7 Pelajaran Berharga dari Pengalaman Menulis Novel Pertama

Pertengahan November 2025, saya menemukan postingan menarik dari akun @bentangpustaka dan @sukusastra. Postingan tentang lomba menulis bertema “Politik dalam Kehidupan Sehari-hari”. Batas akhir pengirimannya akhir tahun. Itu berarti hanya tersisa kurang dari 2 bulan untuk menyelesaikan naskahnya.

Tidak mudah memang. Apalagi ini adalah pengalaman pertama saya menulis novel. Jangankan menulis novel. Menulis karya nonfiksi dalam dua bulan saja masih terhitung cepat. Namun alhamdulillah, naskahnya selesai! Dan tulisan ini ditujukan untuk mengabadikan pelajaran yang saya dapatkan selama perjalanan menulis novel pertama. Selamat membaca!

  1. Mulai dari membaca buku, lanjut dengan menulis buku

Beberapa tahun belakangan, saya mulai membiasakan diri untuk membaca novel. Dua penulis favorit saya sejauh ini adalah Tere Liye dan JS Khairen. Semakin banyak membaca novel, semakin penasaran pula saya ingin menulis novel suatu saat nanti. Begitulah idealnya kita. Semakin banyak membaca, hasrat untuk menulis semakin kuat.

Namun anehnya ada paradoks bagi yang suka membaca. Semakin banyak membaca, semakin ragu dia menulis. Kenapa? Karena menjadikan karya yang dibacanya sebagai standar ideal dalam menulis buku. Padahal yang kita butuhkan bukanlah menulis yang sempurna, tapi memulai langkah pertama.

  1. Ada banyak jalan, salah satunya lomba

Jika jalan menuju Roma ada seribu, jalan untuk berkarya pun begitu. Banyak sekali. Untuk menulis karya kita bisa ikut program tertentu. Bisa juga dengan menantang diri ikut lomba. Dan saya mencoba untuk cara kedua.

Saya berkali-kali ikut lomba opini, berkali-kali pula gagal menjadi finalis. Khusus menulis novel, ini adalah pengalaman pertama saya. Apakah berhasil menjadi finalis? Entahlah. Namun yang pasti, saya berhasil menyelesaikan novel pertama. Itulah yang paling penting.

  1. Modal nekat dan kemauan kuat

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis novel. Selain karena banyaknya novel yang membuat saya terinspirasi untuk menulis, ada banyak film terutama drakor yang memantik hal serupa.

Saya punya keresahan dan tidak cukup hanya dipendam di pikiran. Menulis adalah cara yang saya impikan dari dulu. Menulis opini sudah sering. Menulis novel baru pertama kali. Kenapa bukan membuat film? Belum ada kepikiran dan pengalaman. Tapi beda cerita kalau suatu saat nanti novelnya menjadi film tersendiri. Amin aja dulu~

  1. Tidak ada inspirasi tunggal

Tidak ada hal yang benar-benar baru di bawah matahari. Begitulah pepatah berkata. Inspirasi pun begitu. Tidak ada inspirasi yang tiba-tiba datang dari langit seperti wahyu yang diberikan kepada Nabi. Pasti ada pemantiknya.

Saya terinspirasi dari banyak hal. Dari buku yang dibaca, film yang ditonton, orang yang ditemui, keresahan yang dirasakan, dan banyak lagi.  Tidak ada inspirasi tunggal. Semuanya saling berkelindan dan bermuara menjadi karya.

Baca juga:
7 Inspirasi yang Saya Dapatkan dari JS Khairen
Menulis Buku Minimal Harus Berapa Halaman?

  1. Gunakan AI “hanya” sebagai alat

Zaman sekarang ini tidak mungkin kita menghindari AI. Kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Dalam konteks menulis, apa yang bisa dilakukan?

Menjadi pemecah writer’s block, tempat bertanya kaidah kepenulisan, mencari alternatif deskripsi cerita, memberi feedback tulisan, dan banyak lagi. Itu semua saya lakukan. Menggunakan AI hanya sebagai alat, bukan menjadikannya sebagai tujuan akhir. Jangan dikit-dikit AI, tapi gunakan seperlunya. Pendapat saya begitu.

  1. Tidak tahu detail bukanlah masalah

Jujur saja, saat awal menulis saya tidak tahu cerita detailnya. Karya ini bermula dari kelas cerpen yang saya ikuti. Rasanya sayang saja jika cerpen itu hanya tersimpan di dokumen. Namun memang itulah yang terjadi. Tersimpan bertahun-tahun lamanya. Barulah pertengahan November lalu keinginan untuk menjadikannya novel terealisasi.

Tidak tahu detail cerita bukan berarti tidak bisa melangkah. Dalam menulis novel, yang saya siapkan di awal adalah premis. Akhir cerita pun tidak tahu. Namun saat menulis, yang saya tahu biasanya hanya satu bab setelahnya akan bercerita tentang apa. Akhirnya, voila! Seperti menyinari kegelapan dengan melangkah menggunakan senter. Kita bisa melihat selangkah demi selangkah di depan dan sampai ke tujuan.

  1. Langkah terukur dan realistis dengan progress tracker

Target minimal dari naskah novel yang akan dilombakan adalah minimal 30.000 kata. Saya pun menghitung-hitung. Berapa kata yang harus ditulis setiap harinya. Hingga kemudian, saya memasang target 1.250 kata setiap harinya.

Untuk membuatnya terukur dan terlihat, saya membuat coretan sederhana berupa tanggal dan jumlah kata yang ditulis setiap harinya. Saya namakan progress tracker. Apakah setiap hari terisi?  Tidak juga. Ada beberapa hari saya tidak sempat menulis. Ada juga yang lebih dari target minimal. Hingga akhirnya, naskah novel ini tembus 40.000 kata.

***

Pengalaman pertama menulis novel ini bagi saya sangat berkesan. Apakah sempurna? Jelas tidak. Namun yang pasti, naskah ini berhasil terselesaikan sebelum 2025 berakhir. Apa pun hasilnya nanti, akan sangat saya syukuri. Karena menikmati proses adalah cara terbaik agar bahagia dalam berkarya.

Kepada siapa saja yang ingin memulai menulis, mulai saja. Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena yang menulis dan menjalaninya adalah dirimu sendiri. Selamat berkarya!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *