Hari Ibu sebagai Momentum Berkarya Ibu dan Anak

hari-ibu-bukan-1-hari.jpg.jpeg

Wanita itu mengagumkan. Saat kecil ia membuka pintu surga buat ayahnya. Saat dewasa ia menyempurnakan agama suaminya. Dan saat jadi ibu, surga ada di kakinya.

Sebuah pesan yang sangat menggugah tentang kemuliaan seorang wanita. Mulai dari menjadi anak hingga memiliki anak. Sungguh istimewa sehingga tidak heran jika setiap tahunnya perayaan Hari Ibu menjadi salah satu momentum dalam pelaksanaan pesan diatas.

Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak. Mulai dari pihak pemerintah yang menjadikannya sebagai pelaksanaan program ke masyarakat, seorang suami terhadap ibu dari anak-anaknya, dan terutama seorang anak kepada ibunya. Yang ketiga adalah hal yang sangat bisa diterapkan terlepas dari apapun status kita sekarang.

Dalam bidang pemerintahan misalkan. Pemerintah menggunakan kesempatan ini sebagai sosialiasi program ke masyarakat melalui instansi yang terkait seperti PKK. Beberapa program yang biasa dilaksanakan seperti berbagai lomba, sarasehan dan perayaan lainnya. Tentu hal ini sebagai memontum yang baik bagi pemerintah untuk mendapatkan hati masyarakat yang telah mempercayai. Tapi sungguh sayang jika momentum tersebut hanya bisa dimanfatkan oleh pihak pemerintah.

Saya akan melihat dari sisi yang ketiga, yaitu seorang anak kepada ibunya. Hal ini saya pilih karena semua dari kita adalah anak dari seorang ibu. Terlepas apakah ibu yang kita cintai sudah meninggal dunia ataupun dibesarkan hanya oleh seorang ayah. Karena hal tersebut tidak lantas melepaskan status dan amalan jariah yang terhubung antara ibu dan anak.

Mengutip dari hadist nabi yang secara kontekstual bermakna, yang layak mendapatkan bakti dari seorang anak adalah ibu, ibu, ibu, dan bapak. Memaknai hadist ini maka tidak heran jika peran seorang wanita sungguh sangat mulia. Mulai dari kecil hingga kelak dia dewasa. Pun sayang sekali banyak dari wanita yang masih menganggap perannya sebelah mata.

Sungguh sayang jika hanya menjadikan Hari Ibu sebagai acara seremonial belaka. Terlebih jika menyayangi seorang ibu hanya di satu hari saja. Lalu bagaimana caranya agar Hari Ibu bisa menjadi momen yang bermakna bukan hanya seremonial belaka? Jadikan Hari Ibu sebagai momentum bakti dan aliran amal jariah sepanjang zaman. Cara pelaksanaannya tentu sudah kita ketahui selama ini dari pendidikan yang diajarkan di sekolah. Akan tetapi, ada cara menarik agar Hari Ibu bukan hanya sebagai acara seremonial belaka.

Mengutip pesan dari Pramoedya Ananta Toer :

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pesan ini ada benarnya. Melihat angka harapan hidup, khususnya Indonesia adalah 71 tahun.. Sedangkan sebuah tulisan mampu bertahan hingga sepanjang zaman. Cobalah lihat karya para ulama zaman dahulu yang bisa bertahan sampai sekarang. Karya tersebut bisa kita rasakan karena mereka menuliskan gagasan dan pemikirannya. Lalu kenapa hal tersebut tidak kita terapkan kepada seorang ibu. Padahal dalam sebuah lirik lagu masa kecil mengatakan “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa”

Passion Writing Academy sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia yang memposisikan diri di bidang kepenulisan memberikan sebuah konsep kreatif yang dinamakan parentwriting. Seperti arti namanya, parentwriting berarti orang tua menulis. Hal ini dilihat dari sebuah masalah dan kegelisahan dan dampak dari teknologi masa kini. Memang benar teknologi dapat mendekatkan yang jauh. Tapi sungguh tidak bijak jika malah menjauhkan yang dekat. Apalagi seorang ibu yang sudah membesarkan diri kita dengan penuh kasih sayang dan pembelajaran. Melihat hal tersebut, konsep ini mampu menjadi solusi.

Perbedaan kebiasaan setiap manusia setiap generasinya seolah memberikan peluang yang pas dalam penerapan parentwriting. Orang tua yang lebih sedikit intensitasnya dengan teknologi dibandingkan anaknya yang merupakan generasi melek teknologi. Melihat hal tersebut ada pembagian porsi yang pas. Orang tua yang menceritakan kisah mereka dan anak yang menuliskan pembelajaran yang didapat.

Mengapa hal ini perlu diterapkan? Karena sungguh sayang sekali melihat pembelajaran dari orang tua yang telah puluhan tahun hidup tapi tidak mampu diwariskan ke anak-anaknya. Dan harapannya, nilai-nilai keluarga dan pembelajaran mampu diterapkan ke mereka.

Dari sisi pembelajaran, tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua, khususnya ibu adalah pendidik pertama anaknya. Saya menggunakan kata pendidik disini, bukan guru. Karena ada perbedaan antara pendidik dan guru. Pendidik pasti seorang guru. Sedangkan guru belum tentu pendidik. Maka, sudah sewajarnya bahwa pendidikan yang terutama adalah dari seorang ibu. Walaupun yang terjadi di kebanyakan masyarakat mereka menitipkannya di asisten rumah tangga. Maka muncul refleksi, seorang ibu meraih pendidikan tingkat tinggi tetapi anaknya dididik oleh asisten rumah tangga yang relatif lebih rendah. Bukankah hal ini adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan?

Melirik kembali ke sejarah, salah seorang ulama yang mahsyur di dunia, Imam Syafii. Dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz. Pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik. Dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji. Hal tersebut tidak lepas dari pendidikan seorang ibu. Maka pantaslah jika seorang ibu bukan hanya sesempit mengurus rumah tangga keluarga. Melaikan ibu peradaban untuk generasi masa depan yang bekerja di balik layar.

Melihat peran besar dari seorang ibu untuk peradaban,  maka sudah seharusnya ibu memiliki banyak pelajaran yang bisa dituangkan ke anak-anaknya. Lalu bagaimana seorang anak bisa menulis? Bagaimana jika dia tidak berbakat menulis? Hal ini sungguh sebuah alasan dan pembenaran yang tidak masuk akal. Karena sejak kecil seorang anak sudah dilatih untuk menulis. Bahkan bagi seorang mahasiswa laporan, responsi, bahkan skripsi merupakan sebuah fase yang harus dilewati untuk menyandang titel sarjana. Lalu jika fase tersebut terlewatkan, alasan apa yang membuat seorang anak tidak bisa menulis?

image

***
Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos edisi 22 Desember 2015 halaman 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *