Devil Effect, Ketika Manusia Dianggap “Setan”

Devil effect

Devil Effect. Istilah ini pertama kali saya dengar saat ikutan organisasi kampus. Jika diartikan kata per kata, devil berarti setan, dan effect berarti efek. Jadi artinya efek setan. Begitu kah?

Baik mari kita luruskan. Secara sederhana Devil Effect ini berarti, selalu menganggap apa yang dilakukan seseorang itu salah. Seolah-olah dia “setan”. Jadi walaupun dia sebenarnya baik, hanya karena sekali kesalahan dia berubah menjadi “setan”. Atau juga bisa karena kesalahan berulang, dia dianggap “setan”.

Jujur saja, saya tidak terlalu sibuk mikirkan orang lain. Apalagi mikirkan orang yang berubah jadi “setan”. Entahlah. Apakah karena sibuk, nggak peka, atau emang karena nggak mau mikir aja. Untuk alasan kedua, bahkan saya pernah dibilang :

“Kamu itu loh nggak baper. Makanya nggak merasakan apa yang kami rasakan”

Hmmm. Oke skip saja untuk hal itu. Karena nggak semua hal mesti pakai rasa kan? Tapi untuk hal ini, Devil Effect, ada baiknya harus kita hadapi dengan tenang. Hadapi dengan hati.

Mari kita mulai, kenapa sih Devil Effect bisa terjadi?

Pertama. Karena si penilai MUDAH SEKALI menilai seorang itu “setan”. Kasar banget ya bahasanya. Atau gini deh. Karena si penilai seringkali negative thinking dengan yang dinilai. Suudzon, berburuk sangka.

Kedua. Karena yang dinilai dan dianggap “setan” sudah BERULANG KALI melakukan kesalahan yang sama. Karena itulah cap “setan” tertanam ke dia.

Ketiga. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Istilah yang tepat untuk ini adalah STREOTYPE. Jadi karena satu orang yang “setan”, maka yang lain pun ikutan jadi “setan”. Waaah.

Kasus seperti ini memang seringkali kita lihat dan rasakan. Apakah di kehidupan sehari-hari, organisasi, terlebih lagi media. Makanya harus hati-hati.

Lalu sekarang, apa yang harus kita lakukan?

Bagi si penilai.

Pertama. Tabayyun dulu. Klarifikasi. Apakah benar seseorang itu melakukan kesalahan seperti yang orang lain katakan. Atau hanya “kata orang”. Hati-hati loh dengan kebiasaan mendengar “kata orang”. Karena orang yang menyampaikan pun bisa juga “setan”. Eh bukan. Maksudnya orang yang menyampaikan tadi pun belum bisa layak dijadikan referensi yang benar. Maka coba klarifikasi dulu berita yang disampaikan tadi.

Kedua. Hadapi dengan tenang. Tidak perlu semua hal harus dihadapi dengan terburu-buru. Karena ketika terpancing untuk menyelesaikan sesuatu dengan terburu-buru, kemungkinan disanalah konflik akan terjadi. Hadapi dengan tenang agar emosi untuk menilai pun bisa netral.

Ketiga. Tetaplah bersikap adil. Begini. Ketika seseorang salah, bukan berarti semua hak hidupnya diambil loh. Maksudnya begini. Memang ada seseorang yang memiliki prinsip hidup :

“Pokoknya kalau aku sekali dikhianati, aku gak akan percaya lagi sama dia. Maafkan sih bisa-bisa aja. Tapi kapan-kapan kalau aku mau”

Yaelaaah. Lebay banget sih. Iya lebay. Tunggu, kamu jangan tersinggung. Memang itu hak kamu untuk berprinsip seperti itu. Tapi cobalah lebih bijak dalam menanggapi suatu hal. Memang itu hak jika kamu tidak ingin percaya lagi dengan dia. Tapi ingatlah kembali. Ketika diri ini sulit sekali memaafkan orang lain, maka ingatlah kembali betapa kamu ingin dimaafkan oleh Allah. Paham?

Baca Juga : Memaafkan Kesalahan, Melepaskan Beban

Tetaplah bersikap adil dan menjadi baik. Bukan hanya karena dia gak baik dan ucapannya tak layak diterima lantas kita membenci dia sepenuhnya. Karena masih ada hak yang layak kita tunaikan ke dia. Sapa, salam, dan tetaplah berbuat baik. Seperti halnya sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Dan juga sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sedangkan bagi yang dinilai, yang terlanjur dianggap “setan”. Harus lakukan apa?

Pertama. Minta maaflah. Bisa jadi penilaian yang dilontarkan oleh sebagian orang karena kesalahan kita. Oleh karena itu, minta maaflah kepada yang bersangkutan. Atau minta maaf kepada publik juga jauh lebih baik.

Dalam organisasi, saya pernah berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Pertama, orang yang sudah dinilai “setan” oleh anggota lainnya tapi tetap saja menjadi “setan”. Jangankan meminta maaf. Dia tetap saja selalu seperti itu. Berbeda dengan orang yang kedua. Orang yang nyaris dianggap “setan” oleh sebagian anggota, lalu dia meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan secara terbuka. Ini jauh lebih bijak kan?

Kedua. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama. Setiap orang  wajar jika pernah melakukan kesalahan yang sama. Tapi kita punya pilihan, ingin mengulangi kesalahan yang sama atau berhenti. Berhenti melakukan kesalahan dan mulai berubah menjadi lebih baik.

Ketiga. Berubahlah, selalu ada kesempatan terbuka. Memang, ada yang menganggap kepercayaan itu mahal harganya. Sekali dikhianati jangan harap kepercayaan kembali. Tapi percayalah, dari banyaknya orang yang berpikiran seperti itu, masih banyak juga orang yang dengan senang hati menerima perubahan. Dengan lapang hati menerima maaf. Karena mereka percaya, kesempatan untuk berbuat baik itu selalu ada.

Dan sekarang, sebagai penutup untuk kita semua. Memang dalam hidup kita pasti berjumpa dengan yang berbeda. Tapi perbedaan bukan berarti harus memecahkan kita. Saya suka dengan pesan dari Pandji :

“Kita tidak harus menjadi satu. Tapi kita bisa bersatu”

(Pandji Pragiwaksono)

Maka hargailah perbedaan. Saling menghormati dengan sebenar-benarnya. Bukan hanya karena permainan media. Berbuat baik yang benar-benar baik karena Allah. Bukan hanya pencitraan belaka. Bersikap dan berucap yang santun. Bukan disibukkan dengan mengeluh dan melamun.

Karena bisa jadi karena sudah Devil Effect, saling hormat, berbuat baik, dan santun tak lagi kita berikan ke orang tersebut. Tetaplah adil kepada siapapun walaupun sulit. Tak perlu sibuk untuk menghakimi. Karena sungguh hanya Allah Yang Maha Adil.

Rezky Firmansyah
Catatan untuk Diri, Kita, dan Indonesia

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *