Apa yang Dilakukan Jika Kehabisan Ide Saat Menulis? (Hari ke 4 #30DWC)

Membaca seperti mengisi teko - rezky firmansyah

Saifulisme atau Youisme

“Mas bagaimana caranya membuat judul, karena saya seringkali sulit menemukan judul” seseorang bertanya kepada kami

“Wajar jika kita tidak bisa mendapatkan judul di awal. Dan sebaiknya judul itu mampu merangkum semua tulisan kita. Kreativitas sangat dibutuhkan dalam menulis judul. Misalkan saja di buku pertama saya yang berjudul “Saifulisme”. Pembaca akan memiliki 2 persepsi, pertama kumpulan pandangan hidup Saiful atau Saiful adalah saya.”

Menarik memang cara Saiful “Ipung” Haq dalam menyusun ide judul bukunya yang pertama. Mungkin bisa suatu saat saya akan menulis buku yang berjudul “Rezkyisme”. Memang sih terkesan memaksa. Mungkin ide yang lain adalah “Youisme” yang bermakna kamu adalah aku atau kumpulan pandangan hidup kita berdua. Ehem.

Guyonan segar saya dapat sepanjang hari ini dan kemarin. Ya semoga saja ide, inspirasi dan guyonan segar selalu saya dapatkan setiap hari. Tapi ada kalanya kita kehabisan ide ketika menulis. Nah, jika sudah kejadian, apa yang harus kita lakukan? Mari simak tulisan di hari keempat #30DWC ini.

Setelah mengisi dialog interaktif di Psychology Learning Comunity kemarin, saya mendapatkan  info tentang Open House LDK UIN yang menghadirkan Prof DR H Imam Suprayogo, Rektor UIN 1997-2013, sekaligus pemegang rekor MURI menulis blog selama 3 tahun tanpa jeda. Subhanallah! Tentu saja kesempatan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Keesokan harinya saya pun “menyelip” di acara tersebut. Ada banyak inspirasi yang saya dapatkan. Tapi akan saya tulis besok untuk hari kelima #30DWC.

Setelah selesai acara dan banyak berdiskusi dengan para kader LDK UIN Malang, saya diajak ngopi alias ngobrol pintar bareng Mas Ipung, partner ketika mengisi dialog interaktif kemarin. Karya Mas Ipung selalu dihiasi dengan perenungan, mantan dan juga hubungan. Buku yang sudah ditulisnya adalah Saifulisme; Diam Diam Suka, Diam Diam Terluka, dan yang sedang proses finishing Elegi. Silahkan kunjungi blognya di saifulisme.blogspot.co.id

Banyak insight yang saya dapatkan dari Mas Ipung. Karena memang diskusi kami berisi. Namanya aja Ngopi, ngobrol pintar, bukan Ngorok, ngobrolin jorok 😛

Ohya, udah dapat jawaban dari judul tulisan ini belum? Sebenarnya sudah saya berikan dengan jawaban yang tersirat. Nangkep?

Read More, Listen More, Write more

Itu kunci utama agar kamu gak kehilangan ide. Nah permasalahan utama adalah bagaiamana caranya agar bisa “read more dan listen more?”

Pertama, read more. Tidak bisa tidak, membaca adalah sebuah kebutuhan bagi seorang penulis. Pikiran layaknya teko. Membaca berarti mengisi teko, menulis berarti menuangkan isi teko. Bagaimana bisa menuangkan dan menulis jika tidak ada yang diisi dengan membaca?

Membaca seperti mengisi teko - rezky firmansyah

Muncul pertanyaan baru. Bagaimana jika saya tidak suka membaca? Jawabannya adalah rugi besar! Ya tentu saja, padahal di buku banyak sekali something yang bisa kamu dapatkan. Tapi kamu bisa mengatasinya dengan membaca alam. Bagaimana caranya membaca alam? Contoh singkatnya sudah saya tulis tersirat ketika “membaca” kesempatan open house LDK. Akan saya tuliskan lebih lengkap di hari kelima #30DWC deh. Karena ini bahasan dari Prof Imam tadi pagi.

Kedua, listen more. Saya gunakan disini listen, bukan hear. Karena ada perbedaan antara listen dan hear. Listen berarti mendengar dan memperhatikan suatu hal. Sedangkan hear hanya sekedar mendegar suara yang masuk ke telinga. Nah kamu seringnya apa? Listen apa hear? Kalau kamu kurang peka dengan “dia” berarti kamu hanya hear 😛

Listen more seringkali saya lakukan dalam kehidupan. Termasuk ketika Ngopi “Ngobrol Pintar” dengan Mas Ipung tadi siang. Banyak hal yang kami diskusikan. Mulai dari agama, bangsa, penulisan, karir, bahkan partner kehidupan. Selama ini kita sering terjebak dalam pembenaran bahwa jodoh itu adalah saling melengkapi dalam pengertian yang keliru. Misalkan saja seorang Ustadz dengan cabe-cabean. Mana mau seorang ustadz meminang seorang cabe-cabean untuk saling melengkapi karena seorang Ustadz paham agama sedangkan cabe-cabean abai dengan agamanya. Karena seharusnya :

“Saling melengkapi itu berarti kamu punya sesuatu, aku punya sesuatu. Lalu kita bersatu untuk menjadi insan yang baru”

Indah kan perumpamaannya? Nah jika kamu ingin mendapatkan banyak ide baru soal yang beginian, kontakan aja dengan Mas Ipung. Kebetulan dia jomblo dan sedang menjadi Musafir Hati yang berpindah dari satu hati ke hati lain 😛

Oke, nangkep kan gimana caranya agar kamu gak kehilangan ide? Jangan beralasan lagi kalau ide itu sulit ditemukan. Ya bagaimana mungkin kamu menemukan ide jika keseharian hanya di dalam kamar menggalaukan soal mantan yang mutusin kamu padahal kamu masih sayang. Ah sudahlah ~

Read More, Listen More, Write More!

Keep writing, always inspiring!

Rezky Firmansyah
Founder Passion Writing
Penulis buku tersebar di 5 benua

Mau diskusi asik bahas soal Kepenulisan Passion Kepemudaan? Yuk invite 76B4BF69/085363949899 dan juga  follow @rezky_rf9

Kamu merasakan manfaat dari tulisan ini? Tulis comment dan klik tombol share di bagian kiri

 

0 thoughts on “Apa yang Dilakukan Jika Kehabisan Ide Saat Menulis? (Hari ke 4 #30DWC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *