Maaf, Saya Baper

Baper itu mengendalikan

Membaca judul ini banyak orang mengira bahwa kali ini rezkyfirmansyah.com berbicara mengenai cinta. Duh emang deh jomblo :3

Saya tidak tahu kenapa ketika berbicara mengenai perasaan banyak orang langsung berpikir mengenai aku dan kamu. Cinta, sayang, rindu dan seterusnya. Padahal dalam KBBI perasasaan adalah keadaan batin sewaktu menghadapi sesuatu. Dalam psikologi kata ini sering diartikan untuk pengalaman subjektif sadar mengenai emosi. Walaupun katanya teman yang jurusan psikologi bahwa perasaan itu adalah bagian kecil dari emosi.

Proses mental yang terjadi di otak itu ada 3. Emosi, kognisi, dan afeksi. Emosi itu sifatnya alamiah. Pasti ada terus menerus. Contohnya kecemasan. Kognisi lebih bersifat rasional. Contohnya pengambilan keputusan. Sedangkan afeksi adalah emosi yang sudah diberi makna oleh kognisi. Contohnya cemburu.

Nah saya paham kamu akan riweuh dengan berbagai penjelesan diatas. Kalau kamu lebih paham silahkan perbaiki. Karena saya pun mendapatkan penjelasan diatas dari mahasiswa psikologi. But lets make it simple. Bahwa perasaan bukan sempit hanya soal cinta, sayang, dan rindu. Mulai paham?

Agar lebih paham, mari kita kaitkan dalam kehidupan dan hubungan. Contohnya adalah hubungan sesama manusia seperti pacaran, organisasi, ataupun komunitas. Karena saya peduli sama kamu yang jomblo, maka saya akan ambil contoh dari selain pacaran.

Sebuah pernyataan menarik di malam hari :

“Aku orangnya nggak baper. Soal perasaan mungkin nggak terlalu peka. Ya aku tahu kalau ada yang salah. Jadi ya mesti apa? Kenapa harus terjebak di peraasaan? Life must go on”

Sebuah ungkapan dari seseorang ketika sesi heart to heart. Sesi dimana setiap orang diberikan kesempatan untuk blak-blakan menyampaikan sesuatu. Dan si penerima harus terbuka dan bijak dalam menerima. Semuanya dikeluarkan di sesi tersebut. Tapi setelah sesi selesai, semuanya bermula dari nol. Kebiasaan menarik untuk sebuah organisasi atapun komunitas. Layak diduplikasi untuk kebaikan bersama.

Memang seringkali dalam organisasi kita dipaksa menggunakan akal dan pikiran untuk mencapai sebuah keputusan. Tapi bukan berarti tidak bisa menggunakan perasaan kan? Sama halnya dengan kecenderungan laki-laki dan perempuan. Katanya sih perempuan cenderung menggunakan perasaan. Tapi perempuan masih punya otak untuk berpikir kan? Sama juga laki-laki yang cenderung menggunakan logika dan otak. Tetap mereka punya perasaan kan?

Jangan tersinggung. Selow aja. Karena setiap dari kita pasti punya otak dan pikiran. Hanya saja seringkali satu kekuatan yang menguasai. Yang akhirnya jadinya BAPER. Seringkali kita dibawa perasaan. Padahal seharusnya membawa perasaan. Disini peran otak dan pikiran seimbang. Kecerdasan emosial mulai berjalan.

Di tulisan sebelumnya juga pernah saya sampaikan. Walaupun agak frontal sih. Saya menuliskan tentang “Kalau Aku Sayang Kamu Terus Kenapa?”. Ya tentu aja dengan pernyataan rawan ini mampu membuat orang normal untuk baper.

“Ih dia ternyata memendam perasaan sama aku.”

Nah hanya dengan satu kalimat ini semuanya jadi berubah. Kaki di kepala kepala di kaki. Otak mulai berpikir tidak rasional dan perasaan mulai menguasai. Akhirnya baper. Bukan membawa perasaan tapi dibawa perasaan.

Baca juga : Enaknya Bisa Blak-Blakan dan Nggak Baperan

Nah jadi mau jadi apa? Subjek atau objek? Menjadi subjek dengan mengendalikan perasaan sedangkan objek dikendalikan perasaan. Yuk lebih bijak.

Keep writing, always inspiring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *