Untukmu yang Ada di Masa Depanku, Apa yang Membuat Kita Bersatu?

Agar lebih mudah melepas

“Ky, apakah dalam memilih pendamping hidup modal utamanya adalah persamaan?”

Wiw. Pertanyaan berat ini muncul saja dari seorang teman. Lontaran kalimat saat kami diskusi berisi  yang ditemani teh telur. Saya pun mencoba untuk menjawab.

“Jawaban umumnya kamu pasti udah tahu kan. Lihatlah dia dari hartanya, fisiknya, keturunannya, dan agamanya, Lebih jelasnya silakan tanya kepada yang ahli dan sudah berpengalaman. . . . “

Jawaban ini saya teruskan. Tapi izinkan saya menuliskan kembali di sini dengan narasi. Bukan pengulangan kembali apa yang sudah saya sampaikan di malam itu.

Teman saya tadi bingung bagaimana menentukan pendamping terbaik. Entahlah apa yang buat dia bingung. Padahal skripsi aja belum selesai. Ya semoga saja ini bisa menjadi motivasi tambahan biar skripsi selesai. Semoga. Nah, dia dan seorang yang dikaguminya memang memiliki persamaan. Tapi pertanyaannya adalah, apakah hanya karena persamaan lantas kita bisa hidup bersama?

Percaya saja, orang yang merasakan jatuh cinta atau mungkin dikenal juga dengan fase “virus merah jambu”, menyukai dan mengagumi seseorang akan merasakan hal yang sama. Akan tiba masanya mendahului perasaan dibandingkan logika. Memang tidak semuanya. Tapi kecenderungan yang terjadi akan seperti itu.

Ohya, sebelum saya lanjutkan silakan baca dulu tulisan sebelumnya ya. Saya berbicara mengenai hal yang mungkin kamu galaukan juga. 2 pertanyaan menggalaukan tentang cinta, “kenapa harus menikah dan kenapa aku harus memilihmu? Baca dulu deh ya biar nyambung.

Oke sudah baca? Baik saya lanjut.

Mengedepankan perasaan dibandingkan logika ketika berhadapan dengan cinta. Berhadapan dengan persiapan pernikahan. Saya pun sama. Saya yang sudah terbiasa mendahulukan logika dibandingkan perasaan pun pernah merasakan yang sama.

Beberapa waktu yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk menikahi seseorang perempuan. Saya merasa ini adalah proses yang serius. Dia pun juga menghadapi dengan serius. Saya berdiskusi dengan sang bunda, begitupun dia. Akhirnya kami bertemu jarak jauh di suatu pernikahan. Tak saling jumpa, tapi bisa saling melihat.

Alasan saya memilih dia sebenarnya sederhana. Saya memilih dia karena faktor hijrah. Dia yang dulunya seperti perempuan pada umumnya, celana jeans, jilbab biasa, ngaji pun jarang, kini sudah jauh berubah. Tak perlulah saya jelaskan detail, nanti malah kamu yang baper. Intinya dia sudah jauh berubah dibandingkan dulu. Ya, saya mengenalnya sudah lama. Karena dia pernah satu sekolah dengan saya. Adik kelas tepatnya.

Memilih karena faktor hijrah. Terkesan indah ya? Tapi percayalah, proses menuju ikatan suci yang dinamakan pernikahan tak akan selalu datar. Pasti saja ada batu kerikil di perjalanan. Atau bahkan lubang besar di hadapan. Kita harus melompat dan menghindar untuk mencapai tujuan.

Singkat kata kami mulai diskusi satu sama lain. Tak bertemu memang. Hanya sekedar chatting yang wajar. Kami pun saling memberikan kontak teman yang dipercaya untuk memberikan info yang lebih valid. Jalani saja seperti biasa. Diskusi dan bertukar pikiran untuk saling mengenal. Karena memang, kami tak terlalu saling kenal. Apalagi kini dia sudah berubah. Entahlah apakah ini bisa dikatakan taaruf atau bukan. Yang jelas, ini bukan modus pacaran syar’i. Karena kami hanya diskusi biasa. Tak ada mengingatkan untuk tahajud malam dan berbagai gombal syar’i lain. Semoga saja masih berada pada track yang benar.

Singkat kata, keputusan pun harus diambil. Sedikit banyaknya kami sudah saling mengenal dan mengetahui satu sama lain. Tapi keputusannya memang tak selalu sesuai harapan awal.

Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini. Memang kami punya persamaan. Punya beberapa celah yang bisa saling melengkapi. Tapi kami punya perbedaan mendasar yang mutlak harus sama. Yaitu konsep berpikir dan cara pandang terhadap Islam. Panjang untuk dijelaskan. Tapi inilah alasan utama kami tak melanjutkan proses ini.

Konsep berpikir dan cara pandang terhadap islam bagi saya adalah pondasi dasar yang harus sama. Memang Islam itu sama. Tapi cara pandang setiap Muslim sangat mungkin berbeda. Dan saya dan dia tak baik rasanya jika dipaksakan untuk bersama.

Memang mungkin dengan mudah ada yang bilang, pernikahan itu harus saling melengkapi. Indah dan bijak memang. Apalagi bagi yang terbiasa pacaran. Sudah bergonta-ganti pacar agar bisa saling melengkapi, tapi sampai sekarang belum saja nikah dengan berbagai pembenaran. Pernikahan harus saling melengkapi, tapi bukan berarti harus dipaksakan bukan?

Ya, akhirnya kami gagal. Apakah saya kecewa? Ya tentu saja kecewa. Tapi biasa aja. Kecewa sesuai batasnya saja. Yang penting saya selalu yakin dan percaya bahwa Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Dia baik, saya juga (semoga) baik. Tapi cara terbaik menurut Allah mungkin dengan tidak mempertemukan kami di pernikahan. Semoga saja, saya, dia, dan kamu juga bertemu di surga. Aamiin.

“Akan ada masanya dimana kamu yang terbiasa ikhlas, sulit untuk melepas. Tapi tenang saja, tak usah cemas, Itu berarti tanda Allah menguji hamba-Nya untuk naik kelas. Agar kelak di masa depan, dalam kondisi apapun akan lebih mudah ikhlas dan melepas.”

Baca Juga :
Ikhlas Itu Sulit? Mulailah dari 7 Hal Sederhana Ini
Maaf, Saya Baper

Jadi kembali lagi ke pertanyaan seorang teman di awal tulisan ini. Apakah harus bermodalkan persamaan? Bagi saya, ya. Tapi bukan hanya persamaan yang sifatnya minor. Seperti sama-sama suka nonton drama Korea. Tapi juga bukan berarti tak bisa bersatu hanya karena perbedaan konyol. Seperti kamu suka makan Beng-Beng dingin dan dia suka makan Beng-Beng langsung. Bukan begitu juga.

Persamaan dalam pernikahan itu penting. Agar kelak di masa depan dua insan bisa saling mengingatkan dan menguatkan dalam perjuangan.

 

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *