Meraih 10K di Instagram, Buat Apa?

Per 1 Oktober 2020 kemarin, akhirnya Instagram @rezky_passionwriter mencapai angka 10K. Bahagia? Tentu saja.

Bagi sebagian orang pengguna social media, angka mungkin salah satu yang dicari. Awalnya ingin 10K, lalu lanjut centang biru, lalu lanjut 100K, dan begitu seterusnya untuk pertumbuhan angka yang terus bertambah dan bertambah. Cuan masuk dari endorsan.

Jujur saja, saat ada notifikasi 10K di layar handphone, perasaan saya campur aduk. Bahagia tentu saja ada. Merasa “biasa aja” pun juga ada. Toh ini hanya angka kan? Tapi ada satu rasa yang tidak boleh tidak ada. Apa itu? Rasa bersyukur.

Ada celetukan menarik dari seorang teman. Kami punya pengalaman berbeda tapi ada irisannya. Kamu pun mungkin punya irisan yang sama dengan kami.

Saat saya menulis dan terus bertambah angka buku yang terbit, bagi saya tentu itu pencapaian. Beberapa karya digital saya bisa dibaca di sini. Bersyukur pasti harus. Bagi sebagian orang itu adalah pencapaian luar biasa. Karena tidak semua orang bisa mencapai angka tersebut dalam durasi yang singkat. Tapi saat saya merasa “biasa saja” dan menyatakannya, ada kekeliruan di sini. Maksudnya?

Saya beri contoh lain.

Ada seorang teman yang bercerita tentang pengalamannya mendapatkan penghargaan nasional beberapa waktu lalu. Salah satu temannya bertanya,

“Gimana perasaannya udah menang?”

“Alhamdulillah, tapi biasa aja.”

Muka seorang teman yang bertanya langsung merah padam dan dia marah.

“Kamu tahu nggak, di dalam sana tadi aku merasa nggak ada apa-apanya dibanding kamu. Padahal start kita sama, tapi sekarang kamu jauh banget.”

Insecure syndrom. Begitu kata teman saya atas percakapan tersebut. Insecure saat melihat seseorang lebih dari kita.

Ada banyak orang yang merasa insecure dengan apa-apa yang telah dicapai orang lain. Saya kadang-kadang juga ada. Saat orang-orang sudah meraih A, B, dan C tapi kamu masih di sini-sini aja, belum ke mana-mana. Dan ketika orang-orang tersebut merasa “biasa aja” atas pencapaiannya, bagi sebagian orang yang insecure akan semakin dan semakin insecure. Kenapa? Karena bagi dia yang biasa, tapi bagi kamu itu luar biasa. Sulit diraih. Semakin dalamlah dengan perasaan “aku mah apa atuh”.

Paham maksud saya?

Apa yang kita anggap biasa saja, bagi sebagian orang itu adalah suatu yang luar biasa. Maka yang paling utama harus ada dalam diri adalah bersyukur. Bukan bersyukur semata-mata karena apa yang dicapai. Melainkan bersyukur dengan makna segala yang dititipkan oleh Allah saat ini.

Coba saja maknai ucapan “alhamdulillah hadza min fadhli rabbi”. Maknanya adalah pujian atas apa yang Allah berikan, bukan apa yang kita dapatkan, upayakan, usakahan. Betul ikhtiar manusia. Tapi jika Allah tidak berikan ya kita bisa apa.

Ada orang yang melangkah 100 hasilnya langsung jadi. Tapi ada orang yang melangkah 10 hasilnya udah jadi. Nah, kenapa bisa? Apakah karena yang Si 100 tidak pantas meraih dibandingkan Si 10? Bagi saya sih belum tentu. Karena bagi saya, Si 100 sedang diajarkan suatu hal penting bagi Allah. Apa? Pelajaran menghargai usaha.

Saya berikan contoh langsung deh.

Postingan perdana saya di Instagram sekitar tahun 2012. Postingan iseng saja dari jepretan bacaan. Per Oktober 2020 baru deh saya bisa mencapai angka 10K. Butuh waktu 8 tahun. Lama sekali ya? Padahal bagi sebagian orang, mencapai angka 10K bisa dengan waktu yang sangat singkat. Maka dengan lamanya durasi yang Allah berikan mengajarkan saya untuk menghargai usaha.

Contoh lain.

Kalau saja setiap postingan saya mendapatkan like ribuan (dengan jumlah follower 10K), konversi ini sangat baik. Tapi nyatanya tidak begitu. Saya “hanya” mendapatkan angka ratusan. Padahal ada yang follower-nya mungkin hanya ribuan, tapi jumlah like jauh melebihi saya.

Jika saya meraih like ribuan seperti contoh yang dimaksud tadi, tentu senang sekali. Tapi nyatanya, saya tidak mencapai angka itu. Kenapa? Bukan karena konten saya tidak bagus. Karena ada hal penting yang Allah ingin ajarkan kepada saya. “Teruslah melangkah apa pun hasilnya. Fokuslah pada meluruskan niat, bukan penilaian manusia berupa like dan comment saja.”

Mungkin jika saya diberikan like yang banyak, saya akan mudah jumawa. Akan mudah berbangga hati. Tapi Allah tidak berikan itu. Allah ingin memberikan pelajaran penting bagi saya untuk terus melangkah.

***

Kembali lagi ke jawaban “alhamdulillah hadza min fadhli rabbi”. Makna ucapan syukur ini sungguh luar biasa jika kita ingin mendalaminya. Kita menyandarkan segala pencapaian bukan kepada diri, tapi kepada Dia yang memberi. Nyatanya tidak mudah bagi kita untuk itu kan? Kita merasa bahwa segala upaya adalah hasil jerih payah kita. Semata-mata dari kita dan untuk kita. Peran Allah begitu kecil kita hargai.

Bersyukur ini memang pelajaran panjang. Setiap orang akan mendapatkan pelajarannya masing-masing untuk memahami hal ini.

Pernah suatu hari saya bertanya kepada Coach Rene Suhardono. Pertanyannya saya lebih kurang begini.

“Coach, seringkali saat kita minta nasihat dijawab oleh orang lain dengan jawaban klise seperi sabar, ikhlas, dan syukur. Tapi maknanya apa sih?”

Jawaban beliau saat itu insightful sekali.

“Allah punya caranya tersendiri untuk mengajarkan setiap hamba-Nya atas hal-hal yang kita anggap klise itu. Pelajaran dengan cara yang spesifik untuk masing-masing dari kita. Dan pelajaran itu telah, sedang, dan akan terjadi.”

Saya dan kamu yang membaca punya cara yang berbeda untuk menghadapi ujian bernama sabar, ikhlas, syukur, dan berbagai hal klise lain. Ada yang diajarkan dengan kehilangan seseorang yang disayangi, gagal ujian berkali-kali, hingga hal seremeh follower di social media. Pertanyaannya, apakah berbagai ujian tersebut bisa kita maknai untuk naik kelas? Naik kelas agar semakin paham dengan hal-hal klise tadi: sabar, ikhlas, dan syukur.

Mendapatkan 10K buat apa? Yang paling utama, Allah sedang mengajarkan saya untuk bersyukur dan menghargai usaha. Selanjutnya apa lagi?

Bisakah 10K membuat saya semakin tergerak untuk terus menebar kebaikan? Bisakah 10K membuat saya semakin cerdas melawan kebatilan? Atau jangan-jangan hanya tujuan endorsan karena bisa swipe up. Tentu bukan itu yang diharapkan.

Saya penasaran, bisakah 10K menjadi jalan saya menuju surga? Semoga.

Baca tulisan lainnya tentang syukur:
Misi Hamba yang Kembali: Menghindari dan Mensyukuri
Ujian Keimanan Setiap dari Kita Pasti Berbeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *