CATOR 19 : Undangan Kegiatan Berbuah Pelajaran

Undangan berbuah pelajaran

Masa apa yang bisa menjadi “ancaman” organisasi? Apakah masa saat sesama fungsionaris saling suka lalu mengungkapkan perasaannya?  Atau masa awal-awal organisasi yang mana sesama fungsionaris belum saling kenal dan mengerti?

Setiap organisasi pasti punya cerita yang berbeda. Termasuk pengamatan saya di Student Representative Board juga punya cerita berbeda.

Baca Juga :
Maaf, Aku Nggak Dapat Apa-Apa di sini
Ini Organisasi, Bukan Kelas Motivasi

Sejak pertengahan Desember hingga pertengahan Februari adalah masa libur perkuliahan normal dunia kampus. Kampus hanya diisi orang yang berkepentingan. Seperti dosen, staff, dan mahasiswa yang mengambil semester pendek. Kampus pastinya sepi. Kegiatan mahasiswa pun ikutan sepi. Nah ini yang saya maksud “ancaman”.

Sepinya perkuliahan sedikit banyaknya berpengaruh pada antusiaswa fungsionaris dalam organisasi. Grup Line contohnya. Biasanya akan sepi. Wajar saja sih. Sesekali ada juga yang meramaikan ataupun juga ada yang mau nge-joke tapi fail. Biasa memang. Tapi yang dianggap “ancaman” sebenarnya adalah kesempatan pembelajaran. Maksudnya?

Kesepian di grup Line dan dunia kampus memang tidak menjadi patokan utama bahwa fungsionaris tidak bergerak dan bekerja. Keliru kalau mengira seperti itu. Contohnya saja beberapa anggota yang tergabung menjadi panitia bekerja di balik layar untuk persiapan regenerasi fungsionaris periode baru. Dan bagi yang “kebetulan” ada di kampus dan sekitarnya akan mendapatkan “tugas tambahan”. Menghadiri undangan.

Menghadiri undangan sepertinya menjadi agenda wajib bagi organisasi tingkat universitas. Ini pun seringkali dialami oleh fungsionaris yang rumahnya di sekitar kampus. Chen adalah salah satunya. Beberapa kali dia harus menghadiri undangan. Diskusi dengan pihak rektorat, UKM, dan terbaru adalah pengukuhan guru besar psikologi. Radhi juga sempat hadir di acara terakhir. Ya memang, daya tarik agenda terakhir adalah konsumsi ala prasmanan. Lumayanlah kan makan siang gratis.

Tapi bukan itu poin utamanya. Pertanyaan yang menarik untuk dimaknai adalah :

“Kenapa harus saya yang hadir? Kan masih ada fungsionaris lain yang bisa hadir.”

Kamu bisa menjawab? Mungkin jawaban nyelenehnya adalah “lumayanlah dapat makan siang gratis”. Tapi saya percaya, masih ada jawaban lain yang lebih bermakna. Bisa menebak apa?

“Karena memang itulah yang harus saya lakukan sebagai anggota SRB”

Lebih kurang begitulah salah satu jawaban yang saya dapat dari Chen. Walaupun ada 4 jawaban “remeh” lain yang, yaaa begitulah. Sedikit banyaknya akan mengundang tawa. Contohnya : “nggak ada orang lain, ya saya aja”. Nah.

Sedikit berbeda lagi dengan agenda terakhir, pengukuhan guru besar. Chen yang jomblo ditemani Radhi (yang mungkin jomblo juga). Mereka sempatkan hadir bukan karena makan siang gratis. Berbeda dengan Valdy dan Ong yang mungkin memang bermoduskan makan siang gratis. Untung saja mereka tak hadir karena kelas. Radhi dan Chen yang hadir setelah acara saya tanyakan :

“Jadi gimana acara tadi”

“Lancar pak”

“Apa inspirasi yang didapat?”

“……..”

Titik-titik di atas maknya bukan mereka tak punya jawaban. Mereka bisa menjawab pertanyaan refleksi ini dengan sangat baik. Saya pun menanyakan bukan untuk diri saya. Lah untuk apa gunanya, saya aja tak hadir. Pertanyaan ini seharusnya ditanyakan kepada siapapun kita yang mengikuti kegiatan apapun. Agar kelak, setiap pertemuan berbuah pelajaran.

Bukti cinta suami yang sesungguhnya. Suami  yang tidak mementingkan ego (dengan pendidikan yang lebih rendah namun tetap bisa mensupport istri untuk terus maju. Bukannya malah menghalangi karena takut kalah dulu. (Chen – Komisi D)

Orang tua perlu berkoordinasi dalam memelihara dan membesarkan anak. Dimana koordinasi itu bukan hal langsung dapat terwujud karena orang tua datang dari background yang berbeda dan dibesarkan dengan value yang berbeda pula. . . . .

Nah dari kata-kata Bu Jenny tadi itu harus diterapkan juga pada diriku sendiri dan organisasi ataupun sosial. Dimulai dari diri sendiri yang harus lebih bisa “selfless” dan mengerti orang lain. (Radhi – Komisi C)

Bagi saya, ini jawaban reflektif yang luar biasa tentunya. Setelah hampir satu periode, visi dan misi organisasi pun bekerja dan berdampak nyata pada diri fungsionaris.

“Kamu jalanin organisasi dengan seserius itu ya?”

Mungkin ada saja yang gagal paham. Ada saja yang menganggap bahwa organisasi itu adalah beban dan harus kaku menjalaninya. Ya tidak juga. Kami menjalaninya dengan fun. Khusus saya sendiri, memaknai setiap pengalaman dengan menulis Catatan Organisasi. Beda orang, beda cara pemaknaan. Termasuk testimoni gokil terakhir Chen :

“Akhirnya dapat prasmanan gratisan dari UC. Tapi hambar. Ya sudahlah. Yang penting dapat makan.”

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *