CATOR #15 : “Maaf, Aku Nggak Dapat Apa-Apa Disini”

cator-15-maaf-aku-nggak-dapat-apa-apa-disini

“Maaf ya sebelumnya. Tapi aku merasa nggak dapat apa-apa sih disini.”

Kalimat dari Jennie ini terlontar dan menusuk hati saat sesi Heart To Heart Student Representative Board. Selama setengah periode di organisasi, kok bisa sih nggak dapat apa-apa? Yang salah siapa? Dia atau kami sebagai teman fungsionaris lainnya. Atau malah sistem organisasi? Atau malah saya sebagai pemimpi(n)nya yang salah?

Saya sempat memutar otak mendengar pengakuan ini. Bagaimana cara mengatasinya.

Ohya sekedar info, Heart To Heart ini adalah program non terstruktur dari komisi D yang mengurus bagian internal dan eksternal. Jadi di sesi ini setiap fungsionaris wajib mengungkapkan perasaan dan pendapatnya mengenai SRB dalam setengah periode ini. Bahkan sangat dibolehkan jika ada dari kami yang memiliki masalah dengan fungsionaris lainnya lalu disampaikan dalam forum.

Memang konsep ini ada positif dan negatifnya. Positifnya, sesama kami bisa belajar berpikir terbuka, lebih cepat “ngeh” apa yang dimaksud, dan sesegera mungkin mengevaluasi diri. Negatifnya, bagi yang belum bisa berpikir terbuka sepenuhnya, dia akan tersinggung dan sakit hati. Tapi hidup punya pilihan. Ingin tersingggung lalu sakit hati atau tersinggung lalu berbenah diri? Make it simple aja. 😀

Oke, mari kita kembali lagi.

“Maaf, aku nggak dapat apa-apa di sini.”

Kalimat ini tak salah sebenarnya. Tapi mari kita bedah.

Dalam organisasi atau bahkan dalam kehidupan ada pesan bijak yang layak kita maknai.

“Jangan tanyakan apa yang kamu dapatkan dari negara. Tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk negara.”

Think what you give, not what you get. Masuk akal memang dan jauh lebih memberdayakan. Daripada meminta, lebih baik memberi. Daripada mencaci, lebih baik mencari solusi. Pikiran seperti ini harus tertanam kuat dalam pikiran untuk menjadi pribadi yang bertumbuh.

Lalu solusi masalah tadi seperti apa?

Mencari makna. Jika belum ditemukan, cobalah menggali makna. Gali lebih dalam. Berusahalah lebih keras, berpikirlah lebih luas. Karena sesungguhnya makna itu tidak selalu didapatkan dengan mudah.

Dalam organisasi, cara termudahnya adalah dengan memaknai program lebih peka dan personal.  Carilah pelajaran kecil dan berpikir, apakah ini bernilai kebaikan bagi saya? Apakah ini bisa memberikan saya pelajaran. Apakah ini bisa membuat saya bertumbuh?

Contoh kasusnya seperti tanggal 28 Oktober lalu. Bertepatan dengan Sumpah Pemuda, Student Representative Board mengadakan Open Forum. Sebuah wadah bagi para mahasiswa dan pihak kampus untuk saling bertukar pikiran serta menyampaikan aspirasinya. Dalam acara kemarin 3 dari 4 perwakilan rektorat berkesempatan hadir. Ditambah juga dengan dekan, ketua program studi, kepala departemen, dan berbagai pihak kampus yang berkaitan lainnya.

Baca Juga :
CATOR #11 Speak Your Mind, Speak to Change
Berani Menyampaikan Ide, Agar Lebih Banyak Solusi untuk Indonesia

Dalam event kemarin jika ditarik secara personal dan peka, saya bisa menggali makna untuk 3 orang fungsionaris. Makna pertama bagi Adella dan Valdy. Mereka mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru sebagai MC di depan publik. Grogi memang, tapi mereka belajar banyak. Cara seperti ini pula yang dilakukan organisasi kepada Ellen dan Andre, Radhi dan Felita di Cangkruk Produktif. Mereka yang belum pernah jadi MC diberikan pengalaman dan pelajaran baru.

open-forum-mc2
Pengalaman pertama Valdy dan Adela sebagai MC

Selain itu, makna kedua dan yang lebih personal saya gali dari Claudia. Claudia yang selama ini pemalu dan diam, berhasil menumbuhkan keberanian untuk perform di muka umum dengan bakatnya bermain piano. Jujur saja, saya belum tahu. Dan dengan berani tampil di muka umum, berarti Claudia sudah naik satu level dibandingkan sebelumnya.

Keberanian Claudia menampilan bakat bermain piano di depan umum
Keberanian Claudia menampilan bakat bermain piano di depan umum

Carilah makna dengan lebih peka dan personal. Dengan ini akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Maka tak akan ada lagi pemikiran “aku nggak dapat apa-apa”. Ini penting banget loh. Jangan sampai kehidupan yang kita habiskan di organisasi, komunitas, kelompok atau dimanapun hanya berlalu tanpa makna.

Btw, saya jadi belajar dan berterima kasih dari pendapat Jennie di awal. Dengan pendapat itu, saya pun terpikir untuk mencari solusinya apa. Thank you Jennie.

*CATOR adalah Catatan Organisasi sebagai pengalaman dan pemakaan saya sebagai pemimpi(n) di Student Representative Board Universitas Ciputra. Jika kamu ingin memulai menulis CATOR, silahkan baca tutorialnya di sini.

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

2 thoughts on “CATOR #15 : “Maaf, Aku Nggak Dapat Apa-Apa Disini”

  1. such a nice writing! but it is HEART TO HEART by the way. which means private, not an open forum that you can share to everyone. or maybe you should change the name of the program, so those who read don’t get the wrong perception of it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *