bukan hanya mempersiapkan, tapi setelahnya pun harus terus belajar. Belajar jadi suami bukan mata kuliah sekali tamat. Ia adalah pelajaran sepanjang hayat.

***

Apa yang saya tuliskan adalah catatan refleksi atas perjalanan yang dilewati. Bukan tips pernikahan dan ilmu keluarga dari yang lebih paham. Mungkin saya lebih dahulu mengalaminya. Tapi lebih banyak orang yang lebih dahulu merasakannya. Saya menulis untuk mengabadikan pelajaran dan semoga ada manfaat yang didapat dari yang membaca.

Perjalanan kami pernah diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Teropong Waktu”, kumpulan 55 tulisan reflektif tentang prinsip, misi, pencarian, dan pertemuan. Buku ini saya tulis bersama istri sebagai cara kami menatap masa lalu dan masa depan dengan makna. Dirilis pada 8 Oktober 2023, bertepatan dengan hari akad nikah kami. Buku ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan punya babnya sendiri. Versi e-booknya bisa kamu dapatkan di sini.

Menulis untuk memaknai proses yang sudah dialami sebenarnya bisa dilakukan siapa saja. Termasuk olehmu. Mulai saja. Mungkin tidak mudah. Namun percayalah, prosesnya menyenangkan dan berharga.

“Saya menulis bukan karena sudah sempurna, tapi karena ingin terus belajar. Sebab cinta dan belajar, sejatinya tak pernah selesai.”

Baca tulisan lainnya:
Kenapa Menjadi Biro Jodoh?
Mengingat Perjalanan Berkesan, Cerita Lahirnya Aksara
Menjaga Hati Saat Menanti: Sebuah Perjalanan Menuju Janji Suci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *