Mengoptimalkan Budaya Nongkrong Menjadi Sebuah Kontribusi

Budaya Nongkrong

Masih ingat dengan tulisan 3 anak SD yang launching buku bersama Indonesia Writing Edu Centre? Kalau belum, silahkan baca di 5 Alasan Mengapa Anak-Anak Harus Menulis. Setelah acara itu, saya berjumpa dengan kenalan baru. Kenalan baru berarti gebetan baru. Eh salah. Maksudnya kenalan baru, ilmu baru. Dan betul memang. Saat itu Mbak Laksmi mengundang untuk nongkrong di Rembugan Suroboyo.

Rembugan Suroboyo? Ngapain aja sih?

Mestakung! Semesta Mendukung. Ya itulah yang saya rasakan. Bagaimana tidak. Beberapa hari yang lalu, saya juga sempat menuliskan yang bertemakan nongkrong, kontribusi dan anak muda. Beberapa diantaranya :

Creative Giving, Solusi Membangun Peradaban dan Menghidupkan Harapan

3 Alasan dan Solusi dari Ucapan Aku Tidak Bisa Apa-Apa

Menarik memang kegiatan seperti ini. Bagaimana caranya mengoptimalkan budaya nongkrong yang hanya sekedar menghabiskan waktu menjadi diskusi berisi. Kalau bahasa jawanya sih, “Cangkruk”. Melihat kesempatan itu, saya juga pernah mengadakan Satnite Cangkruk Nulis, yang mana tujuannya untuk berbagi ilmu kepenulisan di malam minggu yang produktif. Pengen adain lagi sih. Karena saya pedulii terhadap perkembangan jomblo di Indonesia. Yang STRONG ya joms 😛

Nah, Rembugan Suroboyo ini diadakan oleh Edcamp Indonesia. Kalau dijelaskan secara sederhana, Edcamp adalah komunitas diskusi dari, oleh, dan untuk para pembelajar berbagi ide, ilmu, dan pengalaman yang inspiratif untuk merealisasikannya dan mulai berkontribusi.

 

Ini menarik banget loh. Melihat peluang yang ada di masyarakat terutama bagi anak muda. Budaya nongkrong ini memang peluang yang sangat besar. Hanya saja seringkali terabaikan dengan sia-sia. Sehingga perlu creative idea yang mampu mengubahnya menjadi solusi yang memberdayakan. Saya percaya deh. Kamu pasti juga sering nongkrong kan? Entah di cafe atau warung kopi. Nah, coba tanya pada diri sendiri, apa aja yang didapat? Segelas minuman yang harus dibayar? Sebungkus rokok? Atau sebuah ide baru?

“Yaelah, hanya sebuah ide. Apa hebatnya?”

Heeii. Jangan meremehkan sebuah ide. Karena ide adalah salah satu modal dalam memberikan kontribusi besar. Masih ingat dengan tulisan saya tentang cara berkontribusi? Nah ini saya tulis ulang.

Yang kita butuhkan adalah sinergi antara ide, kuasa, dan uang. Jika hanya memiliki ide tanpa kuasa dan uang, maka sampaikan idemu di crowdfunding seperti kitabisa.co.id. Ide yang bisa memberikan solusi nyata. Maka crowdfunding tersebut akan membantu untuk mengumpulkan dana tersebut. Jika hanya memiliki kuasa tanpa ide dan uang, maka ajaklah orang lain untuk berkumpul dan bertukar pikiran. Pemerintah sangat butuh melakukan ini dengan mengumpulkan banyak anak muda yang memiliki banyak ide briliannya. Dan jika kamu hanya memiliki uang tanpa ide dan kuasa, maka kontribusikan uangmu ke lembaga, yayasan, atau instansi yang mampu memberikan dampak dan perubahan sosial. Tapi jika kamu tidak memiliki salah satunya, maka cobalah renungkan dalam diri. Begitu apatiskah kita dengan kejayaan bangsa ini?

Sumber : 3 Alasan dan Solusi dari Ucapan Aku Tidak Bisa Apa-Apa

bagaimana-caranya-berkontribusi
Bagaimana Caranya Berkontribusi

Dalam blog ini misalkan. Saya menuliskan berbagai ide, pemikiran dan inspirasi yang bisa kamu baca khususnya di kategori Creative Habit dan Inspirasi untuk Negeri. Banyak dari ide itu saya dapatkan dari nongkrong dan diskusi. Dan saya sadar betul bahwa efektifitas dari nongkrong itu sangat dibutuhkan melihat peluang dan intensitas yang dilakukan. Sehingga setiap saat, saya selalu memikirkan, “apa sih yang saya dapatkan kali ini?”

Saya kembali teringat dengan pesan Rhenald Kasali di Mata Najwa edisi Darah Muda Daerah :

“Anak muda itu punya gagasan, tapi tidak punya kesempatan”

Lalu apa gagasan yang kita punya untuk membangun bangsa? Oke saya tidak akan membahas tentang idealisme yang harus unjuk rasa dengan alasan menyampaikan hak rakyat. Karena saya percaya tidak semua orang “berminat” dengan hal itu. Pun ada yang ikut juga pasti aja ada yang modus untuk nasi bungkus. Ya ada aja. Walaupun hanya segelintir orang.

Teruslah bergerak dengan apa yang kita bisa. Jika kamu adalah serang aktivis kampus, silahkan optimalkan peranmu dan jaga niat murnimu. Jika kamu bukanlah aktivis kampus, pikirkan saja ide dan realisasi dalam menebar kebaikan dan kepedulian sekecil apapun itu. Karena manusia pada dasarnya lebih mulia dibandingkan babi dan kera yang hanya hidup dan bekerja di hutan. Manusia memiliki visi mulia yang akan dia perjuangkan.

Selain nongkrong, ada lagi budaya dan peluang besar yang seringkali terabaikan. Yaitu chatting. Untuk hal ini, saya sudah tuliskan di Productive Chatting, Mengoptimalkan Grup Online sebagai Solusi dari Baper, Kick dan Leave Group.

Jadi, mulai sekarang optimalkan budaya nongkrong dan chatting dengan selalu bertanya apa yang saya dapatkan?. Because nongkrong and chatting is not enough.

 

Keep writing always inspiring!

 

Rezky Firmansyah
Penulis Buku Tersebar di 5 Benua
Founder Passion Writing Academy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *