5 Inspirasi dari Diskusi bersama Hairil Habibi (Founder Kongkow Nulis Indonesia)

hairil-habibi-kn

Sembari menyelesaikan kewajiban 30 Days Writing Challenge dan menyusun materi untuk Kelas Online Upgrading Fighter, malam itu saya sempatkan untuk bertemu dengan Hairil Habibi, Founder Kongkow Nulis. Dia biasa dipanggil Ebi. Seperti biasa, jika saya diskusi di kampung halaman, teh telur akan menjadi pendamping idaman. Dan berikut inspirasi yang saya gali dari kacamata seorang Passion Writer.

  1. Volunteer Bukan Tak Dibayar, Tapi Terlalu Berharga untuk Dibayar

Kongkow Nulis pada awalnya adalah komunitas yang menjadi inkubator para penulis dengan 4 value utama. Read, write, publish, inspire. Saya sudah bergabung di Kongkow Nulis sejak 2015. Seusai mengisi acara Kongkow Nulis di Gramedia Pekanbaru. Entah ini strategi mereka atau tidak, tapi saya seperti ditodong untuk menjadi volunteer. Jika bisa menjadi sayap kebaikan dan sesuai dengan value hidup, kenapa tidak?

Saya memang masih newbie di dunia volunteer. Sedangkan Bang Ebi sudah lumayan lama melanglang buana di dunia volunteer. Dia bahkan sempat menjadi Kepala Sekolah Akademi Berbagi Chapter Pekanbaru.

Apakah saya tertarik di dunia volunteer? Hmmm, ini masih pertanyaan sih. Tapi ada kalimat menarik yang keluar dari Bang Ebi di malam itu

Volunteer bukan tak dibayar. Tapi mereka terlalu berharga untuk dibayar.”

Paham maksudnya?

Sebagai anak muda yang masih menemukan jati diri, volunteer bisa menjadi jalan bagi pelajaran hidup. Daripada menjadi pengangguran di kos atau alasan klasik “sibuk dengan tugas kampus”, cobalah menjadi volunteer di komunitas kebaikan yang sesuai dengan passion. Percayalah, kamu akan belajar banyak hal.

Bayangkan, umur udah berapa tapi masih belum tahu mau kemana? Kamu manusia apa zombie? Jangan tersinggung dan baper. Lebih baik berbenah.

  1. Terlalu Banyak Ingin Tahu, Bukan Terlalu Banyak Tahu

Kalimat menarik lain yang keluar. Sebagai anak muda yang sangat dekat hidup dengan dunia internet, salah satu pola hidup yang menarik adalah terlalu banyak ingin tahu, bukan terlalu banyak tahu. Beda loh, ada kata ‘ingin’.

Kepo mungkin bisa jadi kata yang pas. Terlalu banyak ingin tahu, yaaa sekedar ingin aja. Toh belum tentu yang patut diketahui itu menjadi kebutuhan. Betul nggak? Contoh, pengen tahu kabar mantan gimana? Nah ini maksudnya apa?

Baca Juga :
Jangan Dendam, Jadilah Jalan Kebaikan Bagi Mantan
Ketika Jomblo Mulia Ingat dengan Mantan

Dari kacamata Passion Writer saya melihat pola yang sama. Terlalu banyak ingin menulis atau membaca sesuatu. Tujuannya apa? Sekedar pengan aja atau memang kebutuhan?

Saya pun belajar untuk menerapkan ini. Saya lebih memilih fokus di blog rezkyfirmansyah.com dalam 5 kategori utama. Inspirasi untuk Negeri, Creative Thinking, Passion Writer, Refleksi dan Kisah Nyata, dan Love and Relationship. Seputar itu aja.

Beda lagi dengan mentor saya Brili Agung yang memiliki tujuan menjadi Authormaker. Saya sempat bahas di tulisan ini.

Saya juga ingat dari guru saya di inovasi bisnis, Indrawan Nugroho. Lebih kurang beliau berpesan:

“Ilmu itu adalah apa yang diamalkan, bukan apa yang dipendam dalam pikiran.”

Selama ini, lebih banyak mana. Ilmu yang kita amalkan atau dipendam?

  1. Kita Bukan Pengasuh, Tapi Menjadi Stimulator dan Akselarator

Sambil berapi-api Bang Ebi berucap:

“Tujuan awak ko bukan jadi pengasuh! Awak ko jadi jalan bagi ughang untuk bertumbuh. Stimulator dan akselarator para penulis.”

Jangan aneh, itu bahasa ocu. Bahasa kampung halaman saya. Tapi pastilah kamu mengerti maknanya kan?

Nah, kata yang menarik disini adalah stimulator dan akselarator. Stimulator bermakna menjadi pendorong dan akselarator bermakna jalan percepatan. Dengan berbagai program dari seperti One Week One Post, #KongkowNgobrolin, Weekend Baca, Kongkow Nulis bergerak menjadi stimulator dan akselarator. Walaupun dalam perjalanannya ada penyesuaian.

Sebagai seorang volunteer atau anggota di organisasi juga. Organisasi bukanlah pengasuh. Jangan manja mau uterus dilayani. Mindset kita harus lebih besar. Bukan tentang apa yang diberikan oleh organisasi, tapi apa yang diberikan kepada organisasi.

  1. Komunitas Berbasis Penerimaan

Komunitas berbasis penerimaan? Hmmm.

Istilah ini saya tarik mandiri dari sesi diskusi malam itu. Memang Kongkow Nulis menerima dari kalangan manapun. Banyak dari anggotanya bahkan yang belum jadi penulis. Tapi tujuannya sama, menjadi penulis. Fungsi stimulator bekerja di sini.

Komunitas, organisasi, atau apapun namanya yang terdiri dari kumpulan orang-orang seharusnya mampu menumbukan dan memberdayakan anggotanya. Di Kongkow Nulis misalkan. Melalui program Human Development, One Week One Post menjadi jalan bagi anggota untuk rutin menulis di platform online. Read, write, publish, inspire!

Baca Juga :
CATOR 16 : Ini Organisasi, Bukan Kelas Motivasi
Sebagai Orang yang Sibuk dengan Organisasi, Berikut adalah 3 Alasan Kenapa Kamu Harus Menulis CATOR

Nah penyakit bertumbuh ini pun seringkali menjadi permasalahan di berbagai komunitas. Pengennya cari aman dan nyaman saja. One Week One Post misalkan. Ya namanya aja menjadi stimulator para penulis, maka berbagai program pun dilakukan. Penulis ya kerjanya menulis, bukan malah baperan dan mencari alasan. JLEB!

  1. Menikahlah Sebelum Calonmu Ditikung

Out Of Topic sih. Tapi topik ini tak kalah menarik. Bahkan menjadi pembahasan awal diskusi kami.

“Jadi waang nio kemano setelah lulus ko.”

Pertanyaan ini sempat saya bahas di sini. Ada 5 pilihan yang harus saya putuskan. Dan salah satunya adalah menikah. Pertanyaannya sekarang, apa alasan saya ingin menikah muda? Apakah karena memang sudah saatnya, niat untuk ibadah, atau malah alasan konyol biar ada pendamping halal pas wisuda?

Masih jadi tanda tanya, tapi semoga segera menemukan jawaban yang tepat. Tapi terlalu banyak mikir juga tak tepat. Menikahkah sebelum calonmu ditikung. Karena diam-diam, ada pesaing yang berada tipis di belakangmu.

“Kalau jodoh kan nggak kemana.”

“Ya memang sih. Tapi pesaing ada dimana-mana.”

“Iya betul. Pun kalau pesaing ada dimana-mana, tapi mama papa doi pengennya sama aku bukan sama dia, mau gimana?”

BOOM!

Ah sudahlah. Tak usah banyak mikir ya. Lebih baik banyak zikir. Karena kebingungan itu seringkali muncul karena kita tidak melibatkan Allah dalam diskusi.

***

Yap itu tadi inspirasi dari diskusi bersama Hairil Habibi. Teknik ini pun bisa kamu aplikasikan dalam menulis. Menggali inspirasi dari diskusi. Sempat menjadi tema di 30 Days Writing Challenge. Pengen ikutan? Tunggu bulan Februari ya.

 

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *