Refleksi 7 Tahun Bersama Admiral , Memaknai Kembali Jalan Impian

7 tahun admiral

5 Agustus menjadi hari istimewa bagi Admiral. Dan saya adalah bagian dari Admiral. Ini bukanlah jawaban lebay seolah-olah aku ada di hatimu dan bagian dari hidupmu seperti halnya orang yang baru jatuh cinta. Bukan. Admiral adalah 98 orang yang dipertemukan karena jejak, memori, dan tujuan yang sama. Dan saya adalah bagian dari 98 orang tersebut.

Academy of Miracle Twelfth Generation. Itulah kepanjangan dari nama Admiral. Mungkin sudah ada yang bisa menebak apa itu Admiral? Yap benar. Admiral adalah angkatan saya di masa SMA. SMAN Plus Propinsi Riau. Bukan angkatan sih. Kami lebih sering menamakannya generasi.

5 Agustus 2009. Itulah awal mulanya kami “disahkan” oleh senior. Begitulah tradisi di sekolah kami. Senior yang membimbing kami untuk mengarah ke depan. Maka tak heran jika ada peraturan pasal 1 senior selalu benar. Pasal 2, jika senior salah kembali ke pasal 1. Dan pasal 3, jika senior itu adalah cewek sudah pasti benar. Wew.

Ah memang ada banyak kenangan setelah usia kami yang ke 7. Mungkin jika ini hubungan pernikahan anak kami sudah masuk SD dengan perhitungan 1 tahun pertama adalah masa kehamilan dan masuk SD di usia 6 tahun. Nah bagi kamu yang udah pacaran 7 tahun, udah ngapain aja? Seharusnya anakmu loh udah SD. Ini kok masih betah aja pacaran. Nunggu ditikung orang? Ingat, kamu yang seringkali suap-suapan, diajak jalan, bahkan diajak wisuda pun belum tentu sah di pelaminan loh. Hati-hati ditikung di putaran akhir. Sakit pasti tuh.

Baca Juga : Untuk Kamu yang Merasa Cintanya Terkhianati, 5 Tips Berikut Bisa Jdai Pengobat Hati

Ada banyak kisah indah, sedih, bahagia, kecewa, dan rasa-rasa lainnya yang tercampur menjadi satu. Bahkan tak sedikit dari kami yang saling jatuh cinta lalu berpacaran. Tapi sepertinya tidak ada yang berhasil bertahan sampai sekarang. Mungkin karena pilihan hati sudah meluas. Tidak lagi hanya 1 angkatan, atau bahkan 5 angkatan dengan opsi dibolehkan pacaran dengan kakak kelas. Tapi nyatanya tidak ada. Pun ada mungkin dia adalah legenda yang bisa menaklukkan hati perempuan di 5 angkatan.

Tulisan saya kali ini sepertinya terkesan santai. Karena memang saya mencoba untuk rileks sejenak untuk melihat kembali pelajaran di masa lalu. Apa salahnya melihat masa lalu jika ada pelajaran yang didapatkan. Keliru itu jika nggak move on dari masa lalu. Seperti halnya sayang kepada mantan tapi dianya udah nikah. Duh sedih.

Jalan-jalan ke Indragiri Hulu, singgah sebentar di Tembilahan. Mantanmu udah ke penghulu, kamu kok masih sendirian.

Baca Juga : Kamu Kok Bisa Move On

Hubungan masa SMA mungkin bagi sebagian orang hanya menganggapnya kenangan sepele. Jejak hidup yang tak layak diingat. Tapi saya tidak setuju dengan hal ini. Karena bagi saya setiap jejak dalam hidup pasti memberikan makna. Termasuk 3 tahun di SMA dan 7 tahun kini kami bersama. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan. Termasuk seperti apa saya sekarang adalah warna hidup yang telah mereka berikan. Bukan berlebihan, tapi memang begitulah adanya. Bahkan ketika suatu hal besar saya dapatkan lalu orang yang baru kenal saya terkesan wow, bagi mereka itu adalah suatu hal yang biasa. Karena memang kami sudah saling kenal dan tahu potensi seperti apa. Ya mungkin singkatnya kami sudah tahu baik buruk satu sama lain. Maka jangan terjebak di pencitraan social media. Saya tidaklah sebaik apa yang kamu lihat. Karena saya sudah membayar konsultan pencitraan. Masa kalah dengan pejabat sekarang. Nggak-nggak, ini bercanda kok. 😀

Tapi sedikit banyak ada benarnya. Jaim seolah-olah hal yang haram untuk saya lakukan. Walaupun dalam kehidupan saya belajar untuk apa adanya. Termasuk sebagai president di Badan Perwakilan Kampus. Not just be yourself, but be your best self.

Saya pun juga mencoba untuk memperhatikan. Sudah hal yang lumrah diantara 98 orang ada yang sepertinya terkesan menjauh dan ada yang tetap mendekat. Tapi jika dimaknai kembali bukanlah menjauh yang terjadi. Melainkan menemukan tangga impian yang baru.

Saya jadi teringat dengan kutipan film di 22 Jump Street, tentang 2 orang sahabat. Di scene akhir ada pelajaran menarik. Greg yang mencoba untuk menjalani titik baru sebagai pemain football merasa Mortin menjadi beban yang menariknya ke bawah. Tapi akhirnya Greg menyadari bahwa Morton tidaklah menariknya ke bawah. Akan tetapi Morton lah yang mengangkat Greg ke atas. Saya menyarankan untuk baca lagi paragraf ini dan maknai kembali. Penting.

Baca Juga : Mereka Tidak Menarikmu ke bawah, Tetapi Mengangkatmu ke Atas

Memang dalam hidup kita seringkali keliru dan menyalahkan seseorang atas kehidupan yang STUCK seperti sekarang. Tapi jika dimaknai sesungguhnya mereka memberikan pelajaran hidup kepada kita. Pelajaran hidup yang tidak bisa langsung ditelan. Perlu dikunyah dahulu agar bisa dicerna dengan baik.

Walaupun seiring berjalannya waktu ada juga yang harus kita maknai dan perbaiki. Karena bisa jadi kita tidak menjadi partner bertumbuh yang baik sebagai sahabat. Bisa jadi kita hanya memberikan rasa nyaman. Padahal rasa nyaman tidak memberikan pertumbuhan. Begitulah kata pesan bijak.

There is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth zone

Memang kita harus belajar lebih banyak lagi. Belajar untuk menjadi sahabat yang baik. Belajar menjadi partner kehidupan yang menguatkan. Belajar menjadi keluarga yang memperjuangkan mimpi bersama. Belajar dan terus belajar.

Dalam perjalanan, tentu kita masih ingat dengan berbagai impian yang dijanjikan. Dengan berbagai prestasi yang diperjuangkan. Dengan berbagai kenangan indah yang dirasakan. Admiral, jadikanlah itu pelajaran, bukan hanya sebagai rasa nyaman.

Sebagai penutup. Semoga Allah senantiasa menuntun kita ke jalan yang benar. Jalan yang diberkahi dan layak diperjuangkan. Karena walaupun saat ini kita meniti jalan yang berbeda, bukan berarti kita lupa akan tujuan kan. Ke Roma aja ada seribu jalan. Masa mencapai impian hanya 1 jalan.

Dan akhirnya, terima kasih Admiral!

Rezky Firmansyah – ADM 1145

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *