9 Inspirasi Menulis dari Fahd Pahdepie (Catatan Malam Minggu Bermakna)

Bersama FLP di Talkshow Fahd Pahdepie

Sebagai Jomblo BAPER, Jomblo yang BAwa PERubahan, malam minggu ini saya jalani dengan kreatif dan produktif. Bersama sahabat di Forum Lingkar Pena Surabaya, saya menghadiri talkshow dan booksigning Fahd Pahdepie di Gramedia Tunjungan Plaza. Bagi sebagian orang nama Fahd Pahdepie mungkin sedikit asing. Karena memang di buku sebelumnya dia menggunakan nama pena, Fahd Jibran. Tapi setelah “reborn”, dia menggunakan nama aslinya di 2 buku terakhir. (1) Rumah Tangga dan (2) Jodoh. Saya pun mengenalinya dari Fan Page Facebook dengan lebih dari 150.000 likes. Kali ini saya ingin menyalurkan kembali apa yang sudah dia share ke kamu semua, pembaca setia blog rezkyfirmansyah.com. Mari mulai!

  1. Menulis Mengabadikan Pikiran dan Kenangan

Saya sangat sangat setuju dengan pesan pertamanya malam tadi. Karena memang, saya cukup sulit untuk mengingat. Dan karena itulah saya selalu menulis. Tapi tenang saja, saya tidak mudah lupa dengan kenangan kok. Ehem.  Nah, ternyata menulis bukan hanya sekedar mengingat, tapi mengabadikan. Tentu ini adalah 2 hal yang berbeda. Jika mengingat hanya untuk diri sendiri. Sedangkan mengabadikan bisa dinikmati oleh orang lain. Karena itu izinkanlah pemikiran dan kenanganmu dimaknai oleh orang lain.

  1. Menulis Bisa Dimana Saja

Pencapaian Fahd Pahdepie dalam tulisan online ataupun offlinenya bagi saya luar biasa. Rumah Tangga dicetak ulang 8 kali sejak Juni/Juli 2015. Sedangkan Jodoh yang launching Desember 2015 sudah dicetak ulang 3 kali. Selain itu Fan Page yang lebih dari 150.000 likes juga rutin dishare banyak orang. Nah ini jadi pertanyaan saya di sesi tanya jawab. Mana sih yang lebih baik menulis di blog atau fan page?

“Menulis itu bisa dimana saja. Bahkan di halaman belakang buku. Apa yang saya capai hari ini bukanlah hasil praktis. Ada proses panjang”

Nah kamu masih beralasan dan bingung mau nulis dimana? Mau nge-blog tapi gak pandai coding? Percaya, itu gak penting-penting banget. Sudahlah pakai facebook saja sudah. Mau nulis kok banyak alasan. 😛

  1. Penulis Bukan Pekerjaan

Fahd Pahdepie mempunyai opini tersendiri tentang ini. Baginya menulis bukanlah pekerjaan. Karena jika dijadikan sebagai pekerjaan, maka akan mudah dikecewakan oleh pembaca. Misalkan saja ketika dikritik atau hanya dibaca sedikit orang. Dia menempatkan menulis sebagai hobi. Nah bagi kamu yang masih menggalaukan hal ini, saya menyarankan untuk membaca tulisan mentor saya tentang Bagaimana Menulis dengan Hati.

  1. Untuk Dibaca 10 orang, Taklukkan Dulu 1 Orang

Ini pesan yang disampaikan oleh Stephen King. Fahd menyampaikan dan melakukan hal ini. Dia mulai menulis dan memberikan tulisannya kepada teman terdekat dan teman sekelas. Sederhana bukan? Izinkan orang lain untuk membaca tulisanmu. Mulailah dari yang terdekat. Dan ini tidak lagi masalah. Bukankah dengan adanya internet membuat orang jauh pun bisa membaca? Bahkan mantan pun bisa baca. *Lah apa ini!

  1. Problem Penulis Pemula, Tulisannya Malu Dibaca

Hem. Merasa dengan hal ini? Saya percaya banyak dari kamu yang mengalami problem ini. Karena dari hasil pengalaman saya ketika menanyakan tulisan banyak mereka yang malu untuk menunjukkan tulisannya. Ada yang bilang masih jelek, belum berpengalaman, EYD masih acak-acakan, dan takut dibaca mantan. Lah kalau begitu untuk apa menulis. Bukankah tulisan untuk dibaca? Dibaca diri sendiri dan orang lain. Fahd mengatakan, jika tulisannya malu untuk dibaca, berarti dia belum siap menulis. Nah! Sudahlah, daripada tersinggung ayo berubah!

  1. Inspirasi Ada Dimana-mana

“Inspirasi ada banyak. Saya suka membaca, nonton film, dan diskusi dengan banyak orang.”

Nah kamu nyari inspirasi dimana? Jangan katakan gak ada inspirasi kalau hanya berdiam diri. Atau kamu bisa cari di kategori artikel blog ini di Passion Writing

  1. Mengandalkan Imajinasi Saja Tidak Cukup

Menarik memang brand yang disematkan ke Fahd Padhepie, “Creative Writhink”. Karena memang dari cara pembawaannya saya melihat ada sisi yang kreatif banget. Dia juga menambahkan bahwa kreator dunia tidak hanya mengandalkan imajinasi. Tapi juga pengalaman diri. Maka dalam penulisan buku, tidak ada salahnya memasukkan pengalaman dari diri sendiri dengan kemasan yang unik.

  1. Sejelek-Jelek Tulisan Pasti Ada Pembaca

Sebenarnya tidak ada tulisan yang jelek sih. Hanya saja mungkin penilaian kita yang tidak sesuai. Terlepas dari itu, percayalah bahwa setiap tulisan pasti ada pembaca. Tulisan pemula dibaca pemula. Tulisan kritis dibaca oleh pemikir kritis. Tulisan komedi ditulis oleh mereka yang suka komedi. Yang gak menulis ya gak dibaca orang lain. Sederhana kan?

  1. Jika Anda Ingin Bahagia, Mulailah Memaknainya

Bukan hanya kehidupan untuk dimaknai dan bahagia. Tulisan pun begitu. Setiap tulisan ada makna. Hanya saja seberapa besar maknanya? Sebagai penulis kita harus bisa memberikan makna yang spesial. Dan sebagai pembaca juga harus peka untuk mencari makna.

 

Nah itu tadi review dari pengalaman saya berjumpa dengan Fahd Pahdepie. Pertemuan pertama yang penuh makna. Semoga di lain kesempatan bisa berjumpa dan belajar lebih banyak. Dan bagi kamu yang baca, jangan cuma baca. Praktek! Baca aja gak akan buat kamu jadi penulis. Mulailah menulis sekarang juga.

image

Sebenarnya tadi Fahd juga banyak menjelaskan tentang isi bukunya “Jodoh”. Tapi saya menahan itu dengan alasan yang lain. Karena bisa jadi kamu malah galau soal jodoh. Daripada galau, baca saja buku Jodoh karya Fahd Pahdepie. Karena ternyata jodoh bukan hanya soal cinta :)

 

Keep writing, always inspiring!

 

Rezky Firmansyah
Penulis Buku Tersebar di 5 Benua
Founder Passion Writing Academy

 

5 thoughts on “9 Inspirasi Menulis dari Fahd Pahdepie (Catatan Malam Minggu Bermakna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *