Di umur berapa kamu menemukan passion?
Satu pertanyaan sederhana, tapi jawabannya bisa beragam. Beda orang beda jawaban. Lantas, apakah perbedaan jawaban membuat yang satu lebih baik dan yang satu tidak lebih baik?
Perihal kebaikan tentu kita mengharapkan bisa mendapatkannya di waktu yang lebih cepat. Lebih cepat lebih baik. Namun hidup tidak selamanya seperti itu. Kadang kita mendapatkan sesuatu belakangan agar bisa mendapatkan banyak pelajaran.
Beberapa hari lalu di perjalanan pulang ke rumah, saya dan Lucy berdialog di mobil. Satu pertanyaan reflektif yang punya banyak jawaban.
“Apa pelajaran berharga yang didapat di tahun 2025?”
Pertanyaan ini kami jawab bergantian. Saya menjawab, Lucy pun menjawab. Masing-masing kami memberikan lebih dari satu jawaban. Namun satu jawaban yang punya pembahasan panjang adalah seperti judul tulisan ini. Menemukan cahaya di dua waktu yang berbeda.
Cahaya Rezky
Dulu ketika SMA saya “terpaksa” mengambil jurusan IPA karena tidak ada jurusan IPS. Ketika kuliah, saya mengambil jurusan bisnis manajemen. Profesi saya saat ini? Konsultan penulis. Saya bukan hanya menulis untuk diri sendiri, tapi membantu orang lain untuk menjadi penulis.
Saya sudah tahu ingin menjadi penulis sejak SMA. Buku antologi pertama saya bersama teman angkatan terbit ketika perpisahan SMA. Berlanjut ketika kuliah hingga kini, saya terus menulis. Saya ingin terus menulis. Dan saya hidup salah satunya dengan menulis. Saya menemukan “cahaya” ini ketika SMA dan terus bertumbuh hingga 60+ buku saat ini.
Bagaimana dengan Lucy?
Cahaya Lucy
Lucy berprestasi sejak kecil. Juara kelas setiap semester sejak SD. Ketika SMA memilih SMK Farmasi. Ekspektasinya adalah sudah punya skill yang bisa digunakan untuk dunia kerja. Namun coba tebak ketika kuliah ambil jurusan apa? Pendidikan matematika. Bukan hanya S1, tapi sampai S2. Bukan biaya pribadi, tapi beasiswa.
Beragam profesi sudah Lucy jalani. Baik yang sejalan dengan pendidikannya atau yang tidak. Mulai dari jualan pulsa, keuangan di apotek, mengajar privat, bimbel hingga wakil kepala sekolah. Ketika resign karena sudah hamil besar dan menemani Aksara tumbuh, beragam hal dilakukan. Jualan daster, content creator, fasilitator beasiswa, dan lain-lain. Namun masalahnya, bekerja dari rumah membuatnya kewalahan, bahkan depresi. Karena Lucy adalah tipe pekerja yang aktif di luar rumah sejak dulu.
***
Sebelum menikah, saya memberikan syarat kepada calon istri. Yang menemani tumbuh kembang anak adalah ibunya─tentu ayahnya juga. Namun peran terbesar adalah ibu. Ini adalah keputusan bersama. Maka konsekuensi dari pilihan itu harus dijalani bersama.
Baca juga:
Mengingat Perjalanan Berkesan, Cerita Lahirnya Aksara
Belajar Jadi Suami, Sudah Belajar Apa?
Menjaga Hati Saat Menanti: Sebuah Perjalanan Menuju Ikatan Suci
Saya sudah dari dulu terbiasa bekerja dari mana saja. Kadang dari rumah, kadang di luar rumah. Kadang di dalam kota, kadang di luar kota. Curiganya sih sebentar lagi di luar negeri. Cara kerja yang saya nikmati, tapi bukan cara yang mudah bagi Lucy.
Lucy terus berjalan. Berharap menemukan cahaya, tapi yang terlihat adalah cahayanya semakin redup. Seperti masuk ke gua. Semakin gelap dan gelap.
Kata menyerah kerapkali terlintas. Namun harusnya kita bisa mengingat pesan ini.
Jika malam semakin gelap, maka itu tanda cahaya pagi mulai tiba. Kuncinya adalah terus bergerak dan menjaga prasangka baik. Bukan berdiam diri dan menyalahkan keadaan.
Content creator yang pernah telah dijalaninya terus dilanjutkan. Namun kini beda niche. Jika dulu hanya membahas seputar self-growth bagi perempuan, Lucy mencoba cara baru. Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, guru. Namun tidak lagi membahas matematika. Coba tebak apa?
Trading saham syariah. Sangat tidak terduga bukan? Kelak saya menyadari, Lucy tidak sedang mencari pekerjaan baru. Ia sedang mencari rasa bertumbuh.
Kami kerap diskusi banyak hal. Saudara kami pun juga memberikan banyak pandangan. Saham hanyalah salah satu dari banyak pembahasan. Namun entah bagaimana ceritanya, algoritma menunjukkan suatu akun dan kelas kepada kami. Terutama Lucy. Karena munculnya di akun Lucy. Akun saya memang beda algoritma.
Kelas itu dia ikuti dan langsung praktik. Berlanjut dengan kelas lainnya dan terus praktik. Lucy tidak lagi di dalam kegelapan gua. Dia terus melangkah dan mulai menemukan keyakinan awal yang menjadi pijakan baru. Belajar lagi dan praktik lagi. Akun yang dulu telah dirintis dan terhenti, mulai diaktifkannya kembali. Berbagi mulai dari apa yang dia pahami. Mengganti niche dan mulai menikmati. Tidak seperti sebelumnya yang merasa amat terbebani.
Satu per satu konten dihasilkan. Kepercayaan diri perlahan terbangun kembali. Namun di sisi lainnya, ketidakpercayaan diri juga ada. Lucy percaya dengan jalan yang dipilihnya sebagai trader saham syariah. Namun ketika banyak orang yang terbantu hanya dari konten tapi mulai meminta untuk diadakan kelas, Lucy tidak percaya diri. Dia merasa tidak pantas. Dia belum siap.
Akhir tahun 2025, kami merencanakan beberapa hal. Perjalanan ke luar negeri kami tunda karena faktor tertentu. Perjalanan ke Sumbar kami tunda karena bencana. Perjalanan tour de Sumatera dari Pekanbaru ke Lampung juga batal. Lucy mulai terpikir, apa ini tanda saatnya membuka kelas?
Lucy ragu tapi mau. Sebagai orang yang gas-gas aja, saya dorong untuk segera mengeksekusinya. Namun ada alasan serius dibandingkan gas-gas aja.
Saya yang memintanya untuk bekerja dari rumah. Maka selain nafkah, tentu saya juga harus bertanggungjawab untuk hal-hal lainnya. Termasuk pertumbuhan diri. Dan ini adalah ikhtiarnya.
Kelas akhirnya dibuka. Lucy yang jadi pemateri utama, tapi kami yang sama-sama menjalankannya.
Tepat 20 Desember akhirnya pendaftaran kelas dibuka. Rencana awal kami, hanya membuka 300-400 peserta. Namun sesuatu tak terduga terjadi di pendaftaran. Laptop kami error, jaringan listrik padam. Kami tidak bisa mengawal registrasi secara real time. Untungnya laptop dan listrik segera baik kembali. Namun 20 menit kemudian, pendaftaran membludak! Hingga akhir total peserta kami catat mencapai 945 peserta! Masya Allah!
Bukan karena kami hebat, tapi karena mungkin banyak orang yang sedang butuh cahaya kecil yang sama. Sebagaimana Lucy yang bekerja dari rumah, banyak ibu-ibu yang merasa terbantu dari kelas ini.
Tentu saja ini melebihi ekspektasi kami. Namun tak mungkin menolak peserta sedangkan mereka sudah membayar. Alhasil, kami menyiapkan dengan sebaik-baik mungkin bersama tim kecil lainnya.
Kelas dimulai. Lucy mengajar, saya mengawal. Aksara bersama neneknya di rumah kami. Kelas yang diadakan di malam hari ternyata punya tantangan tersendiri. Aksara sedang aktif-aktifnya. Pintu kamar sering digedornya. Berkali-kali pula saya coba amankan. Terkadang Lucy kehilangan fokus. Jiwa sang ibu bergejolak. Namun kelas tetap harus berjalan.
Hari demi hari berjalan. Hingga hari terakhir graduation dilaksanakan. Sebagaimana kelas pada umumnya, kami pun menyediakan form evaluasi. Dan tebak hasilnya apa? Mayoritas peserta mengisi tingkat kepuasan di angka 8-10. Masya Allah!
Lucy tidak lagi mengajar matematika. Namun dia mengajar ratusan trader pemula di kelasnya dan ribuan follower melalui akun @tumbuhbarenglucy. Terutama ibu rumah tangga yang ingin menghasilkan dari rumah.
Rezky menemukan cahayanya sejak 17 tahun. Lucy menemukan cahayanya lebih dari 10 tahun kemudian. Kami menemukan dua cahaya di waktu yang berbeda.
Ini mungkin nasihat klise. Namun percayalah, ini bukan tentang siapa yang lebih baik. Ini adalah tentang kepercayaan diri, menjaga prasangka baik tentang masa depan, dan kemauan untuk terus melangkah.
Untukmu yang kini mungkin sedang ragu. Jangan menyerah. Jangan berhenti. Jika kamu menjaga prasangka baik dan terus melangkah, percayalah kelak cahaya itu akan ditemui di masa depan dengan cara yang indah.