Story of Volunteer : @KongkowNulis vs @KelanaRiau vs 30DWC. Refleksi Para Volunteer, Kenapa Kamu Ada di Sini?

Story of Volunteer

Bulan lalu saya diundang on air oleh Duta Lingkungan Pekanbaru yang juga #HITSPKU Michiko Frizdew ke Green Radio. Topiknya sih Story of Volunteer. Tapi saya bingung, kenapa volunteer? Apa istimewanya ke-volunteer-an yang ada dari diri saya? Biasa aja pun. Masih banyak Pemuda Harapan Pemudi lain yang aktif dan hits.

Kenapa volunteer?

Baca Juga :
5 Inspirasi dari  Diskusi Bersama Hairil Habibi (Founder Kongkow Nulis Indonesia)

Entahlah. Saya pribadi hanya aktif di beberapa komunitas dan organisasi. Di KongkowNulis aktif dalam Program Department. Di Forum Lingkar Pena Surabaya (mantan) Kepala Divisi Dana Usaha. Ada lagi beberapa yang sebagai perpanjangan visi. Yang aktif banget sih sebagai President Student Representative Board Universitas Ciputra. Dan yang kekinian, aktif “berkarya” di Passion Writing Academy. Nah, apakah saya pantas dikatakan volunteer?

Bicara tentang definisi, job desc, ataupun pengalaman volunteer, mungkin saya tak seberapa. Tapi saya punya pandangan menarik dari sisi volunteer. Termasuk sebagai aktivis. Bukankah siapapun diri kita pada dasarnya adalah Volunteer Kehidupan? Termasuk juga, bukankah kita semua adalah Aktivis Kebaikan? Apapun organisasi yang kita naungi, yang terpenting adalah tujuan dan visi kita di dalamnya.

Judul saya kali ini menarik dimaknai dan (sedikit) kontroversi. Karena semuanya berada dalam garis merah yang sama. Saling belajar di titik yang sama.

Bermula dari Passion Writing Academy yang saya dirikan November 2014. Namanya dulu masih Quantum Writing. Saya aktif menulis, mengisi event, dan berkarya di dunia kepenulisan kreatif. Dan saya membuka diri untuk berkolaborasi  jika memang ada benang merah yang sama.

Hingga bertemulah saya dengan Kongkow Nulis di pertengahan 2015. Saya masih ingat saat itu mengisi di Gramedia Pekanbaru. Saya yang sebagai pembicara saat itu ditodong sebagai volunteer. Jika memang ada benang merah yang sama dan bisa membantu, why not? Buktinya hingga kini saya masih aktif. Bukan karena ada jodoh di sini. Bukan juga karena ada kenangan mantan. Bukan.

Lalu pada 2017 awal, saya menemukan “sesuatu” yang baru. Kelana Riau. Foundernya adalah 5 orang dari KongkowNulis yang memiliki ketertarikan yang sama. Menulis, jalan-jalan, dan pariwisata.

Bagaimana dengan 30DWC? 30DWC adalah program dari Passion Writing Academy yang sudah saya jalankan sejak akhir 2015. Kebetulan pula ada benang merah dengan One Week One Post-nya KongkowNulis. Dan saya dijadikan “debt collector” setiap member. Penanggungjawab gitu deh. Peserta 30DWC dari mana? Penjuru dunia, Indonesia, dan juga ada dari KongkowNulis.

Kok rasanya mutar-mutar aja ya? Atau ada yang menjadi kutu loncat? Nah ini, menarik untuk dibahas.

START WITH WHY dari Simon Sinek sedikit banyaknya mempengaruhi saya. Selalu berpikir “kenapa saya ada di sini”. Ini adalah pertanyaan mendasar yang seharusnya terjawab oleh siapapun dalam melakukan sesuatu. Dan ini adalah prinsip saya. Mudahnya, ini bisa dikatakan visi. Karena dengan adanya WHY, you will find WAY. You will find HOW. Tapi kalau WHY tidak jelas, asal-asalan, pantas aja selalu ada pembenaran.

Setelah WHY, berlanjut ke elemen lainnya. Konflik. Dalam perjalanannya, baik itu komunitas, organisasi atau apapun yang melibatkan manusia pasti namanya konflik. Dan itu adalah wajar. Karena dengan konflik kita belajar. Konflik yang menghasilkan api akan membuat kita terus ON. Lihatlah dari sisi positifnya. Konflik dengan mantan pun ada positif kan? Bisa jadi dengan itu kamu bisa lebih baik. Saya pun begitu. Konflik dengan mantan bisa diubah menjadi energi positif berupa karya Jomblo Mantan dan Masa Depan. Bisa pesan di bit.ly/PesanBukuJMMD. 😀

Dari WHY dan KONFLIK yang dijalani, saya mencoba untuk menganalisa dari visi Kongkow Nulis. Saya lupa kalimat lengkapnya apa. Yang jelas ada kata “menjadi stimulator dan akselarator para penulis”. Dan dalam perjalanannya, ada yang gugur dan ada yang tetap bertahan. Ada yang terstimulus dan ada yang terakselerasi. Contohnya saja yang gugur adalah mereka yang mundur teratur dari One Week One Post. Wajar memang. Namanya aja komunitas penulis masa’ tidak menulis. Kan aneh. Kebetulan pula saya yang debt collector. Kejam sedikit tak apalah. Jangan manja kalau mau jadi penulis.

Lalu siapa yang terstimulasi untuk menulis? Ada banyak. Banyak member dari KongkowNulis yang awalnya enggan menulis mulai aktif menulis. Ada yang aktif menulis, lalu makin inovatif dalam menulis. Contohnya ada Ica Annajmi yang dalam beberapa hari belakangan menulis tentang “kamu” dalam Pos Cinta selama 7 hari di tumblr. Ada juga Mutia Nurul Rahmah, blogger hits pekanbaru. Berkolaborasi dengan Kak Linda dia pernah menuliskan tentang #NgobrolinPekanbaru. Ada banyak lagi kok. Coba aja baca serpihan inspirasinya di tulisan saya sebelumnya tentang 12 Inspirasi Menulis dari Hasil Diskusi dan Stalking Kongkow Nulis Part 1 dan Part 2.

Bagaimana dengan yang terakselerasi? Kacamata pribadi saya melihat Founder Kelana Riau adalah contohnya. Adanya proses percepatan bagaimana mereka berkarya dengan warna yang berbeda. Bukan memaksakan harus seperti ini dan seperti itu. Karena pada dasarnya KongkowNulis menekankan agar setiap anggota berkarya dengan warna mereka.

Kembali lagi dengan WHY.  Kenapa saya menuliskan artikel ini?

Tulisan ini terinspirasi dari kegelisahan saya dalam tubuh komunitas dan organisasi yang saya “tumpangi”. Banyak sekali mereka yang baper dan menghabiskan waktu di hal yang remeh temeh. Lalu melupakan apa esensi kehadiran mereka di sini. Apa visi organisasi yang diperjuangkan.

Ini pula yang sempat saya kritisi ketika bertanyaa dengan berbagai teman yang mengikuti organisasi yang sudah “berumur”. Saya sempat bertanya kepada teman kenapa mengikuti organisasi sekelas HMI. Bahkan juga kenapa menjadi tim sukses kepala daerah. Dan sampai saat ini jawaban mereka masih remeh temeh. Ah, kapan-kapan saya ceritain deh ya. Semoga bisa.

Karena dimanapun kita berada akan selalu ada warna baru yang hadir. Fokuslah pada visi dan alasan kenapa ada di sini. Bukan malah baper sibuk pada hal remeh temeh. Udah, selow aja.

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *