Tidak Perlu Menjadi Artis, Kamu Pun Bisa Berdakwah dengan 3 Cara Ini

Artis Hijrah Dakwah

Boleh nggak artis berdakwah?

Menurut kamu gimana?

Sisi yang satu ngomong,

“Nggak boleh. Artis nggak punya ilmu. Nanti ngajarinnya keliru.”

Yang satu lagi beda,

“Boleh dong. Bahkan, pemulung pun boleh berdakwah.”

Kamu pilih pendapat yang mana?

Kalau pertanyaan itu dilempar ke saya, saya memilih pendapat kedua. Kamu boleh aja mengambil pendapat pertama. It’s okay beda pendapat. Beda pendapatan aja boleh toh?

Beda pendapat sebenarnya bukan masalah. Yang kita butuhkan hanya mengkomunikasikan perbedaan. Karena itu, izinkan saya berbagi opini berisi.

Banyak definisi dakwah. Bagi saya, makna dakwah sederhana. Dakwah adalah mengajak kebaikan. Udah itu aja.

Tentu kamu akan menemukan banyak definisi lain dari berbagai sumber. Tapi makna “mengajak kebaikan” tidak akan bisa dihapuskan dari definisi manapun dan siapapun. So, kalau maknanya hanya “mengajak kebaikan”, kenapa artis tidak boleh berdakwah?

Akhir tahun 2016, saya bertemu dengan Ustadz Derry Sulaiman di Masjid Jogokariyan. Jogja. Pelantun lagu “Dunia Sementara, Akhirat Selamanya” ini memberikan insight yang menarik.

“Setiap dari kita adalah da’i. Kita hanya mengajak. Mengajak orang lain ke yang punya ilmu.”

Iya sih. Benar juga logikanya. Kita nggak harus punya ilmu yang banyak untuk mengajak. Kita ajak saja mereka ke orang yang lebih layak untuk menjelaskan. Mengandalkan resource yang kita miliki lalu mengalihkan ke resource orang lain. Kita yang mengajak, orang yang lebih layak untuk menjelaskan.

Tapi tunggu, kita tidak bisa hanya mengajak. Perlu kemampuan dasar yang harus kita miliki saat berdakwah. Salah satunya adalah keterbukaan untuk diskusi.

Ini kasus yang sering terjadi. Saya beberapa mengalami. Mungkin kamu juga pernah.

Di grup whatsapp, ada saja orang tertentu yang biasa nge-share nasihat. Oke fine jika nasihat itu pesan yang bisa dipahami oleh semua orang. Tapi tak jarang nasihat itu memiliki banyak penafsiran yang akhirnya memunculkan perbedaan pendapat. Muncullah saling debat. Tapi lucunya, dia yang nge-share nasihat tadi tidak pernah muncul lagi. Atau pun muncul dengan jawaban,

“Saya hanya menyampaikan. Semoga kamu dapat hidayah.”

Lah, gimana? Jadi yang lain salah, kamu benar sendirian?

Kejadian seperti ini kadang menjengkelkan juga. Bukan berarti saya mengingkari dosa yang dilakukan. Banyak banget dosa yang saya lakukan dan aib yang Allah tutupi. Tapi menanggapi kasus “menyalahkan” seperti tadi tidak bisa dengan hanya diam, merendah, dan menerima saja. Butuh adanya diskusi.

“Sampaikan kebenaran lalu diam.”

Prinsip seperti ini menguatkan sang pemicu tadi. Dia meyakini bahwa apa yang disampaikan benar, lalu mendiamkan. Lalu kalau ada yang mau bertanya, dia mengalihkan,

“Tanyakan ke yang ahli. Saya hanya menyampaikan.”

Jujur, logika seperti ini sulit saya terima. Lah, kamu yang nge-share harusnya mengerti dong dengan apa yang disampaikan? Tidak harus mengerti seutuhnya. Tapi paling tidak, jangan diam tanpa kata saat orang lain bertanya.

HIT dan RUN. Itulah kasus yang sering terjadi.

Lalu bagaimana solusi dari masalah ini? Apa kaitannya dengan artis yang berdakwah? Saya teringat pesan dari Ustadz Evie Effendi.

Dakwah adalah mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul. Membina, bukan menghina. Menyayangi, bukan menyaingi.

Prinsip sederhana ini harus kita pahami dulu. Karena seringkali kita salah peran. Kita mengambil peran mengejek, memukul, menghina dan menyaingi. Bukan peran mengajak, merangkul, membina, dan menyayangi.

Bagaimana dengan para artis?

Kamu boleh saja merasa lebih mulia dengan banyaknya ilmu yang didapatkan selama pesantren. Sedangkan mereka, mungkin hanya ngaji ke beberapa ustadz.

Kamu boleh saja merasa terjaga dengan hidup yang sesuai syariat. Sedangkan mereka, mungkin banyak harta syubhat yang didapat.

Kamu boleh saja merasa lebih berhak dan memiliki karena lebih lama berada di dunia dakwah. Sedangkan mereka, mungkin baru kemarin sore hijrah.

Tapi, tunggu dulu. Sesungguhnya, kemuliaan, penjagaan, dan kepemilikan datangnya dari Allah semata. Bukan semata-mata upaya manusia.

Setiap orang adalah pejuang kebaikan dengan celah kebaikan yang harus mereka isi. Tapi kadang, banyak mereka yang tidak mengambil peran atau salah mengambil peran.

Guru memiliki ladang dakwah di sekolah. Orang tua, di rumah. Ustadz, di masjid. Lalu kita? Ya dimanapun lingkungan kita berada. Kampus, organisasi, atau teman terdekat. Sekarang pertanyaannya, siapa yang berdakwah di kalangan artis? Artis itu sendirilah yang harus mengambil peran. Merekalah yang paling tepat dan paling didengar. Da’i dari kalangan mereka sendiri.

Mungkin saking antipatinya dengan dunia artis, terdoktrin isu negatif dari berita gosip atau akun provokatif, dengan mudah kita menggeneralisir semua artis itu pikirannya hanya kemewahan. Mungkin banyak yang iya. Tapi tidak sedikit yang mengambil peran berbeda.

Kamu tahu nggak dimana pameran film Panji Manusia Millenium sekarang? Kenapa sinetron Cinta Fitri tidak ada lagi? Kok bisa banyak pemain band yang mengundurkan diri?

Nah, isu-isu remeh ini jika kita lebih peka mengamatinya, seharusnya mampu memunculkan rasa optimis kita dalam mengambil kesempatan dakwah. Sekarang, coba buka akun  IG @PengajianMusawarah Stalking dari atas ke bawah.

***

Sabtu, 3 Maret 2018 saya “iseng” hadir ke kajian Masjid Raya Bintaro Jaya. Selain faktor Ustadz Adi Hidayat, faktor gerakan artis berdakwah ini pun menguatkan saya untuk memaknai gelombang kebaikan sudah terjadi. Review kajiannya sudah saya share di IG @InsightKajian . Cek deh. Follow juga ya.

Gelombang kebaikan itu nyata. Semakin hari semakin membesar. Kita mungkin boleh saja tidak tertarik dengan dunia artis. Tapi artis, punya massa yang mampu menggerakkan lebih banyak orang. Logika sederhana seperti ini.

Cek berapa follower satu artis yang datang ke pengajian. Bandingkan dengan satu ustadz yang mengisi pengajian mereka. Atau bahkan, bandingkan dengan berapa follower kita? Sejauh ini, paham?

Nah sekarang, bayangkan jika yang selama ini selalu mengikuti berita, kabar, dan kebiasaan artis tadi mendapatkan sentuhan dakwah dari para artis langsung. Lebih memudahkan mereka untuk menerima dakwah ini.

Tapi harap diperhatikan terlebih dahulu.

Artis bisa saja bisa berdakwah, tapi tidak berhak untuk berfatwa.

Ada dakwah hijrah, ada dakwah tarbiyah. Dua fase ini berbeda tingkatan. Banyak orang yang bisa di dakwah hijrah, tapi belum tentu di dakwah tarbiyah. Saya, kamu dan para artis mungkin bisa di dakwah hijrah. Tapi dakwah tarbiyah, nanti dulu.

Bedanya apa?

Simpelnya, dakwah hijrah itu mengajak orang untuk lebih baik. Berubah perlahan. Sedangkan dakwah tarbiyah adalah mendidik, melakukan pembinaan dan memberi pemahaman. Satu tingkat lebih tinggi. Baca deh tulisan saya tentang Hijrah Bukan dari A Menjadi Z

Para artis, saya dukung untuk berdakwah dengan perannya masing-masing. Baik itu berdakwah dalam konteks hijrah atau dakwah kreatif lain yang mampu memberikan dampak masif. Contoh yang paling sederhana adalah @PengajianMusawarah dan Film Alif Lam Mim. Kenapa Alif Lam Mim? Cari tahu deh siapa produser dari film ini.

Dakwah tarbiyah? Untuk kalangan tersendiri mungkin bisa. Tapi jika hadir untuk menggantikan lahan dakwah yang selama ini sudah diisi oleh para ustadz yang berpengalaman? Sepertinya kurang bijak.

Untuk berfatwa? Dengan tegas saya berpendapat, tidak berhak sama sekali.

Artis yang hijrah adalah sebuah fenomena yang harusnya memunculkan rasa optimisme dalam pengembangan dakwah. Bukan dihadapi dengan sinis karena mereka adalah “anak kemarin sore”.

Mereka punya celah kebaikan yang tidak bisa diisi oleh kita sebagai “rakyat jelata”. Karena itu, bekerjasamalah. Bukan bekerja sendiri saja. Jika artis bisa berdakwah, bisakah “rakyat jelata” seperti kita berdakwah?

Rakyat jelata? Kok aneh ya. Yaa simpelnya, bisakah kita, saya dan kamu, yang tidak terkenal berdakwah? Tentu bisa. Paling tidak, ada 3 langkah yang dibutuhkan dalam dakwah.

  1. Niat yang Baik

Pertama disampaikan dan paling utama. Mungkin remeh, tapi ini penting. Kalau langkah ini salah, maka salah pula langkah selanjutnya.

Semua amalan dimulai dari niat. Cara mengeceknya simple aja. Start with why. Tanyakan pada diri sendiri, kenapa berdakwah?

“Ya dakwah itu untuk mencari ridho Allah”

Ya bersyukur kalau niatnya begitu. Semoga diluruskan hingga akhir hayat. Karena tidak sedikit yang berdakwah tapi niatnya melenceng.

Dakwah kekinian kan banyak cara ya. Bermodalkan social media, siapapun bisa berdakwah. Niat yang hadir pun bermacam-macam. Contoh kasus.

Banyak pemuda yang hijrah datang ke kajian. Niatnya apa? Karena ingin menikah dan mencari istri yang shalihah. Oke aja. Tapi harus diluruskan. Karena kelak, kalau gagal menemukan sosok yang dicari, dia tidak akan lagi berdakwah.

Ada contoh lain.

Bagi yang udah baru aja mengaji, lalu dengan semangat berapi-api ingin menyampaikan kebenaran. Lalu aktif deh nge-share nasihat kemana-mana. Pokoknya share aja deh. Pas orang lain nanya, eh malah kabur. HIT dan RUN. Tanya lagi, niatnya apa? Ingin meluruskan yang selama ini salah. Lah, emang sekarang udah lurus. Merasa paling benar dan yang lain salah. Memukul bukan merangkul.

Lalu niat seperti apa yang benar?

Ya udah, demi Allah aja. Kalau udah karena Allah, apapun yang terjadi insya Allah akan dikuatkan, dimampukan, diyakinkan. Diluruskan niatnya.

Di kesempatan yang sama saat kajian di Masjid Jogokariyan, saya bertanya dengan Ustadz Salim A. Fillah.

“Ustadz, saya kok sering iri ya. Merasa bimbang. Sepertinya lahan dakwah yang si A lebih luas dan lebih berdampak. Saya harus gimana?”

Pertanyaan saya dijawab dengan pertanyaan baru,

“Terserah Allah pengen letakin dimana?”

Pertanyaan ini butuh renungan mendalam bagi saya. Memangnya Allah letakin saya dimana? Hingga akhirnya saya mulai menemukan. Sepertinya di sini jalan saya.

Perhatikan percakapan tadi. Ada niat yang tidak lurus dulunya. Bukan hanya saya, mungkin banyak orang yang hijrah dan berdakwah merasakan hal yang sama. Iri dengan orang lain. Emang kenapa iri? Karena kurang terkenal? Berarti niatnya bukan untuk Allah dong.

Action Plan :

Cara mengecek niat kita sederhana saja. Saat orang lain mengabaikan, tidak mendapatkan like atau komentar di social media, tetapkah kita melangkah?

  1. Peran yang Tepat Sasaran

Mengulangi pesan sebelumnya.

***

Setiap orang adalah pejuang kebaikan dengan celah kebaikan yang harus mereka isi. Tapi kadang, banyak mereka yang tidak mengambil peran atau salah mengambil peran.

Guru memiliki ladang dakwah di sekolah. Orang tua, di rumah. Ustadz, di masjid. Lalu kita? Ya dimanapun lingkungan kita berada. Kampus, organisasi, atau teman terdekat. Sekarang pertanyaannya, siapa yang berdakwah di kalangan artis? Artis itu sendirilah yang harus mengambil peran.

***

Hati-hati dalam mengambil peran dan menentukan sasaran. Contohnya saja. Lulusan teknik. Baru hijrah kemarin sore. Udah berani “menembak” ustadz yang memang belajar agama dari dulu hingga sekarang. Pakai koar-koar menghakimpu pula di social media.

Ustadz bisa saja salah. Tapi cara yang seperti ini juga salah. Bukan kapasitas anak kemarin sore untuk “melawan” para ustadz. Bijaklah dalam mengambil peran dan menentukan sasaran.

Peran apa yang saya ambil? Siapa sasaran yang saya tuju? Dari berbagai tulisan saya di social media, kamu pasti bisa menebak.

Action Plan :

Kenali siapa diri kita dan pilihlah sasaran dakwah yang tepat.

  1. Strategi yang Kreatif

Strategi tak kalah penting dalam dakwah kekinian. Karena kalau caranya hanya itu-itu aja, percayalah, prosesnya akan begitu lambat dan cenderung membosankan. Saya beri contoh strategi yang kreatif deh ya.

AQL Islamic Center yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan, membutuhkan total dana 23 miliar untuk membebaskan lahan yang masih kontrak. Per Januari, dana yang dibutuhkan tersisa 11 miliar. Pihak AQL pun mencari cara, gimana ya? Hingga akhirnya muncullah Gerakan 11 ribu. Donasi yang menggerakkan 1 juta jamaah di seluruh dunia untuk membebaskan lahan.  Alhamdulillah, per akhir Februari dana 11 miliar pun tertutupi.

Kenapa tidak bekerjasama dengan pemerintah? Atau mengandalkan segelintir orang super kaya untuk donasi? Ya itulah namanya strategi. Dengan menggerakkan jamaah, akan muncul rasa perjuangan bersama.

Tadi institusi. Sekarang komunitas.

Dalam mengantisipasi kesalahpahaman banyak orang memaknai Hari Valentine serta maraknya modus kebebasan yang berujung pada coklat, bunga, dan kondom. Banyak yang mengatakan Hari Valentine sebagai hari kasih sayang. Pertanyaannya, sejarahnya seperti apa? Jangan sampai tidak tahu sejarah, tapi mengikuti begitu saja.

14 Februari dikenal sebagai Hari Kasih Sayang yang tidak jarang disalahartikan sebagai “hari kebebasan”. Lalu muncullah strategi kreatif dalam menghadapi arus ini. Salah satunya gerakan berbagi hijab syar’i pun hadir di car free day. Apa lagi? Banyaaakk. Perbanyak “main” aja, nanti kamu tahu.

Nggak punya relasi dengan institusi ataupun komunitas. Lalu gimana dengan dakwah kreatif dari sendiri? Mulailah dari apa yang hobi yang kamu miliki.

Saya misalkan. Salah satu hobi yang saya miliki adalah menulis. Kalau hanya strategi “biasa”, saya bisa saja memilih untuk menulis nasihat atau ringkasan kajian secara tekstual. Saya pun berpikir do something different. Terinspirasi dari akun IG @AnakKajian yang mengumpulkan jadwal kajian se-Jabodetabek, saya pun membuat akun @InsightKajian Isinya tentang review kajian secara kontekstual. Hingga tulisan ini ditulis, sudah ada 30an kajian yang saya review. Cek aja.

Percayalah, setiap orang pasti punya caranya. Pertanyaannya, sudah sejauh apa kita mencarinya?

Action Plan :

Lihat strategi lama. Gunakan teknik ATM. Amati Tiru Modifikasi.

***

Dakwah tidak butuh kita. Tapi kita butuh dakwah. Dengan berdakwah, kita mencari ridho Allah. Karena jika tidak berdakwah, apa jawaban yang kelak akan kita sampaikan saat Allah bertanya,

“Apa yang membuatmu layak masuk surga?”

Insya Allah, dakwah lilahi ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *