2 Pertanyaan Menggalaukan Tentang Cinta : “Kenapa Harus Menikah” dan “Kenapa Aku Memilihmu?”

Pertanyaan Menggalaukan Tentang Cinta

Pernah jatuh cinta? Atau mungkin jika kata jatuh cinta terlalu muluk, bagaimana dengan mengagumi seseorang? Lalu ada keinginan baik untuk menikahinya. Pernah?

Pertanyaan ini sewajarnya bukan lagi pertanyaan yang aneh bagi mereka yang berusia 20-an. Usia yang sudah hal lumrah untuk mendengar pertanyaan kapan nikah. Ada juga sesekali pertanyaan kapan lulus. Bahkan ada aja dosen yang entah dengan maksud apa bertanya:

“Untuk apa kamu lulus cepat-cepat. Udahlah nikmati saja kuliahmu.”

Coba saja jawab pertanyaan itu dengan:

“Saya ingin menikah pak. Mertua pengen ada gelar sarjana di undangan.”

Ya, coba saja. Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi dosen untuk memudahkan proses skripsimu.

Kembali lagi dengan pertanyaan awal, pernahkah? Jika pernah, hal yang wajar. Bagi saya dan kamu juga. Tapi terkadang, momen ini partu dikritisi kembali. Kenapa ingin menikah? Apakah karena sudah waktunya? Atau karena alasan wajib “menyempurnakan agama”? Atau bahkan karena alasan yang membingungkan, “nggak tau kenapa aku sayang kamu”?

Jawaban terakhir adalah jawaban yang paling membingungkan. Entah karena alasan apa tiba-tiba rasa klik itu ada. Saya pun mencoba untuk menggali jawaban dari tulisan-tulisan sebelumnya. “Kenapa aku memilihmu?”

Jadi, ada 2 pertanyaan besar kali ini.

  1. Kenapa harus menikah?
  2. Kenapa aku memilihmu?

Berat pertanyaannya. Tapi pertanyaan berat itulah yang indah untuk memaknainya. Akan ada jawaban-jawaban mencerahkan yang akan membuat kita semakin bijak. Yang akan membuat kita sadar, betapa Allah menyanyangi hamba-Nya.

Pertanyaan pertama, kenapa harus menikah?

Hampir dari seluruh pertanyaan kehidupan, saya selalu berpikir dengan “start with why”. Apa alasan yang mendasari saya untuk memberikan jawaban. Termasuk halnya dengan alasan “kenapa harus S2?”

Jujur saja, saya adalah orang yang paling tidak bisa menerima jawaban-jawaban wajar. Contohnya :

“Aku kuliah karena orang lain kuliah.”

“Aku lebih melanjutkan S2 sih. Daripada nganggur.”

“Aku menikah karena ingin menyempurnakan agama.”

Salah? Ya tidak juga. Tapi ada alasan yang seharusnya bisa digali lebih dalam. Alasan yang menjadikan jawaban itu sebagai kekuatan.

Di satu titik, saya pernah berhenti dengan jawaban, “saya menikah karena ingin ada pendamping halal di wisuda.” Sekian lama saya memegang jawaban ini hingga diseriuskan mencari siapa kelak pasangan. Tapi perlahan saya tersadarkan dan mempertanyakan lagi, kenapa menikah dijadikan modus untuk adanya pendamping wisuda? Apa tujuannya? Karena ingin pamer ke orang lain? Karena ingin membuktikan bahwa yang mendampingi skripsi belum tentu jadi istri? Karena ingin menyadarkan orang-orang bahwa yang mendampingi di wisuda belum tentu di KUA? Apakah hanya karena itu?

Saya kembali tersadarkan dan mencari jawaban. Kenapa?

Dari cara berpikir saya ini, ada memang yang bingung. Bahkan seseorang menyampaikan,

“Kamu itu menteorikan banyak hal. Akhirnya kamu ragu.”

Tapi bagi saya ini bukan menteorikan. Tapi mencari alasan dan jawaban. Start with why.

Kenapa saya harus menikah?

Menyempurnakan agama, iya. Menjaga diri dari godaan dunia, iya. Menyelamatkan perempuan yang dikagumi dari fitnah lelaki lain, iya. Tapi apa alasan yang GUE BANGET?

Akhirnya saya mendapatkan pencerahan. sSya menikah untuk mencari partner berjuang dalam kebaikan di dunia dan berakhir ridho di akhirat. Saya menikah karena ingin menghadirkan sang bunda seorang anak perempuan yang menyayanginya. Dan itu adalah seorang istri.

Adakah jawaban lainnya? Ya bisa jadi. Setelah semakin lama merenungi.

Pertanyaan kedua, kenapa memilih dia?

Nah ini pertanyaan berat lainnya. Kenapa memilih dia? Karena rasa klik yang datang begitu saja? Karena fatamorgana jawaban “nggak tahu kenapa aku sayang kamu?”

Kembali berpikir lagi, apa jawabannya.

Karena kekayaan, fisik, keluarga, atau agamanya? Nah ini tentu saja sudah syarat yang diberlakukan. Sudah standar yang diajarkan seperti itu. Tapi apa jawaban yang GUE BANGET?

Saya masih mencari jawaban. Hingga akhirnya muncullah pencerahan. Saya memilih dia karena sevisi. Karena dia adalah orang yang tepat untuk menguatkan dari belakang layar. Dan karena dia adalah menantu sholehah yang bisa menyayangi mertuanya dibandingkan suaminya.

Apakah itu kriteria istrimu? Hmmm. Mungkin lebih tepat adalah mempersiapkan jawaban atas pilihan. Karena jika tak kriteria yang dipersiapkan, lantas pernikahan tentu saja tak lagi indah. Asal nikah saja. Yang penting kamu dan dia sah.

Tapi haruskah menikah dengan dia? Haruskah menikah dengan namanya yang selalu disebutkan dalam doa? Haruskah menikah dengan orang yang kriterianya sempurna seperti yang sudah disiapkan?

Jawaban ini pun perlu perenungan lagi. Tapi tak tahu kenapa, saya seolah-olah menerima jawaban dan isyarat dari Allah. Jika kita menggenggam nama seseorang, pokoknya harus dia, akan muncul rasa berat hati dalam dada. Tapi jika melibatkan Allah dalam diskusi dan yang penting Allah suka. Yang penting bersamanya bisa semakin dekat ke surga. Akan terasa lapang dalam dada. Cobalah.

Kebingungan sering terjadi karena kita selalu mengandalkan diri sendiri dan lupa melibatkan Allah dalam diskusi

Baca Juga : Bingung Soal Hati, Libatkan Allah dalam Diskusi

Mungkin ada pertanyaan mengganjal lain. Jadi gimana dengan pasangan halal sebelum wisuda?

Jawaban ini tidak salah ataupun mutlak. Tapi jika direnungkan kembali, ini adalah jawaban nafsu. Bukan jawaban yang murni dari hati.  Dan saya pun mencoba untuk melepaskan dan membiarkan Allah memberikan jawaban terbaik. Jika kelak akan sah dan menjadi pendamping halal di wisuda, itu baik. Pun jika ditunda oleh Yang Maha Tahu, tentu itu jauh lebih baik.

Doakan.

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *