Inilah 5 Kekeliruan yang Sering Terjadi Ketika Mendengar Kata Literasi

Diskusi di Literaturia tentang Literasi

Hari Minggu lalu saya berkesempatan hadir sebagai pembelajar di event Literaturia. Saya merasa hari Minggu kemarin begitu produktif. Setelah diawali dengan diskusi bersama informan skripsi, lalu dilanjutkan dengan sesi Dis-ku-shion bersama 4 narasumber Literaturia. Dan malamnya dilanjutkan dengan menghadiri nikahan teman. Sebagai Passion Writer, saya pun bisa mengambil banyak makna. Oke langsung saja, inilah kekeliruan yang sering terjadi ketika mendengar kata literasi.

  1. Literasi itu Terbatas Fiksi dan Puisi?

“Saya menyukai bacaan buku non fiksi, khususnya pengembangan diri. Ada puluhan bahkan ratusan buku non fiksi di kamar kos dan rumah di kampung halaman. Tapi saya sama sekali tak tertarik dengan fiksi ataupun puisi. Apakah tingkat literasi saya rendah?”

Pertanyaan tersebut saya sampaikan di sesi tanya jawab. Lalu salah satu narasumber menjawab,

“Tidak. Saya rasa literasi kamu tidak rendah. Karena setiap orang pasti punya selera kan? Begitu pula saya yang menyukai menjadi blogger review buku, buku fiksi, dan klasik. Saya jarang sekali membaca buku non fiksi. Walaupun saya juga membuka diri untuk bacaan non fiksi. Tak ada salahnya kan membuka diri untuk yang lain”?”

Jawaban yang mencerahkan. Ingat nih! LIterasi bukan hanya terbatas fiksi dan puisi.

Baca Juga :
7 Cara Mengemas Tulisan yang Menarik Pembaca dan Menyebar Luas
Passion Itu Memberikan Makna, Solusi, dan Bertumbuh

  1. Hanya Bagi Akademisi

UNESCO di tahun 2012 mencatat bahwa minat baca Indonesia hanyalah 0,001 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Tentu saja fakta ini begitu menyedihkan. Bahkan yang terbaru, di awal Maret 2016. Penelitian dari Central Connecticut State University menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara terkait literasi (minat baca). Indonesia hanya satu tingkat lebih tinggi dari Republik Bostwana. Dimana letak Republik Bostawana? Coba cari saja di benua Afrika.

Nah, melihat hasil yang menyedihkan ini apakah pantas kita hanya membatasi literasi hanya untuk akademisi? Tentu saja tidak. Literasi untuk semua orang. Lalu langkah sederhananya apa? Bacalah buku yang kita butuhkan. Teman saya, Andreas Bordes menyebutkan, membaca dengan metode Just In Time. Silahkan baca di sini. Langkah ini lebih efektif dibandingkan memaksakan diri untuk membaca yang mungkin tidak butuhkan. Misalkan membaca buku akademik dari halaman awal sampai akhir.

  1. Digital Tidak Termasuk Bukan Literasi

Pernyataan konvensional lain jika mengartikan dunia digital berarti tidak termasuk literasi. Hal ini keliru. Dunia digital disini bukan berarti dunia digimon loh ya. Dunia digital itu ya internet. Kita bisa menggunakna digital dengan cerdas agar tingkat literasi menjadi lebih baik. Misalkan membaca artikel online yang bermanfaat, berisi, dan mencerahkan. Tidak sembarangan share berita yang tidak penting. Karena sering share berita yang tidak penting hanya memperburuk keadaan. Jika ada yang tidak penting, bad news, dan content yang tidak mendidik, ya sudah abaikan saja. Begitulah pesan salah satu narasumber, Mutia dari @TemanImaji.

Baca Juga :
10 Media Paling Disarankan untuk Latihan Menulis

  1. Literasi Tak Ada Pengaruh untuk Kemajuan Negeri

Korea, Singapura, dan Jepang. Indonesia lebih duluan merdeka dibandingkan 2 negara pertama. Sedangkan Jepang, khususnya setelah peledakan Hiroshima dan Nagazaki. Sekarang coba bandingkan bagaimana perbedaan antar negara ini. Jauh beda. Literasi adalah yang membedakan kita. Jika di negara maju saat menunggu adalah waktunya untuk produktif dengan membaca dan aktivitas positif lainnya. Sedangkan di Indonesia, main gadget, media sosial, gosip, mengeluh, dan aktivitas tak penting lainnya. Ah sudahlah. Daripada hanya mengeluh, ayo buat perubahan kecil untuk negeri ini!

Baca Juga :
Memaknai Kemerdekaan : Menulis untuk Indonesia

  1. Aku Benci Arti Literasi Jika Hanya Ini

“Berikan saya satu kata kunci apa arti literasi selain membaca dan menulis”

Pertanyaan ini juga saya berikan di sesi tanya jawab. 4 narasumber pun menjawab:

“Proses”

“Daya guna”

“Rasa”

“Mencerahkan”

Nah! Jawaban ini semakin mencerahkan kita apa itu arti literasi. Karena literasi itu bukan hanya terbatas membaca dan menulis. Atau bahkan saya dulunya yang hanya menyempitkan arti literasi sebatas sastra, novel, dan puisi. Saya keliru selama ini.

***

Akhirnya tercerahkan. Dari keseluruhan sesi diskusi ini, saya pun memaknai kembali apa itu literasi dari berbagai sesi.

“Literasi itu memperkaya diri serta mengasah intelegensi dan jiwa. Literasi bermakna agar kita mengetahui alasan kenapa kita melakukan sesuatu. Literasi adalah sarana untuk Indonesia Berdaya.”

Mari berkarya untuk Indonesia sesuai bidang masing-masing. Dan jadikan literasi sebagai sarana untuk mencapai itu semua. Maknai kembali, apa sesungguhnya literasi.

Keep writing, always inspiring!

 

Rezky Firmansyah
Passion Writer
Founder Passion Writing Academy

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *