Saya lupa kapan pertama kali berkurban dengan uang pribadi. Seingat saya ketika kuliah. Antara tahun 2014/2015. Yang jelas saat itu saya mencari kurban yang sesuai dengan budget via KitaBisa dan didistribusikan di lokasi yang membutuhkan.
Sejak tahun itu, saya komitmen untuk terus berkurban. Tidak hanya dengan platform yang sama. Kadang di lembaga lain, kadang di kampung halaman. Jangan kira harta saya saat itu berlimpah. Yang namanya kurban, pasti harus berkorban.
Per 2020, saya usahakan naik kelas. Harga kurban bertambah. Lokasinya semakin jauh. Bumi Syam. Kadang di Gaza, kadang di Suriah. Harganya berapa, coba cek sendiri. Yang pasti, berkali lipat dibandingkan kurban saya pertama kali.
Sejak 2020 hingga kini, alhamdulillah selalu istiqomah. Ada-ada saja rezekinya. Kadang bisa dua kali berkuban. Satu di musalla dekat rumah, satu tetap di Bumi Syam.
Per 2024, kurban tidak lagi sendiri. Saya bersyukur karena istri tetap mendorong agar kebiasaan tersebut tetap dilanjutkan. Bahkan tahun ini, istri pun mulai kurban lagi dengan biayanya sendiri. Padahal “hanya” bekerja dari rumah. Namun yang namanya rezeki mah pasti ada. Saya di Gaza, istri di dekat rumah.
Kurban berarti berkorban. Setiap dari kita pasti punya cerita pengorbanannya sendiri.
Para pejabat misalkan. Berlomba-lomba untuk berkurban yang terbaik. Tidak lupa media pasti meliput. Politisi dengan mesin partainya pun sama. Artis juga. Kurban dengan harga yang super dibandingkan rakyat biasa.
Ada hal menarik dari fenomena ini. Satu sisi, kita layak bersyukur mereka mereka masih melakukan “kewajiban” sebagai seorang muslim. Namun jangan terlalu takjub. Ini sama halnya dengan pernyataan “Kok kamu rajin salat sih?” Kok bisanya mengerjakan salat dikatakan rajin? Itu kan sudah kewajiban standar seorang muslim.
Kurban dengan harga super adalah hal wajar bagi sebagian kalangan. Karena hartanya yang memang berlimpah. Namun ingatlah, bukan darah atau daging yang Allah terima, tapi ketakwaan kita. Maka tanyakan lagi pada diri sendiri, untuk apa kita berkurban? Apakah untuk penilaian manusia atau penilaian Allah?
“Gajah beramallah seperti gajah. Semut beramallah seperti semut. Jika semut bisa beramal seperti gajah, itu luar biasa. Tapi jangan sampai gajah beramal seperti semut.”
Nasihat dari seorang guru ini sering saya ulang-ulang karena memang seberkesan itu. Maksudnya adalah, amal seorang penguasa atau pesohor itu bukanlah dengan harta. Namun dengan kebijakan dan pengaruh positif. Jika mereka berkurban super, tentu layak kita apresiasi. Namun jangan terlalu takjub. Ingatlah apa amalan andalan yang seharusnya dia lakukan.
Sekali lagi, kurban berarti berkorban. Nabi Ibrahim adalah teladan terbaik kita. Keikhlasannya dalam melaksanakan dua perintah Allah berbuah manis. Pertama, meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil di Makkah yang tidak ada peradaban berbuah air zam-zam yang tidak henti hingga kini. Kedua, menyembelih Nabi Ismail dengan dialog iman menjadikan anak keturunannya menjadi Nabi. Terkait kisah ini, saya pernah menuliskannya dua tahun lalu, Kurban adalah Ujian Keimanan.
Kita tidak mungkin diberikan ujian sebesar Nabi Ibrahim. Namun yakinilah bahwa cerita kurban masing-masing di antara kita pasti berharga.
Ada pemulung yang harus menabung bertahun-tahun untuk bisa berkurban.
Ada kumpulan bocil yang harus menabung rutin agar bisa berkurban.
Ada kita, saya dan kamu, yang berkorban untuk bisa berkurban.
Untuk apa kita semua berkurban? Semoga itu semua karena iman.
Teruslah berjuang. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan dan keberlimpahan rezeki sehingga kita bisa berkurban yang terbaik setiap tahunnya. Semoga ketakwaan kita pun senantiasa bertambah. Aamiin.