5 Insight dari Samulife, Film Inspiratif tentang Mendirikan Sekolah di Jepang

samulife

“Bukan apa yang kamu dapatkan, tapi apa yang kamu pelajari.”
(Samulife – 2015)

Setuju. Saya setuju banget dengan pesan ini. Bahkan pesan ini menjadi prinsip saya dalam belajar. Karena percuma saja dapat banyak, tapi yang dipelajari dikit. Beda loh antara yang didapat dengan yang dipelajari.

Belakangan saya sering nonton film based on true story. Sebelumnya ada The King, mengisahkan tentang perjalanan seorang jaksa muda yang “menjatuhkan” mentornya. Anyway, itu film dari Korea. Beberapa hari yang lalu menonton Samulife, true story dari Jepang.

Mengisahkan tentang seorang guru yang mengundurkan diri dari sekolah, lalu mendirikan sekolah baru. Alasannya? Klasik banget. Karena sekolah pada umumnya bukanlah tempat yang ideal untuk bertumbuh sesuai minat dan bakat.

Nonton deh, inspiratif banget.

Review dong?”

Tentu. Karena itulah tulisan ini diposting. Tapi review saya bukan review biasa. Kalau mau review biasa, baca aja di tulisan yang lain ya. Haha. Mari kita mulai.

Nagaoka adalah nama (mantan) guru SMA yang menjadi tokoh utama. Bersama mantan muridnya ketika SMA, mereka berjuang membangun sekolah yang baru. Samurai Gakuen nama sekolahnya.

  1. Pertama, Jadilah Teman

Scene pertama dari film ini adalah pertemuannya dengan anak SD. Aki namanya. Diceritakan dia tidak sekolah lagi dan Nagaoka datang ke rumahnya untuk menjadi konselor. Saat itu Aki bersama adiknya di rumah yang sedang berantakan. Nagaoka pun inisiatif untuk beres-beres rumah yang tentu saja diikuti oleh Aki dan adiknya

Awalnya Aki mengatakan tidak sekolah karena membenci sekolah. Tapi setelah ditelesuri, ada faktor ibunya di sini. Ibunya sudah cerai dengan suaminya. Ibunya pun harus banting tulang dan pulang larut malam. Hidup mereka berantakan.  Kekerasan pun juga ada sesekali.

Suatu hari, Nagaoka datang lagi ke rumah dan bertemu dengan ibunya. Ibunya yang sudah skeptis dan menganggap tidak ada orang yang peduli dengan mereka pun tertegun dengan kalimat Nagaoka.

Maukah kamu berteman denganku? Karena dengan menjadi teman adalah pembuka jalan untuk membantu orang lain.

Kisahnya dengan Keluarga Aki tidak lancar. Tetap ada penolakan hingga akhirnya happy ending bagi keluarga Aki. Happy ending yang gimana? Rahasia. Tonton sendiri.

  1. Mencari Tempat atau Menyediakan Tempat?

Awalnya Nagaoka berjuang sendiri untuk mewujudkan mimpinya. Tentu saja setelah didukung oleh istri dan orang tuanya.

Mendirikan sekolah tentu tidak mudah. Butuh uang. Nagaoka pun memulai dengan membuka café bar. Dia yang mengelola sendiri, mengecat sendiri, dan berbagai urusan pertukangan sendiri.  Dia memperjuangkan mimpinya sendiri. Awalnya begitu.

Hari demi hari berlalu. Perlahan “orang lama” berdatangan. Dimulai dari Kenji yang membantu menyiapkan café bar dengan sukarela. Dilanjutkan dengan Yumi, mantan desainer yang resign dari perusahaannya karena “tidak nyaman”. Takashi, mahasiswa yang jago ngomong tapi sudah menyerah untuk kuliah yang kebetulan singgah di café bar pun diajak bergabung. Satu orang terakhir, Daisuke yang sedang melakukan “perjalanan” juga terjebak dan bergabung.

Kenji, Yumi, Takashi, dan Daisuke adalah mantan murid Nagaoka di SMA Nishi. Atas kesamaan almamater itu, mereka menamakan tim dengan West Team.

Suka dan duka pasti ada. Hingga pada suatu titik terendah, mereka mulai menyerah. Boleh dikatakan, Nagaoka sebagai pemimpinlah yang menjadi penyebab turunnya semangat itu. Emang kenapa bisa? Nonton aja dan maknai sendiri.

Tapi perlahan mereka bergabung kembali. Yumi kepada Daisuke berpesan,

“Kita sibuk untuk mencari tempat yang cocok untuk kita. Pak Guru mendirikan café bar untuk mencari tempat yang cocok baginya. Hingga tempat itu menjadi tempat yang cocok bagi kita semua. Dia tidak mencari tempat, tapi menyediakan tempat yang cocok bagi kita.”

  1. Mimpimu Apa? Kapan Kamu Mulai Mewujudkannya?

Dua pertanyaan yang singkat, tapi penting untuk dijawab. Powerful question.

Kita seringkali punya banyak mimpi. Tapi tidak ada batas waktu kapan memulai dan mencapainya. Tidak ada langkah pasti untuk mewujudkannya.

Nagaoka berbeda. Suatu hari gurunya berkata. Apa mimpimu dan kapan kamu mewujudkannya. Dengan tegas Nagaoka berkata.

“Saya ingin mendirikan sekolah dan mewujudkannya di usia 35 tahun.”

Dengan adanya mimpi yang jelas, batas waktu, dan alasan yang kuat, Nagaoka pun bergerak mencapainya.

  1. Jadilah yang Pertama untuk Percaya

Dari kelima anggota West Team, boleh dikatakan Daisuke adalah yang paling pesimis. Bahkan tim ini sempat terpecah karena ucapannya.

Suatu malam, Daisuke datang ke café bar untuk menemui Nagaoka. Membaca buku karya Nagaoka yang sedang mereka jual untuk mengumpulkan dana. Membaca buku itu, Daisuke pun terinspirasi. Kemudian dia bercerita tentang kisah hidupnya dan Nagaoka berkata,

“Jika kau tak bisa mempercayai dirimu sendiri, maka akulah orang yang pertama mempercayaimu.”

Padat bermakna.

Kadang, kita saat krisis kepercayaan diri, kita butuh pengakuan yang mampu menguatkan. Tentu sulit jika kita berharap ada orang yang seperti Nagaoka untuk berkata langsung. Tapi setidaknya, jadilah orang yang pertama untuk percaya dengan diri sendiri. Karena keajaiban ada bagi mereka yang percaya. Percaya diri dan percaya DIA.

  1. Jadilah yang Tak Terlupakan

Pak Ari adalah sosok guru yang inspiratif bagi Nagaoka. Karena Pak Ari pula Nagaoka ingin menjadi guru dan memperjuangkan mimpinya. Hanya saja, Pak Ari . . . (tonton aja sendiri).

Jadilah yang tak terlupakan. Hadir sepenuhnya untuk dia. Berikan yang terbaik untuk dia. Dan menulis adalah salah satu cara untuk menjadi yang tak terlupakan.

Pak Ari mungkin tidak menulis buku. Tapi karena Nagaoka menulis bukulah nama Pak Ari dikenang. Jadilah yang tak terlupakan dan berikan kenangan terbagi bagi mereka yang berjasa dengan tulisan.

***

Samulife (2015) adalah film yang terinspirasi dari kisah nyata. Diangkat dari novel otobiografi Samuraifu yang ditulis oleh Hidetaka Nagaoka (terbit April 2017). Setelah menonton ini, saya tercerahkan tentang esensi pendidikan. Tapi yang paling berkesan adalah saya dipertemukan dengan film ini saat saya berdoa, “tunjukkan jalannya, berikan kekuatan, pertemukan dengan orang-orang yang menguatkan.”

Samulife menjadi gambaran bahwa pendidikan bukan sebatas bersekolah formal. Menunjukkan bahwa mimpi akan lebih berkesan jika diperjuangkan bersama. Dan satu lagi, quarter life crisis itu wajar adanya.

Anyway, kamu pernah nonton film inspiratif bertema pendidikan? Ceritain dong.

Kalau saya punya, Freedom Writers. Pernah saya review di sini. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *