12 Inspirasi Menulis dari Gerakan ITS Menulis

12 Inspirasi Menulis dari Gerakan ITS Menulis

Selalu ada inspirasi dimanapun saya berdiri. Prinsip ini berhasil membuat inspirasi beneran datang tiada henti. Seperti halnya kemarin. Menghadiri workshop Bengkel Menulis yang diadakan oleh Gerakan ITS Menulis, saya mendapatkan banyak inspirasi menulis. Farendy Arlius sebagai pembicara memberikan banyak insight baru yang akan saya bagikan disini. Well, mari kita mulai!

  1. Temukan Motif Menulis

Motif maksudnya disini bukanlah pola ataupun corak dari sebuah seni. Melainkan gagasan ataupun alasan seseorang melakukan sesuatu. Nah selama kamu tidak mempunyai alasan untuk menulis, kamu tidak akan pernah memulai dan bertahan lama dalam menulis. Bahasa sayanya sih STRONG WHY. Setiap orang pastinya punya motif tersendiri kenapa harus menulis. Ada yang karena hobi, bermanfaat bagi sesama, menjadi amal jariah, memberikan solusi untuk orang lain, juga mendapatkan penghasilan.

Nah sekarang, coba sebutkan 5 motif kamu dalam menulis. Iya sebutkan sekarang. Di dalam hati aja nggak masalah. Ingat, selama kamu tidak punya motif menulis, kamu tidak akan pernah memulai menulis. Akibatnya hanya selalu membaca tips dan inspirasi menulis terus-terusan. Udah tulis aja sekarang.

  1. Selalu Ada Jalan dari Setiap Hambatan

Hambatan pasti selalu ada. Kalau nggak ada hambatan ya nggak asik juga. Tapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa hambatan bukanlah jalan buntu.

Selalu ada jalan bagi yang berkemauan. Sedangkan bagi yang beralasan, segalanya jadi hambatan.

Tapi gimana dong caranya mengatasi hambatan menulis? Coba baca tips menulis di berbagai referensi deh. Bisa baca di buku, artikel online, tanya penulis langsung dan juga bisa baca di rezkyfirmansyah.com kategori Passion Writing. Percayalah, selalu saja ada solusi dan jalan dari tiap hambatan.

  1. Biasakan dengan Kebiasaan Menulis

Ada kalimat menarik dari pernyataan Farendy Arlius kemarin :

“Walaupun belum menjadi penulis, biasakan diri dengan kebiasaan penulis”

Maksudnya disini gimana? Ya simple. Coba kamu perhatikan bagaimana kebiasaan para penulis? Misalkan saja selalu membaca, membawa note, sering mencatat, meluangkan waktu menulis dan berbagai kebiasaan lainnya. Nah tirulah kebiasaan mereka.

  1. Siapkan Bahan dan Tentukan Hasil

Menulis juga dekat hubungannya dengan 2 hal ini, bahan dan hasil. Sama kayak memasak. Sudah punya bahan tapi nggak tahu mau masak apa. Ataupun udah tahu mau masak apa tapi nggak punya bahan. Ya sama aja nggak jadi-jadi.

Misalkan gini. Kamu ingin menulis tentang dunia pendidikan kreatif. Kamu harus punya bahan berupa data-data yang mendukung. Misalkan saja teori kecerdasan, pentingnya mengenal jati diri, dan kreativitas. Lalu kamu juga harus tahu hasilnya seperti apa. Misalkan saja, pendidikan kreatif ini memberikan solusi bagi pembaca untuk memahami makna pendidikan secara luas yang juga menggunakan kreativitas kekinian. Hasilnya bisa jadi solusi, saran, dan akan lebih baik bisa jadi modul dan buku.

Baca Juga : 7 Persamaaan Menarik antara Koki dan Penulis

  1. Coba Berkali-Kali

Punya alasan nggak menulis karena nggak punya bakat? Saya jadi ingat dengan pesan dari Tere Liye di auditorium Universitas Padjajaran bulan Juni 2015 lalu.

“Anda tidak berbakat menulis jika sudah menulis 100 kali lalu gagal”

Ada banyak kisah pengalaman para penulis yang berkali-kali gagal tapi tidak pernah berhenti. Nah kamu gimana? Baru 10 kali gagal lomba aja udah berhenti menulis dan bilang nggak berbakat. Atau bahkan belum pernah coba sama sekali ngatain diri nggak berbakat? Ya pantesan aja. Nggak pernah mulai sih. Udah mulai aja. Coba berkali-kali.

  1. Cicilan Tulisan

Ini nih penting sangat  penting. Bukan barang aja yang pembayarannya dicicil. Tulisan juga perlu dicicil loh. Misalkan kamu ingin menulis buku psikologi remaja dengan total 120 halaman. Sangat sulit menyelesaikannya dalam 1 hari. Ya udah cicil aja. Misalkan 1 hari 1 tulisan aja. Nah bisa deh selesai 120 hari. Konsep ini selalu saya terapkan di sesi mentoring saya. Termasuk di program 40DMO yang akan dimulai 24 April 2016.

  1. Susun Kerangka dan Tujuan

Masih ingat pelajaran SD dulu? Di pelajaran Bahasa Indonesia kita diajarkan menulis kerangka tulisan. Misalkan di paragraf 1 jelasin tentang apa, paragraf 2 tentang apa dan seterusnya hingga selesai. Jujur dulunya saya nggak terlalu memikirkan hal itu. Tapi ternyata pelajaran SD ini sangat membantu loh. Karena dengan adanya kerangka, kita tahu mau jalan kemana. Bahkan kalau udah ada kerangka, kamu tidak akan pernah buntu. Nah penggunaan kerangka disini nggak harus sama kayak pelajaran SD dulu. Buat aja kerangka berupa gambaran besar tulisan ini isinya tentang apa aja. Tentuin keywordnya.

  1. Ambil Bagianmu

Ada kebiasaan dari penulis yang sukanya ngikut kemana air mengalir. Misalkan saja begini. Ketika ada lomba menulis cerpen, ikutan. Ada lomba menulis essay, ikutan. Ada lomba menulis fiksi, ikutan juga.  Salah? Nggak juga sih. Tapi membiasakan diri seperti ini tidak akan membuatmu menemukan suara khas penulis. Gambarannya seperti ini. Raditya Dika dikenal karena komedi, JK Rowling karena fiksi imajinasi, Salim A. Fillah karena sastra Islami. Nah kamu?

Pada awalnya mengikuti berbagai genre nggak masalah. Tapi segera ambil bagianmu. Dimana ingin berkarya. Karena setiap orang hebat memiliki spesialisasi tujuan. Dan setiap penulis hebat memiliki spesialisasi karya.

  1. Temukan Formulamu Sendiri

Setiap orang pada dasarnya memilliki cara masing-masing dalam menulis. Misalkan saja ada yang bisa menulis di pagi hari setelah sholat subuh karena masih fresh. Ada juga yang bisanya menulis di malam hari karena sibuk sepanjang hari. Itu sangat wajar. Bukan hanya waktu menulis. Ada banyak formula lainnya. Misalkan saja kebiasaan, cara berpikir, konsep dan lain sebagainya. Setiap orang memiliki cara dan formula masing-masing. Maka jangan tiru persis formula orang lain. Temukan dari banyak orang dan ramu sendiri formula gaya kamu.

10. ON FIRE dengan Komunitas

Komunitas juga sangat penting loh dalam menulis. Selain banyaknya informasi yang didapat, salah satu yang lebih penting adalah menjaga motivasi dalam semangat berkarya dan tetap ON FIRE. Saya pun memiliki banyak komunitas. Ketika libur ke Pekanbaru ikutan  Kongkow Nulis. Kalau singgah di Jogja sempatin ikut eventnya Kamis Menulis. Dan di Surabaya sendiri aktif di Forum Lingkar Pena. Bahkan 30DWC yang pernah saya gagas dulu harapannya bisa jadi komunitas. Nah tentuin deh mau ikut komunitas apa?

Baca juga : Penerapan Circle Principle dalam Membawa Komunitas yang Membawa Perubahan

Bersama FLP Surabaya di Gerakan ITS Menulis
Bersama FLP Surabaya di Gerakan ITS Menulis

11. Miliki Guru

Setiap orang butuh guru. Karena guru akan mengajarkan banyak hal. Termasuk kegagalan yang pernah dia alami agar orang lain tidak mengalami hal yang sama. Temukan siapa guru menulismu. Boleh jadi belajar dari orang besar yang namanya ada di cover buku favoritmu. Tapi jangan hanya baca karyanya saja. Temui dia. Misalkan ikut bedah buku, workshop, ataupun event yang dia adakan. Dan yang lebih penting adalah, kagumi dia seadanya, belajar dari dia sebanyaknya. Karena ini seringkali terjadi. Terutama bagi anak-anak muda alay. Misalkan aja ada book signing Raditya Dika. Sibuk teriak-teriak nggak jelas, rela antri berjam-jam, foto bareng, aktif baca twitternya tapi malah galau. Lah, terus manfaatnya apa?

Kok kamu tahu Ky? Ya karena saya pernah ikuti itu. Pernah antri, foto bareng, baca twitter dan karyanya. Tapi nggak pake teriak nggak jelas dan galau. Karena saya memaknai karyanya menjadi sebuah nilai baru. Bahkan saya juga menuliskan banyak tulisan apa yang saya pelajari dari Raditya Dika.

Baca juga : Antara Aku, Passion, dan Raditya Dika

5 Tips Stand Up Comedy dari Raditya Dika yang Bisa Membuat Tulisanmu Lebih Hidup dan Bermakna

  1. Jangan Terlalu Lama dalam Masa Penantian

Ini pesan langsung yang saya dapatkan dari Farendy Arlius di luar ruangan. Seringkali banyak dari kita nggak mulai-mulai menulis karena banyak alasan. Bahkan yang udah nulis buku pun juga vacum melahirkan buku baru. Itu saya. Hem. Nah itulah pesan darinya.

“Jangan terlalu lama dalam masa penantian. Segera lahirkan karya baru”

Okey. Mohon doanya ya semoga karya baru selesai. Dan juga doa untuk kamu yang belum mulai-mulai menulis dengan banyak alasan. Ternyata, masa penantian bukan hanya bagi para jomblo ya. Haha.

***

Nah itu tadi 12 inspirasi menulis yang saya dapatkan dari GIM (Gerakan ITS Menulis). Segera praktekkan dan mulailah menulis!

Untuk hasil yang lebih keren, kamu bisa ikutan 40DMO, 40 Days Mentoring Online yang akan membimbing kamu step by step menulis hingga naskah bukunya jadi. Program ini akan dimulai tanggal 24 April 2016 dan terbatas hanya untuk 20 peserta. Dimanapun kamu berada tapi terhubung dengan internet dan whatsapp, segera ambil kesempatan ini. Untuk info lebih lengkap bisa hubungi melalui whatsapp 085363949899.

Keep writing, always inspiring!

2 thoughts on “12 Inspirasi Menulis dari Gerakan ITS Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *