Menyayangi Tanpa Disadari, Pendidikan Indah Seorang Ayah (Hari ke 23 #30DWC)

image

Biasanya setiap anak mempunyai kecenderungan lebih dekat kepada salah satu orang tuanya. Apakah kepada ayah ataupun ibunya. Dan jika kamu menanyakan kepada saya, maka saya akan menjawab kepada ibu. Bukan ibu sih, lebih tepat mama. Karena ibu adalah panggilan untuk kakak tertua dari mama. Sedangkan bunda adalah panggilan untuk kakak ipar tertua dari ayah. Alhamdulillah, mama dan ibu saya masih sehat sampai sekarang. Saya mohon doanya agar selalu sehat dan bermanfaat. Sedangkan bunda, sudah meninggal akhir tahun lalu. Mohon doanya juga agar diampuni dosanya dan ditempatkan di surga-Nya. Dan kini saya menunggu kehadiran bunda untuk anak-anak kelak. Ehem.

Berhubung ini adalah Hari Ayah Nasional, dan sebuah komitmen untuk 30 Day Writing Challenge, maka hari ke 23 ini saya akan menulis tentang ayah.

Jika kamu bertanya apakah seorang ayah menyanyangi anaknya, semua anak pasti akan menjawab ya. Termasuk saya. Ya itu pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan sebenarnya. Tapi yang menarik untuk ditanya adalah bagaimana seorang ayah menyanyangi anaknya? Nah ini yang sering terabaikan oleh kita. Bukan sayangnya yang tidak ada. Tapi caranya yang tidak disadari.

Membelikan apa yang diinginkan?

Mengajak jalan-jalan ke luar kota?

Menyekolahkan ke sekolah terbaik?

Itu benar. Ya tapi tidak bisa dikatakan bahwa yang dilakukan tersebut adalah kepastian tanda kasih sayang. Ya ini benar. Ada hal mendasar yang seringkali dilupakan yaitu pendidikan. Bukan pendidikan formal, melainkan pendidikan yang hingga sampai kapanpun akan engkau lakukan.

“Menyayangi dengan tersirat, tanpa terucap, dan tak terlihat. Inilah pendidikan terindah yang saya dapatkan dari seorang ayah. “

16 April 2012 adalah momen yang membuat diri ini tersadar akan itu semua. Sebagai anak paling kecil dan sekolah di asrama, otomatis intensitas pertemuan pasti terbatas dibandingkan kakak dan abang di rumah. Saat mereka terlepas dari status gadis dan bujang menjadi istri dan suami yang sah dari pasangannya, ayah bisa hadir dan melihat mereka semua. Dan pemandangan itu tidak akan kembali terlihat. Ya tidak akan. Hanya ada seorang mama yang duduk disamping. Dan mungkin juga didampingi oleh ayah dan bunda kamu. Ya kamu.

Kalimat bijak mengatakan bahwa kehilangan yang akan menyadarkan. Dan itu benar. Saya baru sadar begitu indahnya cara seorang ayah menyayangi anaknya. Menyayangi dengan tersirat, tanpa terucap, dan tak terlihat.

Keikhlasan. Ilmu sulit yang sangat butuh latihan dengan jam terbang tinggi. Ikhlas itu seperti kata ikhlas dalam surah Al-Iklas. Tak terlihat dan tak terucap. Pun itu masih terlihat, hati masih bisa menjaga untuk tetap dalam kelurusan niat. Sulit. Tapi ayahlah yang mengajarkan dengan indah.

Bagaimana tidak. Saya baru sadar bahwa sepeda motor yang biasa dibawa oleh guru ngaji saya dulu adalah pemberiannya. Dan menariknya saya baru sadar ketika ayah tidak ada. Caranya, sungguh tak terucap. Dikisahkah oleh guru ngaji saat itu, ayah dan abang pergi ke dealer sepeda motor dan mengajaknya. Abang mencari sepeda motor dan ayah pun memberikan tanda kepadanya untuk memilih sepeda motor untuknya. Tanpa banyak kata, ayah membelikan untuknya. Bahkan ayah sempat menawarkan sebidang tanah untuk dikelolanya, tetapi beliau menolak.

Inilah satu dari sekian banyak pendidikan indah dari ayah. Bagaimana dia berbagi tanpa diketahui anaknya. Tentu masih banyak keikhlasan yang ayah ajarkan dengan cara yang jauh lebih indah. Pemberiannya di masa lalu semakin terlihat oleh diri ini kini. Tentu tidak semuanya akan terlihat. Seolah mengajarkan inilah pendidikan keikhlasan. Semoga amal jariah dan pahala keikhlasan selalu mengalir untukmu ayah.

Lemari dengan 3 tingkat yang dipenuhi buku. Pendidikan indah lain dari seorang ayah. Ya saya percaya bahwa Rezky adalah kolaborasi ayah dan mamanya. Dan mungkin juga berlaku untuk kamu. Ayah dengan kecenderungan untuk membaca lebih banyak dan mama dengan kecenderungan berbicara di depan publik lebih banyak menghasilkan anak seperti saya. Pembaca, pembicara dan penulis. Ya penulis adalah kecenderungan tambahan yang tidak dimiliki oleh keduanya. Pembaca, jangan tanya sebanyak apa buku yang saya miliki di kamar rumah dan kamar kosan. Bahkan (hanya) kumpulan buku di kamar kosan yang saya miliki mampu melebihi 3 teman kamar sebelah. Dan untuk pembicara, di umur  sekarang, Alhamdulillah sudah berjalan sesuai tracknya. Semoga terus bertambah dan dilancarkan jalannya.

Menyayangi tanpa disadari dari hobi. Susunan tata cara menyayangi yang sungguh unik. Dengan hobi yang ayah miliki, rasa sayang itu tetap mengalir ke diri ini. Perkebunan dan pertenakan adalah hobi yang dia miliki. Ya kami memang berbeda hobi. Kambing, sapi, jeruk, durian, rambutan, bahkan buah naga adalah sedikit dari lahan yang dia kuasai. Dan itu seolah menjadi wisata indah untuk dimaknai. Ya tidak semua orang tentunya bisa menikmati apa yang saya anggap wisata disini. Dan kini ayah, lihatlah anakmu ini belum mulai jalan di hobimu. Suatu saat nanti, lihatlah. Tujuan utama yang sama dengan cara mencapai yang berbeda. Insya Allah bertemu di surga sebagai pertemuan yang abadi. Aamiin.

Diam dalam berkontribusi. Menyayangi tanpa disadari. Menasehati tanpa interaksi. Pendidikan indah oleh seorang ayah. Yang hingga kini menjadikan sebagai pembelajaran berharga. Terima kasih ayah.

Selamat hari ayah nasional. Mari jadi amal jariah bagi ayah

Semoga nama Rezky Firmansyah yang bermakna rezeki bagi seorang Firmansyah akan selalu mengalir layaknya amal jariah untukmu, keluarga, agama, dan Indonesia. Aamiin

Keep writing, always inspiring!

 

Rezky Firmansyah
Founder Passion Writing
Penulis buku tersebar di 5 benua

Mau diskusi asik bahas soal Kepenulisan Passion Kepemudaan? Yuk invite 76B4BF69/085363949899 dan juga  follow @rezky_rf9

Kamu merasakan manfaat dari tulisan ini? Tulis comment dan klik tombol share di bagian kiri

5 thoughts on “Menyayangi Tanpa Disadari, Pendidikan Indah Seorang Ayah (Hari ke 23 #30DWC)

  1. Kak rezky firmansyah, aamiin untuk semua doa doanya, semoga semakin barokah, terima kasih telah menginspirasi, dan saya masih lalai di DWC,

Leave a Reply to Rezky Firmansyah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *