Kedahsyatan Doa Amak, Membuat Anak Kampung Lulus IPDN

muslim-show-mother

 

Ada banyak yang bisa membuat saya bahagia. Salah satunya ketika adik-adik saya bisa lebih baik dari saya sendiri. Maksud adik disini bukan “kakak adek” dapat gede ya. Tapi adik dalam konteks lebih luas. Memang saya tidak punya adik kandung. Tapi saya punya banyak adik. Apalagi adik kelas.

Sebagian besar dari kamu pasti tahu saya dulunya sekolah dimana saat SMA. Ayo dimana? Yap SMAN Plus Propinsi Riau. Salah satu sekolah terbaik di Riau dengan fasilitas asrama dan makan minum gratis! Salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Di sini saya belajar banyak hal. Mulai dari visi, kontribusi, leadership, kebersamaan dan masih banyak lainnya “secara alami”. Ohya, saya dan alumni sekolah ini buat buku loh. Judulnya Plus! Kumpulan Tulisan Inspiratif Alumni SMAN Plus Riau Membangun Tanah Melayu. Bagi kamu yang mau baca sinopsis dan mesan bukunya bisa lihat disini >>> Buku Plus!

Back to topic mengenai adik. Di sekolah ini sistem senioritas cukup kental. Tapi di satu sisi, kami diajarkan saling menghargai dan menghormati antara kakak kelas dan adik kelas. Dan salah satu nilai yang saya dapat d isini adalah

“Adik-adik kami harus bisa lebih baik dari kami”

Nilai ini memang sulit diterapkan. Salah satu faktornya adalah gengsi dan iri hati kalau mereka bisa lebih baik dari kami. Memang tidak semua orang yang berpikiran seperti itu. Tapi kalau saja kita semua, ya bukan hanya kami tapi juga kamu, bisa lebih humble dalam hal ini, sungguh rasa kebahagiaan itu akan muncul. Contohnya saja coba lihat, banyak tokoh-tokoh inspiratif dunia dan Indonesia. Mereka pasti punya guru (bukan hanya guru sekolah), tapi guru mereka tidak seterkenal mereka. Guru mereka tidak ingin dikenal. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana murid-murid mereka bisa lebih baik dari mereka. Nah inilah persamaan nilainya.

Secara pribadi saya bangga dengan mereka. Ketika kami berusaha untuk memberikan yang terbaik dan mereka bisa menjadi lebih baik. Dan ini terbukti dengan banyaknya prestasi mereka ataupun kelulusan mereka di universitas atau sekolah tinggi. Ohya, ada topik yang menarik mengenai keajaiban syukur. Saat itu beberapa dari adik kelasku menerapkan ilmu ini dan mereka berhasil lulus di PTN yang mereka pilih. Tulisannya ada di sini.

Nah kali ini saya akan ceritakan tentang seorang adik kelas. Anggap aja namanya ocu (bukan nama sebenarnya). Saya sangat dekat dengan adik yang satu ini. Karena selain kami sama sama berasal dari Kampar, komunikasi kami di sekolah pun gak menggunakan bahasa Indonesia tapi bahasa ocu. Hal ini sudah lumrah terjadi.

Ocu termasuk anak yang gigih walaupun ekonominya tidak terlalu berlebih. Salah satu impiannya adalah masuk akademi seperti AKPOL atau IPDN. Seiring berjalannya waktu dia terus memperjuangkan ini. Tapi disuatu ketika, ayahnya meninggal dunia dan hal ini cukup membuat dia shock. Dia tetap memperjuangkan impiannya walaupun ada sesekali bisikan negatif yang mengurungkan niatnya. Bahkan dia sempat “membatalkan” impiannya dengan mendaftar di beberapa kampus dengan jurusan lain. Dia sempat memilih jurusan FK, tapi secara terang dia mengakui gak ada biaya dan dan juga tes di SBMPTN  dia gak lulus. Dia lulus di jalur lain (aku lupa nama jalurnya, yang jelas bukan jalur belakang) di Jawa. Tapi apa daya ekonominya tidak mencukupi akhirnya dia memilih kampus di Pekanbaru. Dia sempat bilang kayak gini :

“Tapi yo sebenarnyo den malu kak lulus disiko. Dibalik bersyukur dah terima tu rasonyo ada yang janggal dengan kampus ko kalau sekolah di Plus. Karena ya ndak dianggap apa apa sama adek-adek kak”

Saat pembukaan Taruna AKPOL dia sempat mengikuti tes. Tapi apa daya, tingginya kurang dan berat berlebih membuat dia gagal di tes kesehatan. Dia sebenarnya juga mengikuti tes IPDN setelah diajak oleh temannya. Memang, ada momen yang membuat dia pesimis seperti ekonomi, ditinggal ayahnya dan berbagai lainnya. Dulu saya sempat mengajak mereka untuk membuat universitas impian dan tempel di kelas biar kerasa powerful. Dan ocu pun menulis Agronomi IPB dengan tulisan kecil dibelakangnya “2014 AKPOL/IPDN” walaupun dia sadar kalau masuk sekolah seperti itu pasti ada panjarnya. Ini dia momennya!

Di hari kedua ospek kampus yang dia lulus, ocu lulus tes administrasi IPDN. Ocu pun diajak oleh temannya Jefi untuk mengikuti tes selanjutnya. Ohya, Jefi ini ketua OSIS generasi mereka. Dia sebenarnya udah lulus manajemen UNDIP tapi dia coba ikuti ini. Nah akhirnya mereka mengikuti rangkaian tes dengan baik dan Alhamdulillah Ocu, Jefi dan Fincy lulus! Ohya, Fincy ini kakak kelas mereka yang ikut tes IPDN ulang. Lalu Ocu mengatakan seperti ini :

“Kak, kato orang tuo “Diantara 100 orang terbaik pastikan kita salah satunya. Diantara 10 terbaik pastikan kita satu didalamnya. Dan ketika hanya satu-satunya yang terbaik pastikan kita satu yang terbaik”. Diantara 507 pendaftar se Riau den termasuk salah satu dari 42 yang terkirim untuk pantukhir. Dan diantara 34 peserta dari Kampar den lah yang lulus”

Mungkin sering kita dengar kalau sekolah IPDN/AKPOL/AKMIL atau sejenisnya gak mungkin bisa lulus kalo gak pake uang belakang. Saya punya banyak kenalan seperti ini. Ada yang bayar puluhan juta, ratusan juta, dan mungkin saja mencapai angka miliran. Ada yang mesti jual tanah, mobil ataupun rumah. Yang mungkin saja begitulah wajarnya. Dan saya pun iseng iseng nanya dengan dia walaupun gak secara frontal :

“Share lah macam apo bisa masuk IPDN ang”

“Share aponyo. Awak luruih-luruih ajo tesnyo. Hanya dengan kekuatan doa Amak”

SUBHANALLAH! Ini dia kedahsyatan doa Amak!

Sahabat, kita mungkin seringkali mengejar impian dengan kerja keras ataupun kerja cerdas. Bahkan ada juga yang berdoa seiya-iyanya. Tapi seringkali kita melupakan satu hal yang sangat dekat. Yaitu ibu kita. Kita jarangkali “menyelaraskan impian” kita dengan mereka. Aku maunya begini, ibu maunya begitu. Maka tidak jarang kita sering merasa stuck.

Alhamdulillah, saya selalu mencoba untuk meyelaraskan impian dengan Sang Bunda. Seperti yang kamu tahu, saya kehilangan ayah ketika kelas XII SMA, tepatnya hari pertama ujian nasional. Semenjak itu hubungan saya dengan Sang Bunda semakin dekat. Bahkan doa semakin kencang antara satu sama lain. Dan seperti inilah sekarang. Percepatan seringkali datang. Ini karena kemurahan Allah dan kedahsyatan doa Amak.

Nah sekarang, sudahkah kamu meminta doa Amak? Jika belum mintalah dan selaraskanlah!

Keep Writing, Always Inspiring!

Rezky Firmansyah
Founder Passion Writing Academy
Penulis buku tersebar di 5 benua

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *