Bukan Menjadi Siapa, Tapi Membawa Nilai Apa (Hari ke 29 #30DWC)

Rezky Dr Gamal

“Jangan jangan pengorbanan Aremania terhadap Arema lebih besar dibandingkan dengan pengorbanan kita terhadap apa yang kita yakini kebenarannya dan manfaatnya”

Sebuah refleksi dari dr Gamal Albinsaid (Pendiri Bank Sampah) di atas panggung Creator Fest 2015 Universitas Brawijaya. Sepanggung dengan beliau merupakan sebuah kesempatan yang luar biasa. Seolah memberikan semangat baru untuk terus berkontribusi dan berkorban atas apa yang diperjuangankan manfaatnya. Tentu kamu sudah tahu siapa beliau. Jika belum cari tahu dulu baru lanjutkan membaca ya 😀

Sebagai pembelajar sejati, saya menerima pelajaran bukan hanya dari panggung. Karena ilmu di belakang panggung sungguh lebih banyak untuk digali dan dimaknai. Dan itu selalu berusaha saya lakukan. Termasuk hari ini. Setelah memberikan inspirasi tentang Creativity, saya berjumpa dengan Abdul Jabbar Jawwadurrohman. Teman seperjuangan di ISLC UI 2011 yang sudah 3 tahun tidak berjumpa. Ya terakhir kali kami berjumpa tahun 2012, di Universitas Indonesia ketika reuni. Prestasi kekiniannya adalah Mahasiswa Berprestasi Universitas Brawijaya yang pastinya sebagian besar mahasiswa Brawijaya mengenalinya. Bahkan baru beberapa menit kami berjumpa dan menuju ke parkiran motor, mahasiswa lain menyapa :

“Wad, gimana udah ada panitia dari komunitas XXX yang hubungi? Rencananya kamu bakal ngisi tentang mentoring dan motivasi disana”

Bayangkan saja, baru beberapa menit. Ya eksis banget. Tapi ke-eksis-annya ini menjadi pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini.

Rezky Jawwad

Rendah hati. Ilmu tingkat tinggi yang butuh latihan berkali kali. Dengan segudang prestasi darinya, rendah hati dapat diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan bermaksud berlebihan dalam memuji. Sungguh saya dapat banyak pelajaran darinya malam ini. Dan itu didapatkan dari diskusi. Jangan biarkan dalam diri hanya ada rasa iri tanpa usaha untuk memperbaiki. Percaya saja, rendah hati ini ilmu tingkat tinggi. Misalkan saja, bagaimana caranya agar bisa tetap “apa adanya” saat di atas panggung dan di belakang panggung. Dan inilah yang selalu saya usahakan. Jadi please, anggap saja saya ini manusia biasa yang kita bisa saling belajar ya :)

“Ohya Wad, aku mau nanya. Misalkan gini nih. Kamu pernah gak merasa iri ataupun tujuanmu teralihkan saat melihat orang lain mendapatkan prestasi yang WOW”

Pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan saya sebelumnya di tulisan kemarin dengan Fitryanda Akpewila. Dan malam ini saya dapatkan insight baru untuk sebuah jawaban yang semakin terang.

“Identifikasi diri untuk melihat nilai apa yang mereka bawakan”

Jawaban yang kreatif dan solutif. Dan ini masuk akal. Saya punya banyak teman di ADMIRAL ataupun ISLC dengan prestasi yang WOW. Rasa iri akan sebuah prestasi tentu ada. Perlahan saya pun mulai meluruskan makna iri disini dengan jawaban hari ini. Identifikasi diri untuk melihat nilai apa yang mereka bawakan. Misalkan seperti Jawwad sebagai mawapres UB. Tentu saja itu sebuah prestasi WOW. Tapi apakah saya ingin menjadi mawapres? Bisa jadi. Tapi apakah saya butuh menjadi mawapres? Tidak sama sekali. Karena yang dibutuhkan adalah nilai apa yang dibawakan oleh seorang mawapres, sebuah semangat untuk berprestasi dan berkarya. Nah coba deh identifikasi diri untuk melilhat seseorang yang mungkin saja kamu iri kepadanya. Sebenarnya yang kamu butuhkan bukanlah menjadi dia. Tapi nilai dari apa yang mereka bawakan. Nangkep? Kalau belum, coba baca ulang sampai nangkep ya.

Contoh lain adalah teman saya Pury Handayani sesama alumni Young Trainer Academy 4 program dari Cerdas Mulia Institute. Wanita STRONG yang sedang mengurus skripsi ini punya semangat dan energi yang “terlihat” lebih dari saya. Tahun lalu bahkan mencapai Jerman dengan usahanya yang gigih layaknya Merry Riana memperjuangkan beasiswa di Singapore. Sama dengan Jawwad, prestasi kekiniiannya adalah mapres FIB UB. Haruskah saya iri? Jawabannya sudah tahu kan?

“Itu harapanku dan juga harapan kedua orang tuaku. Harapan kami saling terintegrasi”. Satu dari sekian banyak insight yang saya dapat dari Pury tentang harapannya menjadi “pengajar”

“Pertanyaan lain Wad. Menurutmu apa itu visioner?”

Pertanyaan menarik lainnya yang sempat saya tanyakan. Dengan jawaban menarikpun dia menjawab :

“Dia tahu visinya dan mampu mempengaruhi dirinya. Jika dia tahu visi tapi gak bisa mempengaruhi dirinya untuk berubah, maka itu bukanlah visioner”

Tambahan keyword tentang visioner yang saya dapatkan malam ini. Setelah mengetahui visi dan mampu melihat jangka panjang, ada keyword yang tidak kalah penting, yaitu pengaruh. Sudahkah visi kita selama ini memberikan pengaruh dan perubahan positif dalam diri kita? Misalkan saja saya tahu visi untuk menebarkan virus menulis, apakah visi tersebut mampu mempengaruhi saya untuk terus menulis dan mengembangkan konsep baru? Apakah saya mampu melihat pentingnya menulis untuk sebuah perubahan dan masa depan lebih baik?

Diskusi hari ini benar benar menarik. Saya dikelilingi oleh orang luar biasa. Daku mah apa atuh. Hehehe. Nangkep insight di paragraf ini? Kelilingi dirimu dengan orang positif, maka kamu juga akan positif 😀

Tambahan sebagai penutup. Setiap orang mempunyai kecenderungan karakter yang berbeda. Memang ada beberapa pembagian. Misalkan sanguinis, kholeris, melankolis, dan plegmatis. Ada juga esktrovert dan introvert. Saya, kamu, ataupun dia punya karakter yang berbeda. Jadi tidak bijak jika membanding-bandingkan. Hal ini pula yang saya dapatkan dari diskusi malam ini. Dari segi pembicaraan, Jawwad lebih dominan dalam mengeluarkan pendapat. Sedangkan saya memberikan pertanyaan dan merenungkan. Kamu dapat sesuatu dari itu? Ya benar. Jawwad adalah seorang ekstrovert yang lebih dominan mendapatkan energi dari keramaian. Sedangakan Rezky adalah seorang (mungkin) introvert karena mendapakan energi dari perenungan dan kesendirian. Nah jika kami punya tujuan dan karakter yang berbeda, apakah bijak untuk saling membandingkan? Tentu saja keliru. Jauh lebih berenergi jika kami saling belajar. Termasuk kamu. Ya kamu. Mulailah mengenali diri. Karena itulah awal mula adanya energi baru.

Rezky Jawwad Pury

Bukan tentang ingin menjadi dr Gamal, Pury, Jawwad ataupun Rezky. Tapi tentang nilai apa yang dibawa oleh kami. Bukan menjadi siapa, tapi membawa nilai apa. Kenali diri dan mulai berkontribusi.

Keep writing, always inspiring!

 

Rezky Firmansyah
Founder Passion Writing
Penulis buku tersebar di 5 benua

Mau diskusi asik bahas soal Kepenulisan Passion Kepemudaan? Yuk invite 76B4BF69/085363949899 dan juga  follow @rezky_rf9

Kamu merasakan manfaat dari tulisan ini? Tulis comment dan klik tombol share di bagian kiri

 

 

0 thoughts on “Bukan Menjadi Siapa, Tapi Membawa Nilai Apa (Hari ke 29 #30DWC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *